<
KEMERDEKAAN BERPIKIR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS INTELEKTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL

KEMERDEKAAN BERPIKIR DALAM MENINGKATKAN KUALITAS INTELEKTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL

      


 

Oleh: Sidik 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang bertujuan untuk membantu peserta didik mencapai kedewasaan. Seseorang dikatakan dewasa apabila terjadi perubahan positif dalam etika, perilaku, dan pikiran yang tercermin dalam kepribadiannya. Semua itu dapat terwujud apabila pendidikan karakter di Indonesia tepat dan sesuai dengan landasan filosofis bangsa, salah satunya adalah merdeka dalam berpikir. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukan pendidikan kita masih kaku dan cenderung mengekang kreativitas. Kattsoff dalam bukunya yang berjudul Introduction of Philosophy (2004) mengungkapkan bahwa kebebasan hanya akan diraih apabila pendidikan bebas yang berlandaskan filsafat. Kegagalan dalam pengimplementasian pendidikan yang merdeka mengakibatkan kualitas intelektualitas peserta didik Indonesia kian menurun setiap harinya dan cenderung menerima nilai apa adanya. Dilansir dari Detik.com, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) telah melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) untuk mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Penelitian ini dilakukan di 14 negara secara acak, yakni Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili. Penelitian kemudian dipublikasikan dalam ‘International Seminar and Report Launch’. Dalam penelitian ini ada 5 indikator yang diukur oleh JPPI, di antaranya governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability. Dari kelima indikator yang diukur Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%. Dengan memerhatikan hasil penelitian tersebut, sejatinya kita perlu bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan pendidikan karakter kita, terlebih indikator acceptability yang menjadi tolak ukur itu menunjukan adanya ketidakramahan yang menyebabkan peserta didik tidak nyaman berada di sekolah.

Sikap dunia pendidikan kita yang terlampau feodal pun menjadi kunci utama tertahannya kreativitas yang mengakibatkan rendahnya tingkat intelektualitas peserta didik. Pengekangan imajinatif itulah yang menimbulkan stagnansi ide, sedangkan Einstein menekankan bahwa imajinasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan melalui ide kreatif. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan masih belum menemukan rohnya. Maka, perlu adanya pembenahan dalam pendidikan karakter, karena sebagai bagian dari generasi milenial, tentunya masalah ini akan menghambat kemajuan Indonesia di masa depan.

Generasi milenial merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari teknologi. Kelompok milenial adalah yang lahir di atas tahun 1983 dan pada tahun 2000 mencapai usia kurang dari 17 tahun (Strauss & Howe, 2000), masa remaja akhir dimana fase akhir pembentukan identitas terjadi sebelum umur 18 tahun dan diharapkan mempunyai komitmen terhadap kehidupan sosial bermasyarakatnya di Indonesia. Penyematan milenial diberikan karena penelitian relevan yang mengangkat generasi di era 19-an ini memang berada pada masa dimana teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan personal dan kecenderungan menjadikannya tumpuan hidup baru. Lemahnya identitas diri, akan menjadikan seseorang sebagai budak teknologi yang menelan hidup-hidup nilai kemanusiaan. Padahal, pendidikan karakter sejatinya adalah menanam benih jati diri seorang peserta didik yang akan ditumbuhkannya kelak di kehidupan sosial, di mana perlu adanya landasan yang jelas dan tegas. Usaha ini dilakukan karena efek domino globalisasi yang menghapus sekat antar negara menyebabkan kita menerima konsekuensi untuk menerima nilai-nilai asing. Tentu saja, hal ini pasti bersinggungan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sedangkan pendidikan karakter kita berlandaskan nilai filosofis yaitu ‘yang hidup di masyarakat’. Itulah pentingnya pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal dengan memancangkan kembali nilai-nilai itu dan mengintegrasikannya dengan kemajuan zaman.

