<
Dinamika Sosial Petani dan Kedaulatan Pangan

Dinamika Sosial Petani dan Kedaulatan Pangan

      


Ketahanan pangan merupakan konsep dan pendekatan yang secara resmi dipegang oleh pemerintah Indonesia dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Penggunaan konsep ketahanan pangan ditegaskan secara resmi dalam berbagai produk hukum, misalnya UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Ketahanan pangan juga merupakan konsep yang diterima luas di banyak negara dan telah berjalan cukup lama setidaknya 20 tahun terakhir.

Namun demikian, sebagaimana konsep dan pendekatan dalam pembangunan pada umumnya, pendekatan ketahanan pangan juga menghadapi berbagai tantangan. Evaluasi, ide dan berbagai pemikiran baru terus bergulir. Hal ini pun berlaku untuk konsep ketahanan pangan yang awalnya hanya fokus pada sisi produksi, namun setelah beberapa kali berubah, dirumuskan menjadi lebih luas.

Saat ini, ada dua isu penting yang menarik disimak, yang pada hakekatnya dapat menggoyahkan penggunaan konsep ketahanan pangan dan bagaimana ketahanan pangan dioperasionalkan. Pertama, perlunya diadopsi pendekatan kedaulatan pangan yang dinilai lebih humanistik dan ramah lingkungan. Kedua, banyak kalangan menolak keterlibatan swasta dalam pertanian pangan karena dikhawatirkan akan meminggirkan petani kecil. Permasalahannya, konstitusi kita bahkan di level FAO sendiri memberi peluang yang besar bagi swasta untuk terlibat dalam pembangunan bidang pangan.

Konsep kedaulatan pangan mulai berkembang sejak tahun 1990-an sebagai konsep alternatif atauoun melengkapi konsep ketahanan pangan yang dianggap banyak dipengaruhi oleh pandangan neo-liberal. Dalam konsep ketahanan pangan, pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan upaya yang bersifat modern, antara lain agribisnis, perdagangan bebas, dan privatisasi sumber-sumber produktif. Di lain pihak, kedaulatan pangan berupaya untuk kembali ke alam, yaitu memprioritaskan keberlanjtan produksi dalam negeri dengan memanfaatkan kearifan lokal dan berbasis ekologi yang mengutamakan kegiatan yang ramah lingkungan untuk mewujudkan penghidupan yang berkelanjutan dan lingkungan yang terintegrasi. Untuk mewujudkan kedaulatan pangan tidaklah gampang mengingat dewasa ini merupakan era perdagangan bebas, sementara itu petani Indonesia umumnya memiliki luas lahan yang sempit dan umumnya merupakan petani kecil atau peasant. Sifat peasant yang memiliki prinsip usaha risk minimization atau meminimalkan resiko menjadikan ia tidak mudah menerima inovasi dan untuk meyakinkan biasanya diperlukan bukti.

 

Perilaku Petani

Ada berbagai teori tentang perilaku dan penyebab perilaku manusia, diantaranya teori dari Sigmund Freud. Freud menyatakan bahwa dalam kepribadian manusia ada tiga komponen, yakni : id, ego, dan super egoId selalu berprinsip akan memenuhi kesenangan sendiri (pleasure principle), termasuk didalamnya agresivitas. Ego selalu berorientasi pada kenyataan (reality principle), dan super ego yang selalu berpatokan pada norma-norma yang berlaku (moral standard). Dinamika didalam pribadi manusia dalam teori ini merupakan “pertempuran” diantara ketiga komponen kepribadian tersebut. Id yang selalu mencari kesenangan itu selalu meminta terus agar hasrat-hasratnya selalu terpenuhi (misalnya petani ingin meningkatkan  produksi dan pendapatannya), tetapi ego melihat realitas dahulu sebelum memnuhi permintaan id (misalnya, apakah memiliki pupuk vukup, memiliki modal cukup), kemudian akan mempertimbangkan super ego yang pada gilirannya selalu mempertimbangkan norma-norma masyarakat yang sudah diterima sebagai nilai-nilai diri sendiri (sebaiknya gotong royong, membeli pupuk bersama melalui kelompok, membentuk koperasi, dan sebagainya). Dengan demikian perilaku petani di pedesaan sangat dinamis dan senantiasa mengikuti arah norma-norma masyrakat, kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat masyarakat setempat. Hubungan petani dengan petani, petani dengan penyuluh pertanian, petani dengan pamong desa, dan sebagainya tidak lepas dari proses yang saling memberi dan menerima.

