<
Dinamika Budaya dalam Wacana Local Wisdom

Dinamika Budaya dalam Wacana Local Wisdom

      


Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah, wisdom sering diartikan sebagai kearifan/kebijaksanaan. Lokal secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan fisiknya.

Kendatipun kebanyakan mereka mampu beradaptasi dengan kondisi baru, namun acap kali masih ada atau masih tersisa dampak residual yang tidak dapat mereka atasi sendiri. Dalam kondisi macam inilah masyarakat biasanya lalu mendayagunakan modal sosial yang mereka miliki secara optimal. Pendayagunaaan modal sosial tersebut berjalan simultan dengan kebijakan pemerintah yang lazimnya memanfaatkan resources (sumber dana dan sumber daya manusia) milik publik, atau bantuan lembaga-lembaga donor internasional. Modal sosial yang didayagunakan untuk membangun kapasitas adaptif tersebut bisa dipilahkan ke dalam dua kategori yaitu: bonding social capital dan networking (or bridgingsocial capital. Karakteristik aktor sosial, ikatan sosial dan institusi sosial, merupakan dua macam modal sosial yang agak berbeda, karena itu kapasitas adaptif yang dihasilkannya juga berbeda

Bonding social capital mengikat aktor-aktor sosial berdasarkan tempat tinggal, kekerabatan, etnis, agama dan adat istiadat. Jumlahnya tidak terlalu besar. Mereka saling mengenal dan saling melihat, serta lebih suka mengedepankan face to face relationship. Karena itu mudah dipahami apabila bonding social capital semacam itu daya penetrasinya terhadap usaha penguatan kapasitas adaptasi juga tidak teralu kuat. Elemen-elemen modal sosial (seperti trust, commitment dan reciprocity) dipelihara dan dikembangkan melalui jejaring yang terbatas (ikatan bonding). Sementara itu, networking (or bridgiing) social capital mengikat aktor-aktor sosial berdasarkan jejaring yang menembus batas tempat tinggal, kekerabatan, etnis, agama dan adat istiadat. Relasi-relasi sosial di antara mereka bisa terjalin melalui teknologi informasi dan komunikasi, karena itu mudah dimengerti apabila peran networking (or bridgingsocial captal dalam mengembangkan kapasitas adaptif lebih kuat daripada bonding social capital.

Namun apa pun karakteristik modal sosial tersebut, suatu hal yang sama-sama terendap didalamnya adalah sebuah energi atau kekuatan yang mampu meningkatkan kapasitas adaptif di kalangan masyarakat, sehingga tidak larut dalam kepedihan akibat dampak negatif yang timbul dari perubahan lingkungan hidup, Energi itu mengalir melalui jejaring yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat sipil. Energi itu mengikuti rules, sumber daya (resources), dan strategi menanggung risiko (risk-strategy) yang menekan dalam kehidupan masyarakat sipil. Apakah itu berarti bahwa modal sosial selalu selektif untuk meningkatkan kapastias adaptif masyarakat dalam merespon dampak negatif yang timbul dari perubahan lingkungan hidup? Sekali lagi tidak mudah menjawabnya. Dalam kehidupan nyata acap kali terlihat bahwa ketika modal sosial menjadi andalan meningkatkan kapasitas adaptif, justru membuat pemerintah berpangku tangan, lupa akan kewajibannya memberi pelayanan publik secara optimal, sementara itu para pelaku bisnis tetap serakah, buta melihat penderitaan sesama.

