<
Jatinangor, Kawasan Strategis Pendidikan yang Kaya Akan Keluhan Namun Penuh Perasaan -

Jatinangor, Kawasan Strategis Pendidikan yang Kaya Akan Keluhan Namun Penuh Perasaan -

      


Jatinangor, Mahasiswa Indonesia – Dari yang belum pernah mendengar namanya, jadi rindu setengah mati saat berpisah. Dari yang selalu kembali ke kampung halaman setiap akhir pekan, sampai-sampai tak rela tertidur demi mensyukuri keberadaan sekitarnya. Dari yang tak ikhlas, jadi seikhlas-ikhlasnya. Setiap hal yang terjadi di tempat ini, membawa kesan yang tak terlupakan, yang sampai membuat orang bingung apa yang diberikan kecamatan kecil bernama Jatinangor ini.

Jatinangor adalah sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jarang orang mendengar nama ini sebelum ia sibuk mencari dimana ia harus berkuliah, sehingga kebanyakan baru mengetahui nama daerah ini pada umumnya saat sedang menempuh pendidikan di kelas 12 Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat.

Ada korelasi antara pengetahuan seseorang tentang Jatinangor dengan usia atau tingkat pendidikannya, yaitu kelas 12 SMA atau sederajatnya, yaitu karena di Jatinangor terdapat beberapa perguruan tinggi yang cukup menjanjikan dan bahkan salah satunya menjadi kampus negeri dengan peminat terbanyak beberapa tahun terakhir.

Perguruang tinggi yang berdiri di atas tanah Jatinangor adalah Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Unpad sendiri pada tahun 2017 menjadi PTN dengan peminat dari SNMPTN terbanyak dengan total 39.388 peminat dan yang diterima sebanyak 2.369 orang atau 6,08% jika dipresentasekan.

Daya tarik bagi orang-orang untuk datang dan tinggal untuk sementara di Jatinangor memang bukan karena wilayahnya, namun karena perguruan tinggi yang ada di sana. Banyaknya perguruan tinggi yang menjadi tujuan bagi para calon mahasiswa membuat Jatinangor semakin lama semakin padat. Tak jarang bagi orang-orang yang baru menjadi mahasiswa menyesali pilihannya untuk ada di Jatinangor, karena menurut mereka bukan ini yang mereka harapkan.

Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Jatinangor datang dari wilayah-wilayah yang berbeda se Indonesia. Banyak juga yang datang dari perkotaan sehingga tidak biasa berada di wilayah Jatinangor yang terdiri dari desa-desa. Kurangnya tempat hiburan, tempat nongkrong yang tak semenarik di kota, akses yang jauh dari kota Bandung, yang terkenal dengan sebutan Paris van Javanya. Bahkan banyak mahasiswa yang merasa tertipu memilih Unpad karena mereka pikir Unpad berada di Bandung, memang ada yang di Bandung tapi hanya beberapa fakultas, sisanya di Jatinangor.

Bahkan, menu makanpun itu-itu saja. Tempat makan yang dikunjungi juga tak jauh dari hipotesa, pajawan, BKI, SPG, dan lainnya. Makan nasi padang saja sudah terlihat mewah. Tapi apalagi yang diharapkan, yang penting bisa belajar dan hidup dari hari ke hari dan pada akhirnya menyelesaikan pendidikannya di Jatinangor sebelum akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya, atau malah menetap sambil sekolah lagi atau bekerja.

Jatinangor semakin lama semakin kental hubungannya dengan pendidikan, sehingga Jatinangor sekarang sudah disebut juga sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Pendidikan. Potensi Jatinangor ini sudah seharusnya dikembangkan untuk memikat lebih banyak lagi mahasiswa dan juga untuk mendukung perguruang tinggi – perguruan tinggi yang ada untuk melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang kompeten dan nantinya akan memegang peran penting di negara.