Berbagai kasus degradasi moral yang melibatkan dunia pendidikan kian meresahkan. Masih ingatkah dibenak kita kasus murid yang menganiaya guru Budi Cahyanto hingga tewas, dan baru-baru ini muncul kasus seorang guru yang menampar sembilan orang muridnya di Purwokerto. Dengan persoalan tersebut, apa yang salah dengan pendidikan karakternya atau itu tidak terlepas dari kesalahan kita untuk tetap mempertahankan kesalahan dan kebodohoan. Tradisi atau budaya yang tidak mendidik, mulai dari korupsi, kolusi, malas, intoleransi, kerakusan, egoisme, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis, kesemuanya ini masih berlangsung, dan ini adalah hasil dari proses pendidikan kita (Suprapto, 2014). Tujuan yang dicapai oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu “mendewasakan” nampaknya masih belum tercapai dengan sempurna. Selain masih melekatnya feodalisme di dunia pendidikan kita, mental-mental yang tak berakhlak tetap dipertahankan. Maka, pendidikan karakter kita bukan lagi menjadi bahan “revolusi mental” karena kita bukan menggali segalanya dari fundamental. Pancasila adalah bukti filosofis seperti yang diungkapkan pada paragraf satu, maka yang perlu dilakukan adalah “restorasi” pendidikan karakter. Itulah sebabnya, urgensi pendidikan karakter yang berbasis kearifan lokal harus diperhatikan, khususnya dalam upaya konkretisasi di lapangan.

 

Intelektualitas, Kemerdekaan Berpikir dan Karakter Pendidikan

            Tanpa disadari, selama ini kita dipaksa menerima nilai secara sukarela di sekolah. Bentuk-bentuk pertentangan dan bantahan menjadi hal yang terlarang. Akhirnya, progres potensi untuk berkembang menjadi stagnan karena berada dalam bayang-bayang tekanan, sekalipun itu bertentangan dengan prinsip kita. Inilah bukti yang menunjukan masih adanya sikap feodal dalam dunia pendidikan kita. Guru dipandang sebagai dewa yang selalu benar dan murid dipandang sebagai kerbau yang serba salah. Maka, selama pandangan itu masih melekat disana, selama itu pula peserta didik akan menjadi manusia yang salah, Einstein berkata, “Everybody is a genius, but if you judge a fish by it’s ability to climb a tree, it will live it’s whole life believing it is stupid”. Tindakan ini masih bisa ditemukan di sekolah yaitu membandingkan anak IPA dan IPS berdasarkan kemampuan fisika atau matematikanya. Ini hanya masalah sudut pandang, akan tetapi

dampaknya akan sangat fatal bila masih tetap berlanjut, terlebih jika mencapai tahap stigma yang dilekatkan.

Rocky Gerung, pernah mengungkapkan, “Setiap hari, intelektualitas kita menurun, dan jangan salahkan siapapun kalau misalnya intelektualitas kita benar-benar anjlok suatu hari nanti”. Pernyataan tersebut benar adanya, kurangnya kreativitas kita dalam berfikir menyebabkan pengetahuan kita yang dangkal menjadi pedoman dalam bertindak dan kita bangga akan kedunguan itu, alhasil kita seolah tahu di tidak tahunya. Kurang bebasnya pikiran kita, menyebabkan kita memandang dunia secara linear. Semua itu, tidak lain karena doktrin pendidikan kita yang mewarisi nilai-nilai penjajah di masa lalu dan bersikap statis. Lulus dengan standar tinggi yang persamakan dan penuh tuntutan, menyebabkan belajar tidak untuk perkembangan hidup dan kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk mendapat nilai-nilai yang tinggi dalam ‘school report’ nya atau untuk mendapat ijazah belaka (Ki Hajar Dewantara, 1964). Dengan adanya nilai-nilai warisan tersebut, pijakan kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya menjadi tersamarkan dan terlupakan. Apabila tidak segera dibenahi akan menjadi racun dalam dunia pendidikan kita. Pengetahuan berawal dari bertanya, kepastian berawal dari skeptis, dan filsafat berawal dari keduanya (Suriasumantri, 2001). Tapi, apabila bertanya saja membuat takut peserta didik, apakah pengetahuan bisa sampai padanya.

Kemerdekaan berpikir membuka peluang bagi keluasan pengetahuan yang diperoleh. Dengan luasnya pengetahuan, maka intelektualitas kita dapat berkembang. Perkembangan baik yang di jaga akan menjadi karakter pendidikan kita. Karakter yang baik dapat di terapkan dalam pendidikan karakter Indonesia. Inilah mengapa penulis menganggap pendidikan karakter yang kita jalani masih keliru. Sikap egostis pemangku pendidikan yang dengan sadar ataupun tidak sadar masih menerapkan nilai-nilai penjajah di dunia pendidikan Indonesia dan bangga terhadapnya membuat silau dan buta dengan apa yang sudah dimiliki, yaitu nilai kearifan lokal laksana bahasa ibu yang menjadi modal awal dalam pengembangan diri, semua nilai itu tertuang dalam butir-butir Pancasila.

