<
SEJARAH MAHASISWA INDONESIA DALAM PUSARAN POLITIK -

SEJARAH MAHASISWA INDONESIA DALAM PUSARAN POLITIK -

      

BANDUNG, MAHASISWA INDONESIA—Pengamatan dan pengalaman empiris menunjukkan bahwa aktivitas pers mahasiswa senantiasa terkait erat dengan aktivitas pergerakan dan atau perjuangan mahasiswa dari masa ke masa. Mahasiswa yang terbina dalam kebebasan akademis, memiliki ketertarikan kepada kegiatan pers yang merupakan media penyampaian aspirasi dalam pemahaman demokratis. Sementara kalangan kekuasaan dengan kecenderungan otoriteristik memandang pers hanyalah sekedar alat penanaman opini yang efektif. Pergerakan moral mahasiswa –sebagai bagian dari kaum intelektual– maupun aktivisme pers dalam konteks demokrasi memiliki idealisme dan etika dasar yang sama, yaitu kebenaran objektif dalam pengertian universal yang dengan sendirinya juga memperjuangkan keadilan.

Dharma ketiga perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa sebagai insan akademis ada dalam konteks. Lahir dan terbentuknya IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) di tahun 1950-an banyak terkait dengan perjuangan mahasiswa untuk penegakan demokrasi. Di masa demokrasi terpimpin Soekarno, IPMI menjadi tempat persemaian aktivis pro demokrasi yang resah terhadap gejala kekuasaan yang mengarah kepada bentuk diktatorial. Pada waktu yang sama, banyak aktivis mahasiswa yang melakukan perlawanan bawah tanah terhadap kekuasaan, antara lain dengan menggunakan pamflet dan selebaran gelap yang berisi tulisan-tulisan kritis terhadap cara Soekarno menjalankan kekuasaan. Di tahun 1970-an di Bandung lahir pula BKS Pers MI (Badan Kerja Sama Pers Mahasiswa Indonesia) yang merupakan wadah kerjasama penerbitan pers mahasiswa intra maupun ekstra kampus.

Kendati pers mahasiswa juga bisa digeluti oleh beberapa mahasiswa hanya atas dasar minat dan ketertarikan kepada kegiatan jurnalistik, tetapi dalam perjalanan keterlibatan itu akan selalu tampil romantisme atas dasar idealisme seberapa kecilpun kadarnya. Paling tidak, menyalurkan aspirasi untuk mengkritisi keadaan di sekitar dalam berbagai skala. Model ini banyak kita temukan dalam bentuk penerbitan internal di fakultas-fakultas, dan atau di kalangan internal organisasi ekstra-universiter.

Model dengan skala lebih luas adalah penerbitan yang diselenggarakan untuk tingkat universitas. Kampus Universitas Padjadjaran pernah memiliki Gema Padjadjaran pada akhir tahun 1960 hingga awal 1970-an sampai menjelang meletusnya Peristiwa 15 Januari 1974. Kemudian, setelah peristiwa, ada Aspirasi. Keduanya diterbitkan di bawah naungan Dewan Mahasiswa dan atau lembaga mahasiswa internal kampus, dengan supportasi otoritas kampus.

Kampus ITB adalah contoh menarik lainnya dalam pers mahasiswa. Kampus ini sejak tahun 1960-an sebelum 1965, dan kemudian pada masa-masa sesudahnya, senantiasa memiliki lembaga-lembaga pers. Ada Berita-berita ITB pada masa pergolakan karena politisasi kampus di masa demokrasi terpimpin, yang terbagi antara kubu mahasiswa intra yang independen dengan kubu mahasiswa onderbouw kekuatan eksternal kampus seperti CGMI, GMNI, Perhimi dan sebagainya. Berita-berita ITB ini berhasil eksis dalam jangka yang amat panjang. Di ITB pernah pula ada Gelora Teknologi, Majalah Kampus, Scientiae. Selain itu, ITB memiliki Liga Film Mahasiswa yang tetap memutar film-film barat pada saat kekuatan politik kiri di masa Soekarno ramai-ramai mengganyang apa yang mereka sebut sebagai film Nekolim. ITB pun memiliki Radio ITB dan sempat ada Pemancar TV di kampus.