Berdasarkan prinsip sosial ekonomi, setiap perilaku petani pada dasarnya dilaksanakan dengan menggunakan strategi minimax, yaitu meminimalkan usaha (cost) dan memaksimalkan hasil (reward) agar diperoleh keuntungan (profit) yang sebesar-besarnya. Misalnya, petani ikut kegiatan kelompok (cost) dengan harapan mendapatkan reward yang tinggi (pelayanan saprodi, kemudahan menjual hasil, banyak relasi, dan sebagainya). Apabila petani merasa rugi (ikut anggota kelompok tidak memperoleh manfaat), maka ia akan tidak aktif atau keluar sebagai anggota kelompok tani.

Perilaku petani juga dipengaruhi oleh karateristik petani. Petani bisa dibedakan menjadi 2 jenis, yakni petani subsisten (peasent) dan petani komersil (farmer). Peasent adalah petani kecil (biasanya luas pemilikan lahan kecil) dengan orientasi usaha pertanian “risk minimization”, petani ini sangat takut resiko gagal panen, karena bila panen gagal maka kehidupan keluarganya akan “hancur” sehingga petani jenis ini sangat hati-hati dalam mengambil keputusan bertani, ia akan memilih jenis tanaman yang resiko gagalnya kecil meski hasilnya kurang menguntungkan. Sedangkan petani farmer adalah petani yang memiliki lahan usaha luas dengan orientasi usaha pertanian “profit maimization”.

 

Modal Sosial dan Kelompok

Setiap kelompok akan mengalami perubahan-perubahan atau dinamika didalam kelompoknya. Perubahan tersebut akan menentukan seperti apa kekuatan kelompok sebenarnya. Bila suatu kelompok bisa menghadapi setiap perubahan yang ada, maka kelompok tersebut akan menjadi lebih baik. Sedangkan apabila kelompok tersebut tidak bisa menghadapi perubahan yang ada, maka bisa saja kelompok tersebut akan hancur dan bubar. Perubahan-perubahan yang terjadi bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti pergantian anggota kelompok, pergantian ketua, keluarnya seorang anggota dan lainnya. Kejadian seperti ini akan membuat suasana didalam kelompok agak terganggu. Pergantian anggota dengan masuknya seorang anggota baru misalnya, akan membuat kekompakan kelompok sedikit terpecah karena kurangnya rasa percaya anggota lama terhadap anggota baru. Kesenjangan kepercayaan yang ada diantara sesama anggota apabila dapat diatasi dengan kerjasama yang baik akan membuat kedatangan anggota baru bisa menjadi kekuatan baru bagi kelompok tersebut dan menjadikan kelompok tersebut dinamis. Kelompok yang dinamis ialah kelompok yang mampu mengatasi setiap perubahan atau dinamika yang terjadi didalam kelompoknya dan hal ini penting karena kelompok yang dinamis akan dapat mencapai tujuannya lebih cepat.