Ketiadaan dan kurangnya penegasan jati diri terhadap karakter pendidikan Indonesia membuat kita bingung untuk memijakkan dan melangkahkan kaki pada pendidikan karakter yang ada. Ki Hajar Dewantara dengan konsep trilogi kepemimpinannya sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana pendidik dan peserta didik untuk saling melengkapi. Selain itu, kegelisahannya dengan sistem pendidikan penjajah yang individualistis, feodalistis, dan syarat akan nilai kapitalis menyebabkan mental peserta didik menjadi mental buruh dan penindas, sedangkan nilai pendidikan karakter yang kita usahakan adalah akhlak yang kaya akan nilai religius, sosial, dan nasional. Bagaimana hal itu dapat terwujud apabila dasarnya sudah inkonsisten dan sesat. Maka, yang perlu dibenahi adalah bagaimana dunia pendidikan kita dapat benar-benar ‘merdeka’ dari segala bentuk keburukan yang diwariskan dan dipertahankan. Selain itu, penegasan karakter pendidikan dalam upaya pendidikan karakter harus dipersiapkan dengan matang dan utuh. Oleh karena itu, intelektualitas, kemerdekaan berpikir, dan karakter pendidikan kita akan mencerminkan bagaimana pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan generasi milenial yang berbudaya.

 

Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

            Penegasan jati diri begitu penting sebagai langkah dalam memantapkan pendidikan karakter yang selama ini selalu digaungkan. Pendidikan karakter harus kembali pada muruah Pancasila sebagai landasan filosofis untuk menekan nilai-nilai asing yang terus menggerogoti nilai-nilai bangsa. Demoralisasi yang terjadi adalah bukti kegagalan dalam pendidikan karakter kita yang hanya mengedepankan konsep secara kontekstual dan kurang dipersiapkan untuk menyikapi kehidupan yang kontradiktif (Zubaedi, 2011). Semua ini berkaitan dengan intelektualitas kita yang begitu sempit memandang suatu masalah begitu juga dengan opsional penyelesaiannya. Pengetahuan yang dibangun dan diterima di sekolah hanya sebatas angka di atas ijazah, tidak lebih dari sekadar kebanggaan belaka. Maka, wajar apabila banyak terjadi demoralisasi yang bermuara dari gagalnya implementasi pendidikan karakter akibat begitu percaya akan nilai-nilai asing yang masuk. Kekeliruan dalam konkretisasinya sekalipun belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Pancasila sebagai landasan filosofis kini tidak lagi dimaknai secara utuh, namun hanya sebagai simbolis parsial. Pendidikan yang berbasis kearifan lokal terangkum dalam nilai-nilai Pancasila. Segala bentuk penyimpangan dalam implementasiannya, akan berdampak pada hasil yang diperoleh. Lunturnya nilai-nilai kebangsaan tidak terlepas dari sikap kita yang tidak menyadari keberadaan nilai-nilai itu. Pendidikan karakter dianggap kuno, begitu juga Pancasila, menyebabkan pandangan kita teralihkan kepada hal lain yang lebih modern, tanpa mengindahkan konsekuensi yang akan diperoleh. Pelabelan Pancasila sebagai simbol kuno semata membuat ikatannya kian melemah, alhasil pijakan pendidikan karakter menjadi semakin kabur dan landasan filosofisnya dipandang tidak mampu untuk menyokong lagi keperluan itu. Padahal siapa yang menyebabkan semua ini terjadi. Kerjasama seluruh pihak dan kesadaran seutuhnya diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan ini.

