<
HARI ANAK CERMIN MORAL PENERUS BANGSA -

HARI ANAK CERMIN MORAL PENERUS BANGSA -

      


Menurut UU No. 35 tahun 2014 “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

 

Benarkah Indonesia tengah mengalami degradasi moral(?)

Entah hanya pertanyaan atau sudah menjadi pernyataan. Di era milenial ini, anak menjadi korban kerasnya kehidupan yang semu dengan hanya ditemani suguhan dunia maya dan kurangnya perhatian dari orang tua.

Hari anak Nasional maupun Internasional menjadi suatu ajang dimana para aktivis dan jajaran pemerintah mengingat kembali pentingnya menjaga generasi bangsa, setelah sekian lama terlupakan oleh persoalan politik dan kekuasaan semata.

Tanggal 23 Juli merupakan Hari Anak Nasional, tahun ini puncak peringatan Hari Anak Nasional digelar di kota Pekanbaru, Riau. Pekanbaru menjadi tuan rumah atas gelaran Hari Anak Nasional tahun ini. Alasannya kasus kekerasan terhadap anak yang masih terbilang tinggi di Pekanbaru, serta keinginan Presiden yang menginginkan tidak semua kegiatan harus berpusat di Ibukota.

Mengusung tema “Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga”’ dengan pesan khusus ‘Saya Anak Indonesia, Saya Gembira’. Tidak hanya di Pekanbaru, namun di beberapa tempat lainnya di Indonesia pun turut memperingati Hari Anak Nasional ini. Masih dengan fokus masalah yang sama yaitu pemenuhan hak-hak anak.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menyampaikan, Tema dari keluarga diambil karena akhir-akhir ini marak kekerasan pada anak juga berasal dari keluarga.

“Kita fokuskan agar keluarga memberikan perhatian terhadap anak. Karena keluarga adalah unit terkecil sebagai tolak ukur kesejahteraan dan keharmonisan di negara kita,” kata Yohana.

Berbanding terbalik dari yang dikatakan Yohana, laman Jurnal Bandung justru menyebutkan bahwa kekerasan pada perempuan dan anak saat ini menjadi hidden crime. Ironisnya, 90 persen pelakunya adalah orang terdekat, bahkan keluarga korban sendiri.

Tahun 2016, KPAI menerima pengaduan masyarakat terkait pelanggaran hak anak mencapai 3.581 kasus. Kasus tertinggi anak berhadapan dengan hukum (ABH) mencapai 1.002, disusul kasus keluarga dan pengasuhan alternatif mencapai 702 kasus, kejahatan anak berbasis siber (cyber crime) 414 kasus, selanjutnya kasus pelanggaran anak dalam pendidikan berjumlah 328 kasus.

Ada hal yang berbeda antara kasus anak tahun 2015 dengan tahun 2016. Terjadi pergeseran dominasi kasus berdasarkan pengelompokan jenis pelanggarannya. Tahun 2015 kasus anak di bidang pendidikan menempati urutan ketiga setelah kasus bidang ABH, keluarga, dan pengasuhan alternatif. Namun tahun 2016, kasus kejahatan berbasis siber (pornografi dan cyber crime) menempati urutan ketiga, baru pendidikan.

Data dari laman kumparan.com menyebutkan bahwa terdapat sedikitnya 8.3 juta pelajar Indonesia yang menjadi pengguna internet. Meskipun secara jumlah pengguna internet golongan pelajar masih kalah dengan pekerja, penetrasi internet terhadap usia muda tumbuh pesat hingga 75 persen. Tingkat pertumbuhan pengguan internet usia muda ini berkorelasi positif terhadap peningkatan kasus anak di dunia maya.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi justru membuat layaknya tak ada batasan di dunia ini, terlebih untuk negara berkembang seperti Indonesia yang belum bisa sepenuhnya mengontrol perkembangan teknologi yang begitu signifikan. Hal tersebut menjadikan kasus ABH  semakin meningkat. Secara sederhana ABH adalah anak yang memiliki konflik dengan hukum baik sebagai pelaku, korban maupun saksi.

Walaupun pada kenyataannya lembaga-lembaga yang memang memiliki konsen tinggi terhadap anak mengupayakan anak tidak menyentuh ruang sidang, yakni dengan mengajukan diversi. Pemerintah saat ini sudah mulai berbenah dengan mulai bermunculannya kota/kabupaten layak anak dengan salah satu indikatornya memiliki ruang sidang ramah anak. Kebijakan tertuang dalam UU No. 11 tentang Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Sampai pada juli tahun 2017 ini ditjenpas melalui ditjenpas.go.id mencatat ada 4100 pelaporan kasus anak di seluruh kanwil yang berada di wilayah Indonesia. Data menunjukkan bahwa sumbangan terbesar berasal dari kanwil jawa barat, dimana kasus anak yang sudah dipidanakan mencapai 2,079. Selain itu jumlah aduan yang kerap didapatkan oleh KPAI juga bertambah setiap tahunnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), seperti yang diamanatkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juga bertugas menerima pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan perlindungan anak. Melalui Bidang Data dan Pengaduan yang dibentuk oleh KPAI, berbagai macam kasus–kasus perlindungan anak terus mengalir datang dan diadukan kepada KPAI. Kasus terhadap anak dapat diakses melalui bankdata.kpai.go.id

