<
Pendidikan: Dari Humanisasi Sampai Alienasi

Pendidikan: Dari Humanisasi Sampai Alienasi

      


 

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah kuliah oleh Prof. Iwan Pranoto, guru besar matematika ITB, dengan tema “Apakah Matematika Itu Bahasa?”. Dalam keberjalanannya, diskusi sempat terbawa ke arah masalah pendidikan negeri ini. Dimana Pak Iwan berargumen bahwa mahasiswa dan siswa kebanyakan telah kehilangan kesenangannya untuk melakukan kegiatan ‘belajar’, dan hal ini berakibat pada hilangnya semangat belajar pada siswa dan mahasiswa. Sebagai contoh, ketika Pak Iwan memberikan mahasiswanya sebuah game matematika yang seharusnya menyenangkan, alih-alih senang kejingkrakan sambil mengerjakan game tersebut, mahasiswa-mahasiswa matematika itu malahan duduk terpaku dengan muka cemberut memikirkan jawaban dari game tersebut (yang pastinya tidak akan ketemu jawabannya jika dilakukan dengan ‘metode’ duduk diam tersebut).

Ternyata telah terjadi proses pengasingan (alienasi) dalam dunia pendidikan terhadap diri para pelajar, dimana seharusnya proses belajar merupakan sebuah proses yang menyenangkan dan membuat para pelakunya (baca : pelajar)  menjadi menemukan dirinya sendiri. Tetapi yang terjadi hari ini adalah pengaggapan bahwa proses belajar merupakan sebuah beban berat yang harus dipikul oleh para peserta didik. Pak Iwan mengindikasikan ada beberapa faktor yang menghasilkan hal tersebut, yaitu : guru yang tidak menumbuhkan semangat untuk belajar dan sistem yang tidak menunjang untuk menumbuhkan kesenangan dalam belajar.

Guru, sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, memiliki andil yang sangat besar dalam menumbuhkan kesenangan siswanya dalam belajar. Namun, Pak Iwan melihat salah satu faktor kenapa hal ini tidak terjadi adalah karena kebanyakan guru tidak menyenangi subjek dari apa yang seharusnya dia ajarkan kepada anak didiknya, atau dengan kata lain, kebanyakan guru terpaksa menjadi guru. Sebagai contoh, menurut beliau kebanyakan guru matematika tidak menyenangi matematika, dan menjadi guru hanya karena tuntutan memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, sebenarnya tugas utama guru adalah menumbuhkan kesenangan dan motivasi belajar siswa, karena tidaklah mungkin untuk membuat siswa menjadi pintar hanya melalui proses pengajaran. Yang dapat membuat siswa menjadi pintar adalah dirinya sendiri, sedangkan tugas guru adalah mendorong minat belajar pada diri siswa untuk menjadi pintar. Tapi bagaimana mau menumbuhkan kesenangan belajar matematika pada siswa jika gurunya sendiri tidak menyenangi matematika?

Faktor kedua yang menjadi penghambat adalah sistem. Sistem pendidikan di Indonesia tidaklah menunjang untuk membuat siswanya memiliki rasa ‘senang’ belajar. Menurut beliau, sistem-sistem seperti UN, alih-alih menumbuhkan minat belajar pada siswa, malah membuat siswa stress dan terpatok pada nilai saja. Oleh karena itu, sistem-sistem tersebut menurutnya harus kita lawan dan hilangkan (beliau aktif dalam gerakan petisi Tolak UN).

Dari argumen-argumen Pak Iwan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu masalah terbesar dalam dunia pendidikan adalah tidak adanya kesenangan siswa dalam belajar yang berakibat siswa tidak meiliki motivasi dalam belajar. Atau dengan kata lain para pelajar telah teralienasi terhadap proses belajar yang seharusnya dapat membuat mereka lebih manusiawi. Mengingat pendidikan merupakan salah satu tolok ukur kemajuan suatu negeri, maka jika dunia pendidikan kita tengah bermasalah, sudah sepantasnya kita memberikan perhatian lebih pada masalah pendidikan ini.

