<
Nalar HMI, Nalar Perubahan Sosial -

Nalar HMI, Nalar Perubahan Sosial -

 


Memperingati Milad HMI yang ke-71 ini tentu banyak yang harus kita evaluasi atau sebuah refleksi dalam menjawab sebuah problematika yang ada, dengan segala sesuatu perjalanan HMI yang sudah terlewati dalam segala zamannya. Baik dinamika yang telah terlewati pada Zaman Orde lama, Orde baru , Reformasi bahkan tantangan era milenial hari ini. Berbagai fase dan tantangan yang dilewati kader HMI dari masa ke masa, baik dari masa kebangkitan atau dari fase Konsolidasi Spritual hingga fasehari ini. HMI mampu melewati berbagai tantangan dan terus mencetak kader-kader yang berkualitas, baik yang mapan secara politik maupun ideologis.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) salah satu organisasi tertua di Indonesia yang lahir pada tahun 1947 dengan misi keummatan dan kebangsaan. Dua misi inilah yang mengantarkan HMI eksis dan memiliki banyak sumbangsi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). HMI juga merupakan organisasi perjuangan sehingga Jerndral Sudirman pernah menghargai HMI dengan beranggapan bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam.
HMI sendiri sebagai salah satu organisasi kepemudaan di Indonesia, sudah sepantasnya selalu ada didepan untuk berkontribusi dalam setiap masalah yang dihadapi ummat dan bangsa dari dahulu hingga nanti. Keislaman dan kebangsaan adalah Ruh Perjuangan dari HMI.
Namun dalam seiring waktu berjalan, kritik yang harus dilontarkan serta aspirasi dalam membangun Himpunan ini selalu pasti ada, Salah satu ”Sejarahwan HMI” yaitu Prof. DR. H. Agussalim Sitompul menuliskan sebuah kritik bagi HMI dalam sebuah buku yang berjudul ”44 Indikator Kemunduran HMI” beberapa diantaranya adalah :
1. Menurunnya sikap kritis, aktif dan progresif, hingga menjadi pasif, Bagaimana tidak, jika HMI saat ini sering turun aksi hanya untuk mempertahankan eksistensi tanpa ada sikap kritis mendasar kepada pemerintah dan pihak terkait yang didukung dengan kajian komperhensif dan objektif. Sering kita jumpai HMI turun aksi tanpa pernah mengkaji, seolah menjadi latah dengan kondisi yang berkembang.
2. Perpecahan dalam tubuh HMI, munculnya HMI MPO, Perpecahan internal pada tahun 80an ini menjadi awal rapuhnya internal organisasi HMI. Bagaimana begitu banyak energi dan perhatian tertuju untuk mencoba menyelesaikan perpecahan yang hingga kini masih terjadi. Sehingga pola perkaderan menjadi korban yang dianak-tirikan.
3. Praktek keagamaan lebih condong ke kognitif (pengetahuan) daripada afektif (sikap). Pemikiran lebih ditekankan daripada qalbu. Berkurangnya gairah keislaman berpengaruh pada praktek keagamaan di HMI, dimana karena kurangnya pendalaman Al-Qur’an & Hadist sehingga sering mengedepankan akal dan logika. Hal ini tentu menjadi penyakit kronis bagi sebuah organisasi yang bernafaskan Islam, apakah sudah kehilangan nafas?
4. Tidak bisa melakukan pembaharuan di bidang perkaderan Pola perkaderan yang ada saat ini adalah ”warisan” dari para pendahulu HMI di era 80an sebelum perpecahan terjadi. Tidak banyak perubahan dalam pola perkaderan, bahkan sudah bisa ditiru dan dikembangkan oleh organisasi lain sehingga HMI sebagai organisasi kader mulai kehilangan pamornya dalam bidang perkaderan.
5. Tradisi intelektual bergeser kepada pendekatan struktural jabatan organisasi. Para pendahulu HMI besar namanya dan menjadi Tokoh Nasional karena pemikiran dan ide-idenya, namun kader HMI kini lebih condong membesarkan namanya melalui jabatan-jabatan dalam organisasi. Sehingga sering kita temui persaingan tidak sehat dalam pemilihan formateur mulai dari tingkat komisariat hingga pengurus besar.
6. Independensi kader yang mulai tereduksi dan condong ke partisan, Tidak sedikit kader yang mulai tidak independen dan condong mendukung salah satu kekuatan politik. Hal ini mungkin sudah sering kita temui, dimana anggota yang belum purna tugas di HMI, namun kedapatan mendukung caleg, capres, atau partai tertentu. Hal ini tentunya menjadi suatu ironi bagi organisasi independen seperti HMI.