Sebuah kampus lainnya, Kampus UGM di Yogyakarta, juga memiliki sejarah yang cukup panjang dalam kehidupan pers mahasiswa. Sampai kini ada Lembaga Pers yang dikenal sebagai Balairung yang menerbitkan Balkon atau Balairung Koran dan Jurnal yang terbit 1-2 kali setahun dengan kumpulan tulisan tematis. Lembaga pers UGM ini lahir pada masa UGM dipimpin Rektor Prof. Dr Kusnadi Hardjasumantri. Almarhum pada masa mahasiswanya di tahun 1950-an menjadi salah satu pendiri IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) antara lain bersama Emil Salim. Kampus UGM juga memiliki SKM Bulaksumur. Setiap fakultas memiliki penerbitan mahasiswa, seperti halnya dengan Universitas Padjadjaran, ITB, Universitas Parahyangan, Universitas Indonesia dan berbagai kampus perguruan tinggi di tanah air. Universitas Indonesia juga pernah tercatat sebagai kampus dengan banyak penerbitan pers mahasiswa. Mereka pernah punya Koran Salemba. Karena pemberitaannya, koran mahasiswa itu berkali-kali menghadapi persoalan dengan kalangan kekuasaan masa Soeharto.

Namun yang paling fenomenal dalam kehidupan pers mahasiswa adalah masa pergerakan tahun 1966. Pada tahun 1966 lahir Harian KAMI di Jakarta dan Mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat di Bandung pada waktu yang hampir bersamaan. Berbeda dengan pers kampus, kedua media yang disebut di atas adalah sebuah media yang bergerak sebagai pers umum, namun diasuh oleh sumberdaya manusia yang berasal dari kampus, khususnya kalangan mahasiswa. Selain edisi Jawa Barat, lebih dulu ada Mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Pusat dan kemudian edisi Yogyakarta. Namun dua yang disebut terakhir ini justru tak berusia panjang, sehingga edisi Jawa Barat akhirnya tampil dengan nama Mingguan Mahasiswa Indonesia saja dengan posisi dan kategori pers nasional. Harian KAMI maupun Mingguan Mahasiswa Indonesia memiliki Surat Izin Terbit dari Departemen Penerangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum. Meskipun kedua media itu menyandang nama mahasiswa, media yang diasuh mahasiswa ini menjalani kehidupan pers umum. Beredar secara nasional dengan tiras yang kadangkala bisa menyamai bahkan melampaui media massa nasional yang ada masa itu.

Peneliti dari Perancis, Dr Francois Raillon dalam desertasinya menempatkan Mingguan Mahasiswa Indonesia sebagai model media pers Indonesia yang paling ideal dalam ukuran demokrasi, baik karena kualitas pemberitaan dan redaksionalnya maupun karena keberaniannya dalam pemberitaan yang tak bisa ditandingi oleh media massa lainnya kala itu. Mahasiswa Indonesia sangat menonjol dalam kepeloporannya dalam proses kejatuhan Soekarno, namun juga menjadi media pers yang berani dan kritis terhadap penyimpangan yang terjadi kemudian di masa Soeharto. Tetapi Mahasiswa Indonesia diberi oleh kalangan kekuasaan suatu akhir yang tragis. Setelah Peristiwa 15 Januari 1974 Mahasiswa Indonesia dibreidel penguasa bersamaan dengan Harian KAMI, Harian Indonesia Raya. Pada waktu yang sama beberapa media massa lainnya juga dibreidel meskipun dengan sebab dan alasan yang secara kualitatif berbeda, antara lain Harian Pedoman dan Abadi serta Majalah Ekspress.

Mahasiswa Indonesia menjadi menonjol karena keberaniannya menerbitkan berita-berita eksklusif yang bisa menimbulkan kemarahan kalangan kekuasaan. Pada waktu yang sama, ia menjadi media gagasan tentang pembaharuan kehidupan politik Indonesia, sehingga seorang akademisi asing, Indonesianis terkemuka Herbert Feith menyebutnya sebagai journal of ideas. Banyak tulisan akademisi asing yang merujuk kepada berita dan tulisan Mahasiswa Indonesia, bukan hanya karena berani dan eksklusif, melainkan yang terpenting karena akurasi berita dan ketajaman analisanya.

Di Bandung menjelang tahun 1970 sempat terbit pula semacam tabloid ‘tandingan’ bagi Mahasiswa Indonesia, yakni Mimbar Demokrasi yang pada umumnya diasuh oleh mahasiswa-mahasiswa HMI sehingga haluannya menjadi khas HMI. Media ini tidak bertahan lama, terhenti sebelum masa pemilihan umum 1971.

Adalah menarik bahwa ukuran tabloid kemudian menjadi pilihan banyak media pers yang diasuh oleh mahasiswa. Di Surabaya misalnya pernah terbit Mingguan Mahasiswa, dan di Yogya ada Sendi dan Eksponen, tetapi merupakan ciri bahwa koran yang diasuh mahasiswa dan terbit di pasar umum, kebanyakan berusia pendek, tak seperti Mahasiswa Indonesia yang terbit 1966 hingga 1974, tujuh tahun lebih. Kematiannya pun bukan karena proses alamiah, melainkan karena pemberangusan oleh kalangan kekuasaan.

