<

Jam Malam Kampus, Rusak Daya Kritis Mahasiswa

      


Bandung, Mahasiswa Indonesia – Dunia kampus adalah dunia yang syarat akan romantisme dan perjuangan. Menggembar-gemborkan pembebasan tanpa lupa akan pemenuhan hasrat cinta kasih baik ke teman, orang tua, dosen, ataupun kekasih (dalam makna sebenarnya) itu sendiri. Tak ketinggalan, dunia kampus juga menjadi ajang bertemunya ide-ide, gagasan-gagasan yang selalu dan terus menerus berdialektika sepanjang waktu. Tak ayal dalam beberapa literatur berbahasa kontingental, sekolah dapat berarti “aliran pemmikiran”. Sebut saja sekolah Durkheim yang sempat menjadi babonnya aliran sosiologi pada masanya atau yang masuk kategori kontemporer misalnya, Sekolah Frankfurt yang merupakan paguyuban ilmiah para pengusung Mazhab Frankfurt, Sekolah Wina yang merupakan paguyuban para pakar psikologi rintisan Alfred Adler (Roem Topatimasang, Sekolah Itu Candu, 1998).

Sejalan dengan hal tersebut, kampus identik dengan kebebasan berpendapat, toh itu yang diharapkan oleh pendidik, memberikan kebebasan untuk berkreasi bukan? Tak jarang mahasiswa banyak mengeluarkan ide – ide dan gagasan yang unik dan menarik. Ini juga yang membedakan siswa dan mahasiswa. Pola pikir yang berbeda muncul bukan karena statusnya yang beda, namun karena faktor yang menyentuhnya berbeda. Siswa pada umumnya harus mengikuti aturan yang dibuat sekolahnya, aturan klasikal yang buntutnya terdapat perjenjangan kelas seperti yang dicetuskan Johann Heinrich Pestalozzi, seorang reformer pendidikan asal Swiss (Jedan Dieter, Theory and Practice: Johann Heinrich Pestalozzi, 1990). Sementara itu untuk mahasiswa, walaupun relatif sama perihal aturannya, akan tetapi cenderung lebih fleksibel dan biasanya bukan harus mengikuti aturan, akan tetapi etika yang harus diperhatikan. Tentu terdapat perbedaan self consciousness diantara keduanya.

Bila memang mahasiswa diharapkan dapat mengeluarkan ide dan gagasan yang baru dan unik, harus didukung juga dengan fasilitas yang dapat mendorong kemampuan berpikir. Ruang dan waktu pun jadi modal utama bagi mahasiswa untuk mencairkan pikirannya. Sehingga dari semua itu didapatkan proses pembelajaran yang mengutamakan pengalaman pribadi yang uni (experiential learning) ala Dewey, kampus nantinya akan memberikan ruang bagi antisipasi, integrasi dan kontinuitas pengalaman individu (ezperienza in forma evolutiva) atas keterbukaan pengalamannya di masa depan (John Dewey, Democrazia ed Educazione, 2000).

Cerita – cerita tentang menjadi mahasiswa yang dulu sering saya dengar juga cukup unik. Katanya dulu mahasiswa sangat bebas di kampus, berkreasi bagaimana pun boleh. Sampai – sampai mahasiswa jarang mandi karena kampus sudah menjadi rumahnya, jadi jarang pulang ke rumah asli atau kosannya. Pernah dengar lagu kampusku rumahku? Romantisme masa lalu kah?

Ada juga dulu yang katanya saking bebasnya, mahasiswa pernah jail ke pihak keamanan di luar kampus kemudian dikejar oleh pihak keamanan tersebut, namun karena sudah masuk wilayah kampus, pihak keamanan tersebut pun berhenti karena tak berani masuk ke wilayah bebasnya para mahasiswa.

Sekarang nampaknya cerita – cerita itu jarang muncul, bahkan hanya menjadi bumbu penyedap pergerakan mahasiswa sekarang. Salah satu yang memicu hal tersebut adalah karena ada pembatasan jam malam kampus. Hal ini memang katanya untuk melakukan penjagaan keamanan. Seperti yang terjadi di Telkom University, Bandung. Menurut salah satu mahasiswa Telkom berinisial AP, di Telkom paling malam beraktivitas sampai jam 11, lewat dari jam tersebut gerbang pun digembok sehingga mahasiswa yang telat keluar kampus akan terkunci sampai pagi. Itu juga nantinya kena omel. AP mengatakan hal itu dilakukan untuk kepentingan keamanan. Pasalnya sering terjadi pencurian motor sampai fenomena begal. Bahkan berita duka baru – baru ini datang dari Telkom yang mahasiswanya terbunuh ditusuk dan dibegal.