7. Tidak lagi menjadi organisasi prestisius sarat prestasi Dengan berkembangnya organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya, maka HMI dihadapkan pada persaingan untuk menggaet kader dari mahasiswa-mahasiswa di universitas. Dan menurunnya pamor HMI juga menjadikan HMI bukan lagi organisasi prestisius dimata mahasiswa, apalagi tidak diimbangi dengan prestasi. Nama HMI semakin tidak bersinar.
8. Kehilangan peran dan eksistensi di mata masyarakat Sebegitu seringnya HMI sibuk dengan urusan ”dalam negeri”nya sendiri, sehingga menyedot banyak energi dan perhatian kadernya. Hal ini berakibat pada peran dan eksistensi di tengah-tengah masyarakat mulai berkurang dan kurang terasa.
9. Perilaku buruk beberapa kader dan alumni HMI memperburuk citra HMI. Perilaku buruk yang tidak mencerminkan ajaran islam dari kader ataupun alumni sedikit banyak menambah buruk citra HMI dimata mahasiswa dan masyarakat umum. Hal ini semakin menunjukkan ada yang tidak beres dalam proses perkaderan HMI.
Dalam tema penulisan kali ini adalah bagaiamana menjawab suatu permasalahan yang ada,dengan menuliskan Nalar HMI, Nalar perubahan Sosial.
Nalar yang dimaksudkan disini adalah suatu kesadaran dalam setiap melangkah dan beraktivitas, apalagi berbicara Nalar HMI, yakni nalar yang memang menunjukan untuk selalu dan terus mengumandangkan perubahan social. Perubahan sosial dimaknai adalah perubahan yang memang terasa bukan untuk suatu person saja akan tetapi lebih kepada nilai komunal (Masyarakat itu sendiri).Untuk itu perlu adanya solusi yang mampu untuk menguraikan permasalahan yang bersifat majemuk, berikut suatu paparan gagasan HMI dalam ranah perubahan sosial untuk umat dan bangsa :
1. Menjadi Himpunan yang selalu mengedepankan semangat Ke-Islaman dan Ke-Indonesia-an
2. Selalu tanggap dalam persoalan HAM, Ketidak adilan Hukum, Ekonomi, dan bahkan Persoalan Pluralitas kemajemukan bangsa serta melindungi minoritas dalam bingkai Ke-bhinekaan negeri kita ini.
3. Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan segala keanekaragaman suku, agama dan budaya.
4. Menegakkan dan menyebarkan ajaran Islam dengan sepenuh-penuhnya berdasarkan Al-Quran dan Hadits menjadi garda terdepan dalam menjaga wibawa dan kehormatan alim ulama sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.
5. Menegakkan hukum yang berkeadilan dan menolak pelaksanaan hukum yang diskriminatif terhadap masyarakat Indonesia.
6. Melindungi pemanfaatan sumberdaya alam Indonesia, menolak segala bentuk eksploitasi yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
7. Membangun sumberdaya manusia yang berakhlakul karimah, kompetitif dan berdaya saing global.
8. Membangun system perekonomian yang berpihak terhadap seluruh rakyat Indonesia.
9. Mengembangkan industry dalam negeri, berupaya mewujudkan Indonesia sebagai lumbung energy dan lumbung pangan dunia. Serta menolak masuknya imigran asing yang dapat mengancam kesempatan kerja rakyat Indonesia.
10.Menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang berkeadilan, menolak liberalisasi dan politik dinasti.
Nilai Independensi yang melandasi HMI dalam berjuang yang hanya berpihak terhadap kebenaran itulah yang membuat HMI tetap hidup hingga saat ini. Hanya saja pertanyaannya apakah nafas Independensi tersebut masih menjadi nafas bagi segenap kader pada saat ini? itulah yang masih menjadi tanda tanya besar, yang perlu dijawab oleh segenap lapisan kader HMI di seluruh penjuru tanah air.
HMI saat ini memasuki Era Globalisasi dengan perkembangan-perkembangan yang semakin berkembang dari hari kehari. Jika melihat fenomena ini patutlah kita berfikir bahwa Perjuangan Kader dalam memperjuangkan kebenaran saat ini bukan lagi melalui Senjata pada masa awal kemerdekaan ataupun hanya terpaku pada gerakan-gerakan demonstratif yang di gaungkan pada masa lampau .
Pemikiran terhadap alat perjuangan “baru” di era saat ini hendaknya menjadi sebuah bahan untuk didiskusikan oleh segenap kader HMI pada setiap tingkatan sehingga formulasi yang dihasilkan dalam gerakan kedepan nantinya dapat sesuai dengan zaman yang di lalui. Sudah saatnya kita bangkit dan memulai Gerakan ini dengan penuh kesadaran. Bersama-sama kita berjuang dalam mewujudkan masyarakat Adil Makmur yang di Ridhoi Allah SWT.

(ditulis oleh Paisal Anwari : Kabid PAO HMI CABANG CIANJUR )


.