<
MEMAHAMI PERAN SEDERHANA MAHASISWA -

MEMAHAMI PERAN SEDERHANA MAHASISWA -

 


Oleh : Jajang Fauzi
Mahasiswa Komunikasi UIN Bandung

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Tjiandjoer (HIMAT)

 

Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada dalam masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihannya mahasiswa mampu berada sedikit diatas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, baik ormas, parpol, dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan (seharusnya) memiliki sebuah idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.Berdasarkanpada berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki mahasiswa ini.

Tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Seorang mahasiswa bukan lagi siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri dilingkungan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dirumuskan peran, fungsi, dan possisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.

 

Peran mahasiswa sebagai Iron stock

Mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlakmulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan serta menjadi harapan bangsa dimasa yang akan datang. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua kepada golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan secara terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum yang bagus dan saying bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Dalam konsep Islam, peran pemuda sebagai pengganti tersirat dalam Qur’an Surah Al-Maidah ayat 54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karaktermencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir.

Sejarah telah membuktikan bahwa ditangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, sampai reformasi, pemudalah yang menjadi garda terdepan perubah kondisi bangsa. Lantas sekarang apa yang bias kita lakukan dalam rangka memenuhi Iron stock tersebut ? jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya. Lalu kenapa? Bukan Golden Stock saja, jelas lebih bagus dan mahal kan?

Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu yang lama, sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.

 

Mahasiswa sebagai “Guardian Of Value

Mahasiswa sebagai Guardian Of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, kita harus melihat mahasiswa sebagai insane akademis yang selalu berfikirilmiah dalam mencari suatu kebenaran. Kita harus memulainya dari salah satu hal tersebut, karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa berkewajiban menjaganya.

Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar-benar mutlak dan tidak ada keraguan lagi didalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.

Selain nilai yang diatas, masih ada satu nilai lagi yangmemenuhi criteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, dan nilai tersebut adalah nini-nilai kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebutmerupakan representasi dari kebesaran dan keeksistensian Allah SWT sebagai dzat yang maha mengetahui. Kita sebagai manusia harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan serta menjaganya di masyarakat.

Pemikiran tentang Guardian Of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya, atau juga menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus dijaga oleh mahsiswa? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan watakilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa? Oleh karena itu Saya berpendapat bahwa Guardian Of Value adalah penyampai dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebutdiperoleh berdasarkan watak ilmu yang diniliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebenaran ilmiah.

. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, kita harus melihat mahasiswa sebagai insane akademis yang selalu berfikirilmiah dalam mencari suatu kebenaran. Kita harus memulainya dari salah satu hal tersebut, karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa berkewajiban menjaganya.

Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar-benar mutlak dan tidak ada keraguan lagi didalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.

Selain nilai yang diatas, masih ada satu nilai lagi yangmemenuhi criteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, dan nilai tersebut adalah nini-nilai kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebutmerupakan representasi dari kebesaran dan keeksistensian Allah SWT sebagai dzat yang maha mengetahui. Kita sebagai manusia harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan serta menjaganya di masyarakat.

Pemikiran tentang Guardian Of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya, atau juga menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus dijaga oleh mahsiswa? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan watakilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa? Oleh karena itu Saya berpendapat bahwa Guardian Of Value adalah penyampai dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebutdiperoleh berdasarkan watak ilmu yang diniliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebenaran ilmiah.

Penjelasan Guardian Of Value hanya sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada memiliki kelemahan juga, yaitu bilamana terjadi sebuah pergeseran nilai, dan nilai yang telah bergeser tersebut sudah terlanjur menjadi sebuah parameter kebaikan dimasyarakat, maka kita akan kesulitan dalam memandang arti kebenaran nilai itu sendiri. Seperti halnya ketika sebuah pemerintahan di deaerah yang terkenal di sektor agrarianya harus bergeser menjadi industri, disatu sisi itu berlawanan dengan ilmu tata ruang kota, kemudian disisi yang lain mahasiswa dan orang-orang yang tahu dampak dari hal tersebut kesulitan untuk mencegahnya, sudah jelas ketika harus menentang kepada pemerintah namun yang lebih sulit adalah ketika harus berhadapan dengan masyarakat sekitar yang sudah termakan oleh apology pemerintah dan para tokoh setempat. Karena bagi masyarakat awam ketika ada industry di daerahnya maka keluarga dan orang sekitar akan mudah mendapat pekerjaan, tanpa melihat dampak dari pembangunan tersebut yang limbahnya mencemari rumah-ruamh mereka.