Menurut Hari Harjanto Setiawan dari jurnalnya yang berjudul Peran Dan Fungsi Pekerja Sosial Sebagai Seorang Pendamping Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Huku, Pergaulan sehari-hari dalam satu sel yang sama dengan tahanan/nara pidana dewasa (yang umumnya melakukan tindak kriminal kelas atas seperti pembunuhan, penjualan obat-obatan terlarang, perkosaan dan lain-lain) secara psikologis dapat mengubah kepribadian dan pola pikir anak.

Misalnya, anak-anak yang masuk penjara karena mencuri ayam, setelah bergaul selama berbulan-bulan dengan teman satu selnya dalam penjara yang terlibat kasus pengedaran obat-obatan terlarang. Bukan tidak mungkin, bila pada akhirnya anak ini pun menjadi pengedar narkoba saat keluar dari penjara.

Interaksi yang intens dengan narapidana dewasa inilah anak-anak memperoleh pelajaran informal untuk melakukan tindak kejahatan lainnya. Sehingga pada akhirnya anak ini bisa menjadi penjahat yang lebih mahir daripada sebelumnya. Setelah anak keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, anak diasingkan oleh lingkungan sosial, lingkungan bermain dan lingkungan keluarganya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan anak merasa sangat terasing dan terbuang dari lingkungan sosialnya. Kondisi demikian merupakan hal sulit bagi anak yang berkonflik dengan hukum dan lebih sulit lagi ketika anak harus menghadapi situasi baru yang lebih menyeramkan dan menakutkan tanpa ada perlindungan atas ketenangan batinnya. Ia harus berada didalam kamar yang dibatasi oleh tembok-tembok tertutup rapat dan diberi pintu jeruji besi (berbeda dengan kamar aslinya dirumah yang mudah berhubungan dengan anggota keluarga lainnya secara bebas). Kondisi yang demikian adalah kondisi yang jauh dari terpenuhinya hak-hak yang dimiliki oleh seorang anak (KHA).

Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh dan komprehensif, negara, pemerintah dan masyarakat berkewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan azas: Non diskriminasi, Kepentingan yang terbaik bagi anak, Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak.

 

Kesejahteraan anak seperti apa yang seharusnya terpenuhi di era modern seperti saat ini? Mungkin itu yang terlintas di pikiran kita, jika sarana dan prasarana saja dapat dikatakan malah memperkeruh kondisi moral bangsa.

 

Menurut penuturan dari salah satu mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial Sekolah Tinggi Kedinasan Sosial (STKS) Bandung, Ksatria R. Dewa, keluarga harus memberikan kenyamanan pada anak, perhatian penuh dari keluarga bisa mengatasi berbagai permasalahan yang dialami oleh anak, apalagi jika dikaitkan dengan kasus ABH yang semakin meningkat.

 

Selain dari kekerasan dan eksploitasi terhadap anak, satu hal yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua yaitu perkembangan mental anak bangsa yang semakin sini semakin mengalami penurunan. Perkembangan mental anak bangsa juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dan tidak bisa dikesampingkan kasusnya.

Selain dari maraknya bullying dan hate speech di dunia maya, degradasi moral anak bangsa juga ditunjukan dengan bermunculan hal-hal berbau negative di Internet yang menyeret anak yang masih dibawah umur yang dapat dengan mudahnya diakses dalam jalur seluncur dunia maya. Terkadang hal yang disebutkan diatas menutupi prestasi-prestasi anak bangsa yang tak kalah cemerlang.

Prestasi anak bangsa yang tak kalah dengan bangsa asing seperti yang diberitakan di media bahwa Indonesia membawa dua emas pada Olimpiade Fisika, juga keramahan sosok Presiden Indonesia yang mencoba atraksi sulap untuk menghadirkan tawa di tengah peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru kala itu. Tidak dapat menutup kekecewaan para pendahulu kita yang telah mengorbankan tetesan darah terakhirnya demi melihat bangsanya utuh dengan moral Pancasila.

Melihat bangsanya yang lambat laun rusak oleh hegemoni asing juga nilai Pancasila yang pudar oleh paham radikalisme. Melihat kasus-kasus yang terjadi pada bangsa ini, harus bagaimanakah kita sebagai pemuda bangsa yang di banggakan Bung Karno kala itu? Ya, hanya duduk dan melanjutkan tulisan yang tak kunjung berakhir pada titik.  (Nabilla Azahra)

 

~SEMOGA IBU PERTIWI MEMAAFKAN KITA~


.