Peran Broker

Salah satu topik penting dalam diskusi modal sosial adalah peran broker. Pembahasan tentang broker dan modal sosial lazim diawali dari ilustrasi tentang hubungan sosial yang terjalin antara dua individu atau kelompok (misal: individu atau kelompok A dan B). Diantara individu atau kelompok A dan B dibayangkan terdapat kesenjangan koneksi (lack od connection). Kesenjangan koneksi tersebut kemudian menarik kesempatan individu atau kelompok lain (misal: individu atau kelompok C) untuk berperan sebagai broker (makelar). Kesenjangan koneksi tersebut berupa ‘structure hole’, dan ketika individu atau kelompok C dapat memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu maka individu atau kelompok C tersebut menjadi broker. Dalam konteksi ini, broker menempatkan diri dalam posisi menjembatani kepentingan dan mengembangkan akses indiviu atau kelompok A dengan B. Broker juga memiliki kemampuan untuk mengontrol  informasi yang beredar dianatara individu atau kelompok A dan B. Kemampuan untuk menjembatani kepentingan, mengembangkan akses dan mengontrol informasi tersebut dapat disebut sebagai modal sosial. Semakin tinggi kemampuan yang melakat pada individu atau kelompok tersebut, maka semakin besar pula modal sosial yang dimiliki.

Kemampuan semacam itu selanjutnya dapat meningkagtkan kapasitas individu atau kelompok broker (C) meraih performance atau kinerja yang baik, karier yang sukses, serta kreativitas dan inovasi yang amat berharga. Modal yang dimiliki individu atau  kelompok broker (C) bukan dalam bentuk keterampilan (skill), dan bukan tingkat pendidikan (human resources), juga bukan besaran uang (finansial), tetapi kepiawaian mengembangkan relasi-relasi sosial. Kepiawaian tersebut bisa membuat individu atau kelompok broker menjadi pihak yang memperoleh keuntungan lebih besar daripada individu atau kelompok A dan B. Konteks kegiatan individu atau kelompok broker (C) tersebut bisa dalam lingkungan positif tetapi bisa pula dalam lingkungan negatif (dark side). Konteks kegiatan dalam lingkungan positif misalnya menjembatani individu kelompok A dan B yang sedang konflik, baik karena kepentingan ekonomi, ideologi politik, maupun hanya karena salah pengertian. Dalam konteks ini, peran individu atau kelompok C adalah sebagai mediasi untuk membangun perdamaian. Individu atau kelompok broker juga bisa menjembatani pemasaran hasil produksi, misalnya antara petani perkebunan dengan pabrik. Sebagai contoh di Madura, pedagang Cina bisa menjembatani pemasaran hasil pertanian tembakau dengan pabrik rokok. Konteks kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok broker (C) sebenarnya bisa pula dalam lingkungan yang bersifat negatif. Sebagai contoh dalam kasus perkara pengadilan. Individu atau kelompok broker tersebut bisa menjadi bagian dari mafia pengadilan (makelar kasus) yang menjembatani kepentingan polisi, jaksa, dan hakim dengan kepentingan terdakwa. Para makelar kasus tersebut sebenarnya juga mengembangkan modal sosial, tetapi untuk kepentingan yang bersifat negatif, karena menodai rasa keadilan masyarakat.

 

 

Referensi:

  1. Kim, Philip H. dan Howard E. Aldrich, 2005, Social Capital and Entrepeunership, New Publisher Inc, Hanover USA, 9-16.
  2. Lin, Nan, 2004, “Building a Network Theory of Social Capital”, dalam Nan Lin Karen Cook Ronald S. Bur, Social Capital, A Theory of Social Structure and Action, Cambridge University Press, Cambridge.
  3. Herreros, Francisco, 2004, The Problem of Forming Social Capital: Why Trust?, Palgrave Macmillant, New York.
  4. Ostrom, Elinor dan T. K. Ahn, “The meaning of social capital and its link to collective action” dalam Svendsen, Gert Tinggaard dan Gunnar Lind Haase Svendsen (editors), Handbook of Social Capital, The Troika of Sociology, Political Science and Economics, Edward Elgar, Cheltenham, UK
  5. Absori. 2005. Kebijakan Pemberdayaan PKL di perkotaan dengan Pendekatan Partisipatif, Studi Kasus di Surakarta. Surakarta: FH-UMS

 


.