Pendidikan humanis adalah salah satu nilai yang kini mulai tergerus oleh deru zaman. Nilai-nilai inilah yang menjadi harapan pendidikan Ki Hajar Dewantara untuk membendung nilai-nilai imperialis yang masih melekat di Nusantara. Konsepsi tersebut bermuara pada nilai-nilai Pancasila yang mengambil gagasan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Maka sejatinya, pendidikan karakter kita harus bermuara juga terhadap nilai-nilai itu, namun yang terpenting adalah pendidikan karakter yang dijalankan menjadikan manusia Indonesia yang beretika, berakhlak, selalu menghargai perbedaan (bukan hanya toleransi), selalu menerima dan memaafkan serta gotong royong. Penulis yakin bahwa karakter orang Indonesia adalah cinta akan kedamaian, gotong royong, dan beretika. Namun, karena salah menerima, masih bergumulnya dengan keburukan masa lalu, bahkan ada orang jahat yang sengaja membuat perpecahan dengan merusak pendidikan karakter kita secara fundamental, membuat kita terlena dengan kebodohan yang selama ini membelenggu. Model-model seperti inilah yang harus segera di restorasi dengan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan karakter kita. Dengan kata lain, pola pendidikan karakter kita harus menemuka jati dirinya dan penerapannya harus dilaksanakan secara humanis berdasarkan nilai-nilai akhlak yang luhur sesuai ciri kearifan lokal setiap kebudayaan di Indonesia yang dilandasi oleh semangat Pancasila.

 

Pendidikan Karakter Dan Lingkungan

            Telah disinggung sebelumnya, kemerdekaan berpikir mampu meningkatkan kualitas intelektualitas peserta didik. Itulah mengapa suasana belajar dan pembelajaran harus mendukung pengembangan potensi peserta didik. Selain itu, karakter pendidikan kita harus bertopang pada nilai-nilai kearifan lokal yang dirumuskan dalam butir-butir Pancasila dimana semua itu bertujuan agar pendidikan karakter kita memiliki konsep yang tepat untuk diimplementasikan. Namun, semua abstraksi tersebut tidak dapat bermakna apabila belum dilaksanakan secara komprehensif. Oleh karena itu, yang diperlukan sekarang adalah model dari pendidikan karakter itu sendiri.

Sebuah karakter pada dasarnya tersusun dari tiga bagian yang saling berkorelasi, yakni: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Untuk mencapai kebaikan itu, maka pengetahuan, sikap, dan tindakan kita harus berdasarkan pada keinginan yang baik yang dilakukan secara konsisten. Dalam hal ini, diperlukan pembiasaan dalam pemikiran (habits of the mind), dan pembiasaan dalam tindakan (habits of the heart), dan pembiasaan dalam tindakan (habit of the action) (Zubaedi, 2011). Jadi, kunci keberhasilan pendidikan karakter adalah perubahan baik yang konsisten. Akan tetapi, perlu diingat juga, kebiasaan adalah konsekuensi dari keputusan manusia dimana keputusan itu sangat dipengaruhi oleh keadaan, dalam hal ini lingkungannya. Samani & Hariyanto (2013) mengungkapkan bahwa karakter sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakan dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, lingkungan akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk mendorong kebiasaannya, disinilah letak pentingnya pendidikan karakter yang berlandaskan filosofis Pancasila berbasis kearifan lokal yang dimotori oleh kemerdekaan berpikir dalam mencapai intelektualitas yang berkualitas.

Dickinson (2009) menyatakan bahwa pendidikan karakter “creates a meaningful framework and incorporates aspects of social-emotional learning, conflict resolution, violence prevention, social skills training, and service learning”. Dengan kata lain, konsep ini menegaskan bagaimana pendidikan itu dapat menumbuhkan jiwa peserta didik yang berakhlak, paham akan eksistensinya sebagai manusia pribadi dan sosial. Senada dengan pernyataan tersebut, konsep pendidikan karakter sebagaimana yang dicanangkan oleh UNESCO (United for Educational, Scientific, and Cultural Organization), yaitu meliputi: learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar bekerja), learning to be (belajar menjadi diri sendiri), dan learning to live together. Poin pertama berhubungan dengan kualitas intelektualitas kita yang dapat berkembang secara optimal apabila dilaksanakan secara merdeka (anti feodal). Poin kedua adalah bentuk implementasi dari pengetahuan, sama halnya karakter pendidikan kita yang menjadi upaya pendidikan karakter. Poin ketiga adalah bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan atau humanistis dimana manusia dipandang sebagai makhluk yang unik dan tidak bisa disamakan dengan orang lain yang jelas berbeda, konsep ini bagi penulis adalah bentuk kritik terhadap dunia pendidikan kita yang masih memilih kriteria tinggi dalam setiap pencapaian di sekolah. Ingatlah, jika kita menilai ikan untuk memanjat pohon, maka selama itu juga ikan akan dipandang bodoh. Poin terakhir berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Sifat khas masyarakat Indonesia yang gotong royong sudah dari dulu melekat, namun karena ulah asinglah yang merusak persaudaraan itu seperti politik devide et impera pada zaman pendudukan. Maka, meneguhkan nilai-nilai yang kita miliki diharapkan pendidikan karakter yang diimplementasikan mampu merestorasi nillai-nilai kehidupan sosial masyarakat khususnya generasi milenial dan bersama-sama membahu tanggungjawab kita sebagai generasi emas bangsa Indonesia untuk menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.