Keberhasilan kelompok dengan pencapaian setiap tujuannya merupakan impian dari setiap kelompok. Keberhasilan kelompok secara tidak langsung ditunjang dengan adanya potensi modal sosial yang ada didalam individu para anggota kelompok. Modal sosial yang kuat akan meningkatkan

keefektifan suatu kelompok dalam mencapai tujuan dan mengurangi tekanan didalamkelompok karena setiap anggota merasa nyaman berada didalam kelompoknya. Modal sosial dengan semua dimensi yang ada didalamnya membuat dinamika atau perubahan kelompok yang terjadi dapat mengarahkan kelompok berkembang ke arah yang lebih baik. Oleh karenaitu harus diketahui apakah modal sosial berperan dalam dinamika kelompok peternak sapi perah atau tidak.

Modernisasi Pertanian dan Perubahan Sosial Masyarakat

Modernisasi pertanian adalah suatu perubahan pengelolaan usaha tani dari tradisional ke pertanian yang lebih maju dengan penggunaan teknologi-teknologi baru. Modernisasi dapat diartikan sebagai transformasi yaitu perubahan. Dalam arti yang lebih luas transformasi tidak hanya mencakup perubahan yang terjadi pada bentuk luar, namun pada hakekatnya meliputi bentuk dasar, fungsi, struktur, atau karakteristik suatu kegiatan usaha ekonomi masyarakat.

Modernisasi dapat diartikan sebagai bentuk, ciri, struktur dan kemampuan sistem kegiatan agribisnis dalam menggairahkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan menyehatkan perekonomian masyarakat pelakunya. Dumomt dalam Pranadji (2000) mengatakan bahwa transformasi atau usaha pertanian dapat disejajarkan dengan transformasi pedesaan. Dipandang dari aspek sosio budaya, transformasi pertanian identik dengan proses modernisasi dan pembangunan masyarakat pertanian di pedesaan. Sayagyo mengartikan modernisasi suatu masyarakat adalah suatu proses transformasi, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya.

Perubahan sosial adalah terjadinya perbedaan dalam aspek kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu Aspek-aspek kehidupan masyarakat itu telah disistematiskan pada stuktur proses sosial. Dimana perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada struktur (kebudayan dan kelembagaan) pada pola proses sosial.

 

Dinamika Sosial Petani di Pedesaan

Di pedesaan, dalam rangka mencapai tujuan peningkatan produksi dan pendapatan petani, dibentuklah kelompok-kelompok tani. Kelompok tani dewasa ini sudah berkembang secara kuantitas, tahun 1993 tercatat ada 250.000 kelompok tani, sekarang ada hampir di setiap desa bahkan dusun. Di Indonesia, pada bulan Desember tahun 2010 tercatat ada 279.523 kelompok tani dan 30.636 gabungan kelompok tani tanaman pangan, disamping itu juga banyak kelompok tani hutan kemsyarakatan, kelompok tani/nelayan. Di era reformasi ini, banyak berbagai program pembangunan yang menggunakan kelompok sebagai media aktvitas untuk mencapai tujuan pembangunan. Sejak keberhasilan pembangunan pertanian yang berbasis massa dan kelompok di awal era orde baru, yakni melalui Bimas/Inmas, kemudian Insus, dan Supra Insus, maka dewasa ini di pedesaan ketika era reformasi juga terdapat program-program untuk peningkatan pendapatan masyarakat, seperti program PNPM, program PUAP, dan lain-lain yang juga menggunakan kelompok sebagai penggerak untuk mencapai tujuan pembangunan.

Dalam rangka meningkatan dinamika sosial petani dalam konteks pembangunan pertanian menuju kedaulatan pangan, adalah menggerakkan petani dan kelompokknya melalui pembinaan yang intensif berdasarkan pendidikan orang dewasa atau andragogy.  Berdasarkan pedoman pembinaan kelembagaan petani Kementrian Pertanian, maka konsep dinamika petani dan kelompok tani untuk peningkatan pendapatan guna mewujudkan kedaulatan pangan digambarkan sebagai berikut:

 

 