Beberapa mahasiswa mengatakan merasa muak di Jatinangor karena permasalahan tata ruang wilayah yang kurang memuaskan. Tak jarang kemacetan terjadi tanpa alasan yang jelas, walaupun kadang memang karena terjadi kecelakaan truk di jalan menuju Kabupaten Sumedang karena jalan yang berkelok-kelok dan juga truk yang muatannya besar. Selain itu banjir juga beberapa kali terjadi di wilayah-wilayah tertentu, seperti Ciseke, Caringin, Sayang, dan mungkin juga beberapa tempat lainnya.

Selain masalah tata ruang wilayah, perilaku yang berbeda antara pendatang dan penduduk setempat juga menjadi hal yang membuat risih mahasiswa. Memang pada dasarnya seorang pendatang harus berusaha menyesuaikan diri terhadap tempat yang ia datangi. Namun konteks Jatinangor sebagai wilayah pendidikan tentu berbeda. Pendatang bukan hanya sebulan dua bulan menetap, tapi paling tidak 3 atau 4 tahun, bahkan ada juga yang 7 tahun, lebih parahnya lagi ada juga yang sudah 10 tahun tak kunjung pulang ke kampung halamannya karena sudah saking cinta.

Perbedaan perilaku antara pendatang dan penduduk setempat ini muncul karena adanya ketimpangan. Ketimpangan dalam status mahasiswa. Di perguruan tinggi – perguruan tinggi yang ada di Jatinangor, ternyata hanya sedikit penduduk asli Jatinangor yang dapat mengenyam pendidikan tinggi di sana. Wajar jika ada perilaku yang berbeda, apalagi dengan pendatang yang asalnya dari kota. Potensi konflik sebenarnya secara otomatis muncul ketika banyak perguruan tinggi didirikan sejak awalnya. Tak jarang masalah keamanan sering terjadi, kehilangan motor, pencurian di kamar kos-kosan, bahkan begal pun pernah terjadi.

Agar potensi konflik tidak meningkat, dan diharapkan menurun bahkan hilang, dan juga untuk mengembangkan Jatinangor untuk menjadi daerah yang dapat mendukung kegiatan pendidikan, maka perlu ada campur tangan pemerintah untuk menjaga hal ini tetap seperti yang diharapkan setiap orang, mahasiswa sebagai pendatang, maupun penduduk setempat sebagai orang yang sejak lahir sudah cinta.

Tata ruang wilayah perlu diperbaiki untuk mengatasi kemacetan yang sering terjadi agar mahasiswa tidak perlu kehabisan banyak waktu di jalan, karena mahasiswa dengan waktu sehari 24 jam saja kadang merasa tak cukup. Kecelakaan-kecelakaan pun perlu ditekan angkanya agar tak menjadi sumber kemacetan dan lebih-lebih memakan korban jiwa. Tak ada orang datang ke Jatinangor berharap celaka. Pengelolaan sampah juga harus diperhatikan karena dapat menjadi salah satu penyebab banjir yang terjadi di beberapa tempat di Jatinangor.

Pola perilaku antara pendatang dan penduduk pun perlu disinergiskan. Sadarlah para mahasiswa, pilihanmu untuk memilih perguruan tinggi di Jatinangor tentu harus dipertanggungjawabkan. Biasakanlah tinggal di sini. Hargai para penduduk yang telah lama menjaga Jatinangor sampai saat ini mampu memfondasikan empat perguruan tinggi yang bersaing. Untuk para penduduk setempat, manfaatkanlah kedatangan orang-orang ini sebagai sesuatu yang dapat diambil pelajaran darinya. Lebih konkret lagi, lihat peluang yang ada dari kedatangan mereka. Berkreatifitaslah. Tunjukan bahwa tak ada yang lebih baik, baik pendatang maupun penduduk, sama-sama rakyat Indonesia.

Pandangan masing-masing individu menilai Jatinangor pasti berbeda-beda. Tapi, tempat ini membuka ruang memori yang luas dalam pikiran, yang terjebak di dalamnya akan menemukan kesulitan untuk keluar, saking indah dan gembiranya. Seimbang antara senang dan sedihnya, terik siang dan dingin malamnya, debu jalanan dan oksigen dari pohon-pohonnya, juga lawan dan kawan-kawannya. (mli)


.