 

Pendidikan dan Humanisme

Pada dasarnya, dewasa ini telah terjadi distorsi besar-besaran terhadap hakikat serta tujuan dari diadakannya kegiatan belajar mengajar yang diinstitusikan dalam bentuk sekolah dan perguruan tinggi. Ruh dari paradigma fundamental pengelolaan institusi pendidikan telah digeser oleh logika pasar yang memandang segala benda sebagai sebuah potensi komoditas.

Secara sosio-historis, sekolah, yang dalam bahasa inggris berarti school, memiliki akar etimologis pada kata Skole dalam bahasa Yunani yang berarti waktu senggang. Pada masa Yunani kuno, golongan kaum bebas yang memiliki banyak waktu senggang seringkali menggunakan waktu senggangnya untuk mengeksplorasi berbagai dimensi kehidupan hingga tingkatan yang paling mendalam dan mendasar. Sedangkan berkebalikan dengan hal itu, kaum budak yang tidak memiliki banyak waktu bebas akhirnya hanya tenggelam ke dalam rutinitas aktivitas yang berbentuk fisik dan praksis.

Bahkan pada abad pertengahan, dikenal istilah artes liberales yang biasanya diperuntukkan hanya bagi kaum aristokrat, karena merekalah yang memiliki banyak waktu senggang. Artes Liberales memiliki makna “keterampilan bagi orang bebas”, serta mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan kehormatan. Konsep ini dipertentangkan dengan artes serviles yang bermakna “keterampilan bagi budak”, dan mengandung pengertian bahwa suatu aktivitas dihargai dengan upah material.

Pada kemudian hari, perkumpulan orang yang memiliki banyak waktu luang inilah yang kemudian diinstitusikan menjadi sekolah, dimana tujuan utamanya adalah agar manusia dapat menemukan dan menggali setiap potensi terdalamnya masing-masing sehingga dapat menjadi seorang pribadi yang utuh. Namun, dapat kita lihat realitasnya dimana dahulu sekolah yang memiliki tujuan mulianya untuk memuliakan dan menghormati manusia, telah berbalik 180 derajat menjadi institusi-institusi yang mengajarkan “artes serviles” belaka.

Transformasi sekolah dan universitas menjadi ‘lembaga pertukangan’ tentunya berhubungan erat dengan sistem ekonomi yang telah berhasil menghegemoni dunia: kapitalisme. Dimana dalam logika kapitalisme segala macam kegiatan ditransformasikan dalam perspektif ‘untuk mencari keuntungan’. Segala macam kegiatan dan barang, alih-alih dipandang dari segi nilai gunanya, hanyalah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai tukar belaka. Hal inilah yang terjadi di dalam dunia pendidikan, dimana pendidikan tidak lagi harus ‘memanusiakan manusia’, melainkan harusah memiliki nilai tukar yang dapat menghasilkan keuntungan, yaitu sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan yang kelak memiliki gaji besar (keuntungan).

Di Indonesia, peralihan ini digagas oleh Wardiman Djoyonegoro selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada akhir periode Orde Baru. Wardiman menerapkan konsep ‘link and match’ antara dunia pendidikan dan dunia industri, dimana agar para sarjana perguruan tinggi tidak menganggur ketika lulus, maka sistem pendidikan haruslah disesuaikan dengan kebutuhan industri. Pada masa itu, banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki keterampilan ketika memasuki dunia kerja. Akhirnya kurikulum-kurikulum pendidikan Indonesia pun berubah menjadi kurikulum pelatihan dan universitas berubah menjadi pusat pelatihan atau training centre (Y Wasi Gede Puraka, Universitas Tidak Lagi Menjadi Pusat Sains, 2013). Pada gilirannya, hal inilah yang mengakibatkan alienasi pada rata-rata peserta didik Indonesia.

 

Alienasi Pekerja Menuju Alienasi Pelajar

Diterapkannya link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri, mau tidak mau dunia pendidikan harus mengikuti tuntutan-tuntutan yang diterapkan oleh dunia industri. Alienasi dalam dunia pendidikan dapat kita telusuri asal mulanya dari sini, ketika proses alienasi sangat kentara terjadi di dunia kerja-industri yang mengakibatkan dunia pendidikan pun ikut mengalami proses alienasi yang sama sebagai dampak diterapkannya kebijakan link and match.