Baca Juga: mahasiswa telkom university tewas ditusuk

Beda lagi dengan yang terjadi di Universitas Brawijaya, Malang. Menurut seorang mahasiswa berinisial DR, sampai tahun 2014 belum ada pembatasan jam malam. Bahkan ada tempat semacam kantin pusat universitas di sana yang disebut CL (Citra Land), yang sering menjadi tempat diskusi mahasiswa. Sedangkan sekarang sekitar pukul 10 sampai 11 malam semua lampu gedung dan lampu jalan sudah dimatikan dan mahasiswa diusir dari kampus sehingga membatasi ruang kreatifitas dan daya kritis mahasiswa karena ruangnya dikikis. Bahkan CL pun sudah tutup pada pukul 7 malam. Menurut DR ini juga mengakibatkan mahasiswa sekarang lebih tumpul dibanding mahasiswa tahun – tahun sebelumnya.

Di Universitas Padjadjaran, Bandung juga terdapat pembatasan jam malam. Mahasiswa tidak diizinkan menggunakan fasilitas kampus lebih dari jam 8 malam. Hal ini juga menjadi kontroversial mengingat sebelum – sebelumnya kegiatan mahasiswa di kampus bisa sampai pagi karena diskusi atau sekedar kumpul – kumpul. Dampaknya juga sama seperti yang disampaikan DR, terjadi penumpulan daya nalar mahasiswa karena ruang diskusinya dibatasi.

Kalau hal ini dilakukan untuk masalah keamanan, lantas apa gunanya petugas keamanan di kampus? Lagi pula mahasiswa sudah dewasa, sudah bisa bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, kalau dibatas – batasi seperti ini artinya mahasiswa juga tidak dipercaya dapat menjadi seorang intelektual yang bebas.

Lantas apa gunanya Jogn Comenius menelurkan magnum opus-nya Didactia Magma, yang kemudian dianggap sebagai fons et origo-nya ilmu pendidikan (teori pengajaran) modern (Daniel Murphy, Comenius: A Critical Reassessment of this Life andd Works, 1995). Gagasannya yang ingin melembagakan pola dan proses pengasuhan anak-anak secara sistematis dan metodis, terutama karena kenyataan yang mensyaratkan adanya keragaman latar belakang dan proses perkembangan anak-anak asuhan tersebut untuk memerlukan penanganan khusus.

Hasrat mahasiswa untuk berpikir kritis seharusnya didorong dengan memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengeluarkan kreatifitasnya. Pengekangan seperti ini bukan hanya mengikis kebebasan mahasiswa, tapi juga mengikis esensinya sebagai mahasiswa. Selama tujuannya baik dan dapat dipertanggungjawabkan, mengapa harus dibatasi? Nanti mahasiswa lagi yang disalahkan kalau mereka kurang kritis, padahal kampus juga tak memfasilitasi itu. Saat awal melewati tahap penerimaan mahasiswa baru saja banyak dosen – dosen yang memberikan doktrin bahwa mahasiswa harus aktif berorganisasi, bukan hanya belajar di kelas. Tapi saat mahasiswa ingin aktif dan berorganisasi, ruang dan kesempatannya dibatasi. Kampus seakan – akan membuat paradoks untuk mahasiswa, gerak ke sini salah, gerak ke sana salah. Sebuah keniscayaan jika tidak mengambil suatu stage pada dimensi futuris, yaitu bahwa individu yang dididik sekarang ini akan menjadi anggota warga masyarakat di masa depan (Choirul Muttaqin, Seruput Filsafat Sebelum Kiamat, 2017).

Jam malam kampus sebaiknya ditinjau kembali, apakah perlu atau tidak. Kalau memang keamanan yang jadi permasalahan, pertanyakan kembali tugas dan fungsi Satuan Pengamanan di kampus. Jika tidak ada gunanya, bahkan justru memberikan dampak buruk bagi mahasiswa, harusnya memang tak perlu aturan seperti itu ada dari awal. (MLI)

.

KONTAK REDAKSI MAHASISWA INDONESIA:

Ruko Paskal Hyper Square Blok C29 lantai 2-3

JL. Pasir kaliki NO. 25-27, Bandung

© 2018 Oleh PT Media Abhiseva Indonesia

SOSIAL MEDIA:

Official Account Line: @mahasiswa.co.id

Instagram : mahasiswa.co.id

Facebook : mahasiswa.co.id

Twitter : @mahasiswacoid