Kehadiran Mahasiswa Indonesia bersinergi dengan gerakan-gerakan kritis mahasiswa antara tahun 1966 hingga 1974. Karena sejalan dengan aspirasi dan pemikiran kritis mahasiswa serta kaum intelektual pada umumnya, Mahasiswa Indonesia memiliki posisi kokoh dalam lalu lintas dan pembentukan opini yang demokratis. Sebaliknya, gagasan dan sikap kritis yang dimiliki para mahasiswa bisa sampai ke masyarakat dan terinformasikan dan memberi pengaruh ‘politik’ ke pusat-pusat kekuasaan negara dan kekuasaan politik, karena adanya peranan Mahasiswa Indonesia. Apalagi kala itu, dengan Harian Indonesia Raya sebagai pengecualian, pers Indonesia kurang memiliki keberanian menyuarakan kebenaran atau setidaknya alternatif bagi ‘kebenaran’ yang disodorkan kalangan kekuasaan dan kalangan partai politik.

Karena situasi seperti itu, Mahasiswa Indonesia, seperti dituliskan Francois Raillon berdasarkan pengamatannya, selalu dinantikan publik pada hari terbitnya menjelang akhir pekan. Pater MAW Brouwer yang menjadi pengajar filsafat di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Bandung –yang juga giat menulis di sejumlah media nasional– memberi gambaran yang sama tentang Mingguan Mahasiswa Indonesia. “Waktu tahun 1966 sampai masa Malari, orang bukan akademis di Alun-Alun Bandung suka membeli Mingguan Mahasiswa Indonesia dan senang membaca yang tidak dicetak dalam surat-surat kabar besar. Udara, air, nafkah, dan pers yang merdeka ialah empat keperluan dasar dari dunia manusia,” tulis MAW Brouwer di Harian Kompas, 2 Oktober 1982.

Ini semua terjadi, terutama bila ada peristiwa-peristiwa krusial yang sudah bisa dipastikan takkan dimuat oleh pers lainnya, dan atau setidaknya hanya diberitakan dengan cara amat sumir atau bahkan mengalami pemutarbalikan. Media yang diasuh oleh para mahasiswa ini diyakini integritasnya terhadap kebenaran dan keadilan. Tetapi sebenarnya, pers umum lainnya kala itu, khususnya pada tahun 1970-1973, kerapkali juga secara tersamar menyajikan pemberitaan yang ‘berpihak’ kepada suara kebenaran, khususnya yang disampaikan melalui gerakan mahasiswa. Sejumlah pers tertentu memberikan dukungan terhadap gerakan-gerakan kritis mahasiswa terhadap perilaku korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kesewenang-wenangan terhadap hak azasi manusia, perilaku politik menyimpang dari kalangan penguasa maupun partai dan lain sebagainya. Ini tak lain karena adanya sejumlah mahasiswa yang menjadi wartawan atau koresponden berbagai suratkabar, terutama Indonesia Raya yang selalu merekrut mahasiswa sebagai reporter dan Harian Sinar Harapan  yang memilih wartawan dari kalangan ‘eks’ aktivis pergerakan mahasiswa. Mahasiswa maupun aktivis ini di kemudian hari banyak yang pada akhirnya memiliki posisi penting di berbagai media pers.  (Disarikan dari berbagai sumber tertulis)

 

Lahir, Mati dan ‘Lahir’ Kembali Karena Kesamaan Idealisme

 

EMPAT puluh tahun setelah ‘kematian’ tragisnya di tangan rezim, pasca Peristiwa 15 Januari 1974, media generasi muda yang bernama Mingguan Mahasiswa Indonesia ini menjadi model dan sumber inspirasi sekelompok mahasiswa generasi baru di Bandung untuk menerbitkan kembali sebuah media dengan nama yang sama. Benang merah dasar idealismenya sama, yakni kebenaran dan keadilan, suatu dasar yang sama dan tak pernah berubah dalam dunia pergerakan mahasiswa dari masa ke masa.