Berdasarkan realitas bahwa para petani adala petani lahan sempit, maka dalam upaya mendinamiskan diperlukan insentif dukungan modal usaha, sarana dan parasaran, serta penghargaan guna memotivasi mereka. Para petani sebagian besar adalah petani kecil dan merupakan “peasant”, dalam kondisi seperti ini modal merupakan unsur yang penting dalam usaha meningkatkan pendapatannya. Karena itu, peran pemerintah atau pemilik dana sangat penting dalam menggerakkan petani dan kelompoknya agar mampu mewujudkan kedaulatan pangan. Terkait dengan para petani merupakan petani kecil, maka dujkungan sarana dan prasarana amat penting untuk mendimiskan kelompok tani. Tidak kalah pentingnya adalah, petani dan kelompok tani perlu dukungan penghargaan, “harga hasil pertanian” yang layak juga merupakan penghargaan bagi petani, disamping penghargaan-penghargaan lain yang bisa memotivasi petani dan kelompok tani untuk kreatif dan inovatif. Banyak kelompok tani yang mampu berkembang, dengan demikian biarlah kelompok tani yang maju ini juga bisa melakukan “mitra kerja” dengan berbagai lembaga yang terkait, artinya yang melakukan mitra kerja dengan lembaga lain itu bisa kelompok tani ataupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Dibagian lain, pembinaan kelompok dan Gabungan Kelompok Tani ditekankan dalam hal peningkatan kemampuan kepemimpinan, kewirausahaan, dan manajerial, sehingga mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatnya, dengan demikian para anggota kelompok mampu mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam pengembangan kelompok tani dan Gabungan Kelompok Tani ini, kemampuan kepemimpinan merupakan unsur yang penting, karena kepemimpinan ini sebagai koordinator dari berbagai kelompok yang bergabung menjadi satu yakni Gapoktan. Kewirusahaan juga merupakan unsur penting dalam perkembangan Gapoktan, karena Gapoktan diharapkan mampu berkembang dalam kegiatan bisnis, karena itu anggota Gapoktan perlu pengertian dan keterampilan wirausaha. Upaya pengembangan kelompok dan gabungan kelompok juga perlu pemahaman dan kembang memiliki unit-unit usaha jasa saprotan, pengolahan, pemasaran, dan permodalan, maka ketua gapoktan tentu harus pandai mengelola kegiatan gapoktan.

Kelompok tani yang mampu berkembang dapat menjalin kerja sama dengan  mitra kerja, namun beberapa kelompok tani dapat  bergabung menjadi Gapoktan yang memiliki berbagai unit usaha, antara lain saprotan, pengolahan, pemasaran, dan permodalan dalam agrobisnis seperti yang dikembangkan oleh Kementrian Pertanian. Gapoktan dapat menjalin kerjasama dengan mitra usaha seperti KUD, BRI Unit Desa, dll.

 

Daftar pustaka

  1. Scott, James C. 1983. Moral Ekonomi Petani. LP3ES. Jakarta
  2. Alimoeso, Sutarto. 2011. Ketahanan Pangan Nasional dan Perum Bulog. Makalah dalam Diskusi Pembangunan Pertanian dan Pendidikan Tinggi Pertanian dalam rangka Lustrum XIII Fakultas Pertanian UGM, 14 Mei 2011
  3. Bandura, Albert. 1997. Self Efficacy. The Exercise of Control. WH. Freeman and Company. New York
  4. Hariadi, Sunarru Samsi. 2011. Dinamika Kelompok. Sekolah Pascasarjana UGM. Yogyakarta
  5. Schultz. 1992. A history of Modern Pscchology. Harcourt Brace Jovanovich, Inc. New York
  6. Umstot. 1988. Understanding Organizational Behavior. West Publishing Company. New York
  7. Fukuyama, F. 2003. Sosial Capital and Civil Society.www.socialcapitalresearch.com 28/08/2015
  8. Hasbullah, J. 2006. Social Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia). Jakarta: MR-United Press
  9. Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta

 


.