 

PENUTUP

Sejatinya suatu bangsa akan kuat apabila dia paham dan mengerti akan jati dirinya. Karakter apa yang menjadikannya berbeda dan karakter apa yang ingin dicapainya, semua itu hanya dapat terlaksana apabila kita memiliki landasan yang kuat untuk menopangnya. Pendidikan karakter yang terlepas dari landasan idiilnya akan kehilangan arah dan menyebabkan disorientasi jati diri. Itulah mengapa, pendidikan karakter kita masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Banyaknya kasus-kasus korupsi, demoralisasi, dan kekerasan mencerminkan bahwa pendidikan karakter gagal untuk menciptakan manusia yang dewasa. Itulah mengapa, lingkungan sebagai faktor pembentuk kepribadian mesti dipahami secara utuh dan menyeluruh, bukankah pendidikan karakter dapat berjalan dengan baik apabila dilaksanakan secara komprehensif. Lingkungan inilah yang menjadi nilai kearifan lokal itu, dan semestinya pendidikan karakter mengadopsi hal itu.

Pendidikan karakter yang memandang manusia Indonesia sebagai manusia adalah konsep humanisme yang kabur dalam pemaknaannya, bukan karena konsepnya yang kurang jelas melainkan dalam implementasinya. Semua itu adalah cita-cita Ki Hajar Dewantara yang diwujudkan dalam Taman Siswa, yang mengedepankan upaya ‘memanusiakan manusia’ dengan sentuhan akhlak yang religius. Pada akhirnya, semua pihak harus sadar dengan keadaan ini dan mulai membenahi diri untuk menciptakan kondisi pendidikan yang lebih humanis, merdeka, dan beretika, memperbaiki lingkungan tempat tinggal, dan saling bekerja sama dalam menciptakan iklim belajar yang bersahabat. Oleh karena itu, pendidikan karakter diharapkan dapat mengubah sikap feodalisme dunia pendidikan, memberikan keleluasaan untuk berfikir, dan menegaskan jati diri bangsa yang menjunjung tinggi nilai religius, sosial, dan budaya tanpa mengesampingkan ide dan perkembangan teknologi yang akan diimplementasikan dalam pendidikan karakter khususnya bagi generasi milenial dan generasi berikutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dickinson, J. (2009). Character Education Toolkit. South Carolina: Department of Education.

Howe, N. & Strauss, W. (2000). Millenials Rising: The Next Great Generation. New York: Vintage Books.

Kattsoff, L. (2004). Pengantar Filsafat (terj. Soejono Soemargono). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Ki Hajar Dewantara. (1964). Madjelis Luhur Taman Siswa Yogyakarta: Pidato Kenang-Kenangan Promosi Doktor Honoris Causa.

Rahayu, C, M. (2017). JPPI: Indeks Pendidikan Indonesia di Bawah Ethiopia dan Filipina. [Online]. Diakses dari https://news.detik.com/berita/3454712/jppi-indeks-pendidikan-indonesia-di-bawah-ethiopia-dan-filipina?_ga=2.238171847.67710268.1524734142-1563575038.1524734142#.

Samani, M., & Hariyanto. (2013). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suprapto. (2014). Revolusi Mental Di-mulai dari Pendidikan. [Online]. Diakses dari http://www.jawapos.com/baca/artikel/6669/revolusi-mental-dimulai-dari-pendidikan.

Suriasumantri, J. (2001). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Bandung: Sinar Harapan.

Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.


.