‘Mahasiswa Indonesia’ pertama kali terbit 19 Juni 1966, di tengah-tengah meningkatnya suhu perjuangan mahasiswa di tahun 1966 untuk memperbaharui kehidupan bernegara kala itu. Mingguan Mahasiswa Indonesia –semula disebut edisi Jawa Barat– didirikan tiga aktivis mahasiswa. Mereka adalah Rahman Tolleng yang kala itu tercatat sebagai mahasiswa Sosial Politik Universitas Padjadjaran, Awan Karmawan Burhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Parahyangan dan Riyandi S lulusan Institut Teknologi Bandung. Edisi Pusat dipimpin oleh louis Taolin, namun tak berusia lama.

Dalam susunan pengasuh edisi pertama, Riyandi S dan Awan Karmawan Burhan tercantum sebagai Pemimpin Umum, sedang Rahman Tolleng tercantun sebagai Pemimpin redaksi/Penanggung Jawab. Terdapat satu nama lagi sebagai Pemimpin Umum, yakni Iwan Ramelan, yang tak lain adalah Rahman Tolleng sendiri. Nama Iwan Ramelan ini, adalah nama samaran yang sering digunakan Rahman Tolleng, saat menjadi buronan politik beberapa instansi keamanan negara, karena dianggap melakukan kegiatan-kegiatan anti Soekarno 1960-1966.

Tercantum atau tidak, dalam barisan pengasuh sebenarnya terdapat sejumlah nama aktivis mahasiswa Bandung dan Jakarta maupun kalangan pengajar muda di beberapa perguruan tinggi Bandung. Bisa disebutkan antara lain Eppy RS, Hasjroel Moechtar, Kusnaka Adimihardja, Alex Rumondor, Bonar Siagian, Tati Suhadi, Dadi Pakar, Annie Hamid, Philips Ardi Tirtariandi. Ada juga nama Mochtar Lubis, Soe-Hokgie, Yozar Anwar, Jahja Wullur, MT Zen dan Sudjoko. Berikutnya Aldy Anwar, Aswar Aly, Kustini Ibrahim, Sanento Juliman dan sejumlah karikaturis T. Sutanto, Harjadi S dan Dendi Sudiana. Di barisan pengelolaan non redaksi antara lain ada nama Hiras P. Saragih, Badrun Parenrengi. M. Radjab, Zulkarnain Arsjad, Adjan Sudjana, Mansur Tuakia dan banyak nama lainnya. Mereka semua adalah aktivis mahasiswa.

Menjadi tradisi untuk seterusnya bahwa media generasi muda ini mengalami begitu banyak keikutsertaan aktivis dari waktu ke waktu, sehingga tanpa sengaja telah menciptakan suatu jaringan sumber berita yang luas. Nama Sarwono Kusumaatmadja dan Marzuki Darusman misalnya banyak terlibat sebagai kontributor berita dan penulisan. Belum lagi keikutsertaan dalam kelompok diskusi, seperti Wimar Witoelar, Rachmat Witoelar, Erna Walinono, Zulkarnain Jusuf, Djoko Sudyatmiko, Arief Sidharta sampai kepada Prabowo Djamal Ali, Noke Kiroyan dan lain-lain.

Pada tahun 1967 bergabung A. Razak Manan, Muhammad Aid dan Rum Aly. Nama yang disebut terakhir ini, di tahun 1971 diangkat menjadi Pemimpin Redaksi menggantikan Rahman Tolleng yang terlibat dalam berbagai kesibukan di Jakarta –sebagai Pemimpin redaksi Harian Suara Karya, Anggota DPR-RI, Anggota DPP Golkar dan Ketua Periodik KAMI Pusat.

Dalam perjalanannya selama hampir 8 tahun, Mingguan Mahasiswa Indonesia, pada dasarnya menempuh tiga fase penting dalam aktivisme dan perjuangan. Pada fase pertama, setelah kelahirannya, Mahasiswa Indonesia terlibat dalam upaya menjatuhkan rezim Soekarno yang otoriter, sekaligus gerakan kontribusi pemikiran dalam konteks pembaharuan politik. Pada fase kedua, Mahasiswa Indonesia memasuki sikap kritis terhadap kekuasaan Soeharto dan ABRI, khususnya terhadap perilaku korupsi dan cara memerintah yang represif. Memang, Mahasiswa Indonesia pernah dikritik karena dukungannya yang kuat terhadap Golkar dalam Pemilihan Umum 1971. Arief Budiman misalnya sampai menyebut Mahasiswa Indonesia telah berubah dari suratkabar menjadi pamflet. Tetapi sebenarnya dukungan itu terutama karena Golkar kala itu dianggap sebagai satu-satunya kekuatan (baru) yang dianggap bisa mendorongkan pembaharuan dalam kehidupan politik Indonesia yang ideologistis. Sekaligus saat itu, sejumlah aktivis yang dekat dengan lingkaran Mahasiswa Indonesia melakukan suatu percobaan struggle from within. Namun, beberapa tahun kemudian, Rahman Tolleng mengakui bahwa taktik perjuangan itu gagal.

