<
Nikmatnya Kehidupan (Sebuah Pengalaman Selama 22 Tahun) -

Nikmatnya Kehidupan (Sebuah Pengalaman Selama 22 Tahun) -

 


Oleh : wahyu Hidayat

Sebuah proses perjalanan hidup yang begitu luar biasa, begitu banyak dinamika yang terjadi dalam sebauh proses hidup. Senang, bahagia, sedih, serta jatuh selalu menjadi bumbu-bumbu kehidupan. Mengingat dan mengenang sebuah sejarah hidup adalah gambaran bagaimana kita memuhasabah diri, mengingat perbuatan jahil yang pernah mampir dan menyelimuti hidup kita dan kemudian berusaha memperbaiki diri dengan tindakan yang selalu berada digaris jalan kebenaran.
Menjalani setiap proses kehidupan yang selalu bercumbu dengan arus waktu dan zaman, perselingkuhan waktu serta perbedaan pandangan antara pemikiran dan tindakan juga pernah hadir sebagai jas merah dalam kehidupan pribadi penulis.
22 tahun sudah era kehidupan saya lewati, tentu begitu banyak hal-hal yang terjadi dalam sebuah drama yang hingga saat ini belum diketahui kapan akan berakhir, yang jelas akan berkahir pada suatu titik dimana nafas dan nadi berhenti berfungsi. Sudah saatnya refleksi dlakukan guna selalu mengingat dan bersyukur atas segala apa yang pernah terjadi.
Langkah demi langkah, ayunan demi ayunan menghantarkan penulis ke bahtera kerasnya kehidupan dunia, sering kali perang demi perang terjadi baik itu perang secara pemikiran maupun peran secara mental. Menghadapi segala tantangan demi tantangan adalah sebuah hal yang wajib dan tak bisa dikhianati.

Beberapa hal yang pernah mewarnai kehidupan penulis, keluarga, pendidikan bahkan cinta pernah singgah dan hingga saat ini menjadi momen yang selalu dikenang dan dirasakan kenikmatannya. Kemudian membuat penulis sendiri merasa bahwa esensi “kehidupan ialah bagaiamana kita merasakan dan menikmati setiap proses yang ada, terlepas dari bagaiamana bentuk proses itu”.
“Sejak masa itu, sebuah kebenaran seolah diperalat keihlasan dan kepedulian seketika menjerit-jerit.

Cuitan amarah yang kau lontarkan, tak mampu ku hindari, sejak saat itu hati teriris begitu kencang, dan, hati mendayu-dayu berkelana, untuk mencari singgasana bar, . Berkeliling tak menentu. Tapi, masih tetap sama hati yang lama, dengan rasa yang baru. Rasa sakit dan rindu tiak pernah berakhir. Namun semakin rindu malah semakin tersakiti. Kehadiranmu menjadikanku sakit dan rindu diam dan bertanya skenario apa yang terjadi ?”. kumpulan kata-kata suci yang tersusun berbentuk kalimat ini merupakan salah satu bentuk luapan hati yang sering penulis lontarkan melalui sebuah tulisan. Gambaran seperti ini menunjukkan bagaimana gelora jiwa dan perasaan sedang bercumbu kemudian berhasil menghasilkan kalimat suci yang penulis kumandangkan melalui media.

Menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya adalah sebuah harapan yang selalu mampir dalam setiap ucapan dan do’a. menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah sesuatu kesenanang luar biasa yang tidak bisa penulis lontarkan dengan kata-kata. Melihat orang-orang yang selalu menikmati setiap tulisan penulis yang diterbitkan adalah kenikmatan tiada tara. berbagi ilmu, berbagi pengalaman iniah yang membuat penulis semangat menjalani sisa umur yang diberikan oleh allah swt.

Terlepas dari apa yang penulis ceritakan, tentunya begitu banyak lika-liku yang peernah terjadi selama proses kehidupan, sindiran serta cibiran-cibiran sering mencoreng kehidupan penulis. Mengikhlaskan apa saja yang pernah menimpa, dan menganggap ini adalah sebuah awal kemenangan. Kemudian muncul sebuah kalimat “aku bisa dan aku akan kembali serta akan kubuktikan kemereka”. Kalimat ini bukan hanya sebatas jawaban dari sindiran ataupun cibiran akan tetapi kalimat ini juga sebagai motivasi diri penulis bahwa waktu yang akan menjawab setiap proses.

Tercatat 22 tahun hingga saat ini penulis ingin berbagi bahwa kehidupan adalah sebuah polarisasi proses kehidupan, berbagai macam bentuk yang pernah terjadi baik itu suka, duka cinta dan bahagia. Apapun itu, yang terpenting kita menikmati setiap era dan zaman serta waktu yang berbeda. Satu tahun yang akan datang kita tidak tahu apa yang akan terjadi, baik ataupun buruk. Maka dari itu selagi nikmat kehidupan yang masih diberikan mari sama-sama kita maknai dan kita nikmati untuk menjadi manusia yang berguna serta bermanfaat untuk orang lain. (WH)


.