 

Mahasiswa Sebagai Agent of change

Ketika mendengar mahasiswa sebagai agent of change, sedah jelas artinya bahwa mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Lalu kini masalah kembali muncul ketika sebuah pertanyaan terlontar “kenapa harus ada perubahan? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita pandang kondisi bangsa saat ini yang jauh sekali dari kondisi ideal sebuah bangsa, dimana banyak sekali penyakit-penyakit yang menghinggapi hati bangsa ini. Dimulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawahdantunya tertular pula kepda rakyatnya. Sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk melakukan sesuatu terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya kenapa kita hrus melakukan perubahan? jawabannya adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita diam. Karena sesuatu yang abadi itu adalah sebuah perubahan, tentunya kita fahami yang namanya perubahan pasti kearah yang positif serta tidak mungkin perubahan diidentikan dengan sesuatu yang negatif.

Ketika kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun bias saja perubahan ang terjadi berbeda dengan ideologi yang kita anut serta kita anggap benar.

Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Aloh SWT. Berdasarkan Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11, di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Alloh tidak akan merubah suatu kaum ketika kaum itu sendiri tidak mau berubah. Dalam artian bahwa perubahan tersebut dimulai dari diri sendiri, ketika suatu Negara ingin maju maka bangsanya harus berubah sehingga bukan sesuatu yang mustahil untuk menjadi Negara yang maju, adil dan makmur. Lalu berdasarkan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung. Sedangkan bagi orang yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya sebuah perubahan bagi kehidupan kita.

Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan, dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang ekslusif, hanya beberapa persen saja dari pemuda yang bias menandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bias dihitung beberapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa bagi bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan kearah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.

Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan yang pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat materialistic seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feudal, mesin industry akan menciptakan masyarakat kapitalis, internet akan menciptakan masyarakat yang informatifi dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya mengatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai factor yang mempengaruhi perubahan, sebagai mahasiswa nampaknya kita harus mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahanyang diharapkan. Itu semua karena kita semua berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut juga harus membuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup yang kecil yaitu diri sendiri, lalu akan menyebar terus hingga akhirnya sampai kepada ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa dan Negara ini.

Mahasiswa Sebagai Agent Of Balance

Dari kata mahasiswa sebagai agent of balance tersebut sudahlah jelas bahwa mahasiswa harus bisa menjadi agen penyeimbang dalam sebuah Negara. Kenapa mahasiswa harus menjadi agen penyeimbang, karena mahasiswa adalah bagian dari elit masyarakat yang bisa menjaga keseimbangan Negara dengan disiplin ilmunya masing-masing, karena tidak mungkin seorang buruh akan berfikir banyak dan mendetail tentang Negara, bagi mereka mendapatkan rezeki untuk biaya sehari-hari saja itu sudah cukup. Karena pola pikir masyarakat awam sangat sederhana seperti halnya buruh tadi, maka yang akan sampai pada ranah tersebut adalah pola pikir mahasiswalah yang akan menjadi harapan bagi bangsa ini.

 

Mahasiswa Sebagai Social Control

Hari ini korupsi semakin memprihatinkan, hokum bisa dibeli, biaya pendidikan yang mahal, serta berbagai persoalan lainnya. Tentu hal ini tidak akan dirasakan bagi mereka yang berkantong tebal, akan tetapi golongan menengah kebawahlah yang akan merasakannya. Inilah mengapa para mahasiswa harus bertindak dan berperan aktif dengan ilmu dan kemampuan yang didapat dari kampus ataupun di organisasi.

Peran mahasiswa sebagai Social Control terjadi ketika ada hal yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat. Sudah menjadi naluri dan keharusan bagi mahasiswa memberontak pada birokrasi yang korup, hukum yang tidak adil, dan ketidak sesuaian dalam pengeloalaan Negara. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan bangsa ini. ada mahasiswa yang acuh saja terhadap realitas yang terjadi, kemudian ada juga yang hanya mengkritik tanpa memberi saran, serta ada pula yang respon nya cepat sampai pada tataran aksi untuk melawan penyimpangan birokrasi tersebut. Dan mahasiswa yang aktif ttersebut harus bisa menularkan kepedulian sosialnya kepada mahasiswa lain yang belum tersadarkan. Salah satu caranya adalah dengan membuat diskusi-diskusi kecil dengan mahasiswa lain, sehingga mereka akan tersadarkan bahwa masyarakat membutuhkan kehadiran para mahasiswa yang bisa menjadi penyambung lidah rakyat pada birokrasi.

 

Kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.

Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa.

Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara. Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa didalamnya.

 


.