Sikap kritis Mahasiswa Indonesia terhadap kekuasaan kembali menonjol setelah tahun 1971. Sehingga, secara berangsur-angsur masuk ke dalam fase ketiga, yakni masa Mahasiswa Indonesia mulai dikategorikan penguasa sebagai salah satu ancaman bagi rezim kekuasaan. Ini berakhir dengan pemberangusan ganda –oleh Kopkamtib/da dan Departemen Penerangan– pada bulan Januari 1974. Mahasiswa Indonesia berakhir dengan kematian.

Terbitnya kembali Mahasiswa Indonesia di bulan Mei 2014 ini, oleh suatu kelompok generasi baru mahasiswa, mungkin bisa disebutkan sebagai dimasukinya fase keempat. Lahir kembali. Meski, hubungan yang ada antara Mahasiswa Indonesia (1966-1974) dengan Mahasiswa Indonesia 2014 hanyalah suatu benang merah kesamaan idealisme dasar gerakan mahasiswa tentang kebenaran dan keadilan.

Lahir Kembali, Mahasiswa Indonesia yang didirikan oleh seorang mahasiswa Sosial Politik Universitas Padjadjaran yang menjadi Pemimpin Umum, ialah Anry Firmansyah. Pertemuan enam bulan lalu antara Anry Firmansyah sebagai Pemimpin Umum Mahasiswa Indonesia saat ini dengan dua orang mantan pengurus Mahasiswa Indonesia, yakni dengan mantan Pendiri sekaligus Pemimpin Umum Mahasiswa Indonesia yaitu Rahman Tolleng dan mantan Pemimpin Redaksi terakhir Mahasiswa Indonesia yaitu Rum Aly. Pertemuan tersebut merupakan titik awal Anry Firmansyah meminta kepada para pendiri untuk memakai nama dan lambang Mahasiswa Indonesia yang sama. Pertemuannya dengan kedua tokoh tersebut dilandaskan dengan kesamaan idealisme dasar gerakan mahasiswa tentang kebenaran dan keadilan yang diperkuat dengan ruang-ruang diskusi sebelumnya. Hingga pada tanggal 5 Mei 2014 menjadi awal terbitnya kembali Mahasiswa Indonesia di Bandung, Jawa Barat. Gagasan lahirnya kembali Mahasiswa Indonesia karena kesamaan idealisme tentang kebenaran dan keadilan serta melihat kegelisahan akan bangsanya.

Dalam susunan pengasuh di edisi pertama bulan Mei 2014 Mahasiswa Indonesia yang saat ini memiliki beberapa pengasuh, diantaranya Erwin sebagai Pemimpin Redaksi yang tercatat mahasiswa Unversitas Komunikasi,  kemudian Faris sebagai Pemimpin Umum, Oktadiora sebagai Redaksi Pelaksana dan Staf Redaksi diantaranya Shendy mahasiswa Universitas Komunikasi, Candy, Chenia, Kurnia, dan Galih yang merupakan mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Kini, susunan kepengurusan dipimpin oleh Anry Firmasyah, selaku Pemimpin Umum, Ismyuli Tri selaku Sekretaris Umum, Calam Rahmat selaku Pemimpin Redaksi, Dendy Agustiyan selaku Pemimpin Humas, Rio Yusri M selaku Pemimpin Kajian. Adapun yang tercatat dalam staf redaksi diantaranya, Arief Rahman H, Asep Solihin, Alifarahma Januari, Djati Waluyo, Dea Damara, Dhila Nur, Agung Rusdyanto, Dani Ramdani, yang tercatat sebagai mahasiswa UIN Bandung. Hilman Dwi Putra, Desy Viani, Andy Suseno, Euis Handini, mahasiswa Unikom, Irsan Nur Anam, mahasiswa Universitas Terbuka, dan Dhika Ramdhani, mahasiswa Itenas. Adapun Humas diantaranya, Dwiki Adityawan, Yusi Aysha, Gusti Pangestu, Giri Cahya, Gia Satria, Ilafi Hijr H, mahasiswa Unikom. Dan bidang kajian diantaranya, Galuh Fauzi, Sansan Redi Taufik mahasiswa Unjani. Selain itu, banyak kontributor luar daerah yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kedepannya, Mahasiswa Indonesia akan berkembang sesuai namanya, susunan akan terdiri dari seluruh mahasiswa se-Indonesia.(Martin Yahya)


.