Analisis proses alienasi dalam dunia kerja-industri yang dihegemoni oleh sistem ekonomi kapitalisme dapat kita temukan dalam pemikiran salah seorang filsuf modern, Karl Marx. Berbeda dengan para filsuf Yunani dan abad pertengahan yang memandang pendidikan sebagai jalan menuju kemanusiaan, Marx malah memandang ‘kerja’lah yang merupakan esensi dari kemanusiaan. Pandangan ini berakar pada filsafat Hegelian dimana menurut Hegel, manusia sebagai makhluk rohani, hanya dapat mencapai realitasnya apabila ia dapat mengobjektifkan dirinya. Maksud mengobjektifkan diri disini ialah manusia sebagai suatu makhluk yang berada di dunia dapat memahami dirinya sendiri, baik secara individual maupun secara sosial. Dan manusia dapat menacapi tujuan ini melalui bekerja. Dengan bekerja, manusia meriilkan dan menyatakan diri (manusia), karena didalamnya manusia melahirkan apa yang hanya secara potensial ada padanya, ke dalam kenyataan objektif sehingga ia dan orang lain dapat memandang dan memahami diri. Selain itu, Marx juga menambahkan bahwa bekerja merupakan kegiatan yang membedakan manusia dengan binatang, karena dalam pekerjaan, manusia menegaskan dirinya sebagai makhluk yang bebas dan universal (Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, 2005).

Dari penjabaran diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa bekerja dalam perspektif marxian memiliki tiga dimensi fungsi kemanusiaan. Pertama, bekerja meneguhkan status seseorang sebagai manusia. Pekerjaan manusia memiliki tanda kekhasan sebagai makhluk yang bebas dan universal. Bebas karena ia tidak hanya melakukan apa yang menjadi kecondongan alamiahnya (pekerjaan manusia tidaklah terbatas pada mencari makan membuat pakaian dan rumah). Universal karena ia tidak terikat pada lingkungan alam yang terbatas (Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, 2005) (untuk memenuhi kebutuhannya, manusia tidak dapat begitu saja mengambil keperluannya dari alam sehingga dibutuhkan teknik rekayasa yang mengakibatkan kemungkinan pekerjaan yang tidak terbatas). Hal inilah yang pada akhirnya membedakan manusia dengan bintang, dimana binatang hanya bekerja (mencari makan, membuat sarang) langsung karena dorongan alamiahnya (lapar, kedinginan) sehingga ia tidak bebas. Selain itu apa yang dibutuhkan oleh binatang telah langsung tersedia di alam, dan tidak membutuhkan rekayasa untuk mendapatkan kebutuhannya sehingga pekerjaan bintang tidaklah bersifat universal (terbatas pada lingkungan alam sekitarnya). Kedua, bekerja menegaskan status seseorang sebagai pribadi. Melalui bekerja, seseorang telah mengobjektivikasikan dirinya kepada dunia material apa yang telah menjadi potensi dirinya. Disini manusia bekerja dengan cara mengambil bentuk alami dari objek alami dan memberikannya bentuk baru. Contohnya adalah seorang pembuat perahu, dimana dia mengambil sebuah kayu pohon (bentuk alami dari objek alami) untuk kemudian dia bentuk menjadi sebuah perahu kayu (bentuk baru). Ketika sang pembuat perahu melihat hasil perahu buatannya, beliau telah berhasil mengobjektivikasikan idenya dan potensinya dalam membuat perahu ke dalam dunia material. Hal ini dengan sendirinya akan memberikan sang pembuat perahu kepuasan dan kepastian bahwa dirinya adalah seorang pembuat perahu handal. Ketiga, bekerja menegaskan status seseorang sebagai makhluk sosial. Pada dasarnya, manusia tidak dapat mengerjakan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya, sehingga hidupnya sangatlah bergantung kepada hasil karya orang lain. Akhirnya makna pekerjaan tidaklah terbatas pada pemenuhan kebutuhan pribadi orang yang bekerja itu saja, melainkan juga menyangkut kepada orang lain. Contohnya lagi adalah si pembuat perahu tadi, ketika perahu buatannya dipakai oleh para nelayan untuk melaut, dia mendapatkan kepastian bahwa sumbangannya berguna bagi kehidupan dan kebahagiaan orang lain, sehingga ia dapat diakui sebagai seorang pribadi oleh komunitas masyarakatnya.

Namun dalam perspektif kapitalisme, bekerja tidak lagi memiliki dimensi-dimensi kemanusiaan di atas. Bekerja hanya dipandang sebagai sebuah sarana untuk mengakumulasikan keuntungan. Segala macam bentuk kerja, dari yang material seperti keahlian pengoperasian alat-alat produksi, hingga yang immaterial seperti riset dan kerja kreatif, dinilai dari segi nilai tukarnya saja. Akhirnya, hal inilah yang mengakibatkan terjadinya alienasi pada diri para pekerja di zaman industri ini.

Alienasi pada manusia di dunia kerja memiliki tiga segi (Ignasius Harianto, Martabat Manusia dan Keterasingan Dalam Pekerjaan, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Th. XXXII, No.2, 2011). Pertama alienasi terhadap hasil karya ciptaannya. Sebagai pekerja yang bekerja di bawah sebuah perusahaan, hasil karya para pekerja tersebut menjadi milik perusahaan. Apalagi jika ia hanya mengerjakan sebagian kecil saja dari sebuah produk yang ketika sudah jadi, mungkin tidak akan lagi dilihatnya. Karena hasil pekerjaannya terasing dari diri si pekerja sendiri, hal ini mengakibatkan alienasi segi kedua, yaitu pekerja teralienasi terhadap kegiatan bekerja itu sendiri. Kegiatan bekerja bagi si pekerja telah kehilangan makna objektivikasi pribadinya dan hanya menjadi sebuah tuntutan kewajiban untuk memenuhi nafkah hidup. Akhirnya bekerja kehilangan dimensi bebas dan universalnya dan berubah menjadi pekerjaan paksaan. Ketika hal ini terus dilakukan, terjadi alienasi segi ketiga, dimana akhirnya pekerja teralienasi terhadap dirinya sendiri karena ketika bekerja, dia sekedar memperalat dirinya untuk tujuan mencari nafkah. Ketika bekerja, dirinya tidak lagi berada di dalam raganya karena seluruh perhatiannya terpusat pada waktu ketika dia dapat menjadi pribadi seutuhnya : saat tidak bekerja. Dalam pekerjaan semacam ini, alih-alih memperkaya diri, jika terus dilakukan yang terjadi adalah pemiskinan diri pada diri si pekerja.

Proses-proses alienasi pada diri para pekerja inilah yang akhirnya menular dan terjadi di dunia pendidikan akibat dari kebijakan link and match. Internalisasi logika kapital yang memandang segala sesuatu sebagai komoditi telah menjadikan pendidikan dipandang dari segi nilai tukarnya saja, yaitu sebuah sarana yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang kelak dapat menghasilkan keuntungan finansial. Pada akhirnya, di dunia pendidikan terjadi proses alienasi yang sama dengan yang terjadi di dunia industri karena proses pendidikan sendiri dipandang sebagai pra-kondisi dari proses bekerja. Pelajar, yang hanya berorientasi belajar untuk mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi nafkahnya akhirnya mengalami proses alienasi yang sama persis dengan pekerja. Guru yang terpaksa menjadi guru pun alih-alih dapat membangun motivasi belajar pada diri siswa akhirnya hanya bisa menularkan proses alienasi yang sama yang telah terjadi terhadap dirinya.

Pendidikan, sebagai sebuah indikator majunya suatu bangsa memang perlu mengalami revolusi secara besar-besaran jika kita memang masih menginginkan sebuah realitas yang lebih baik. Alienasi, dalam dunia pendidikan hanya akan menimbulkan kemandegan ilmu dan pengetahuan yang akhinya hanya menghasilkan kemandegan kemajuan suatu bangsa. Sudah saatnya kita belajar kepada negara seperti Finlandia yang meletakan dimensi humanisme dalam proses berpendidikan. Karena sejatinya, setiap kegiatan manusia, baik itu politik, ekonomi, ataupun pengembangan teknologi, adalah bertujuan untuk kembali memuliakan manusia itu sendiri, dan bukanlah untuk kepentingan finansial semata yang entah akan menguntungkan siapa.

 

“Non scholae sed vitae discimus”

(Pepatah Latin: Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup)


.