<
Tawaran Langkah Membangun Identitas Lapmi (Lembaga Pers HMI)

Tawaran Langkah Membangun Identitas Lapmi (Lembaga Pers HMI)

      


Terhitung sejak tahun 2016, perkembangan lembaga pengembangan profesi (LPP) di tubuh HMI Cabang Bandarlampung berlansung pesat. Sejauh ini, kontemplasi yang lahir dari kreatifitas kader HMI telah memberi ghirah bagi keberlansungannya dalam menakar daya cipta sebagai sarat utama atas manifestasi dari kontitusi HMI. Secara ri’il kita harus mengamini bahwa; Keyakinan, Tekad, dan kreatifias adalah modal utama bagi Kader HMI di era post-modernis. Tanpa ketiga poin tersebut, upaya untuk memperjuangkan kemashlatan umat yang hanya bermodal retrorika dan lobi tidak akan pernah berhasil. Maka dapat diasumsikan bahwa kehadiran Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) bukanlah semata-mata sebagai pra-eksistensi HMI di era millenial-faktanya selama ini kekosongan ruang di ranah dunia virtual belum terwujud sehingga memungkinkan kehadiran lembaga Pers adalah tugas utama bagi kader dalam menghadapi krisis multidimensional yang menimpa negeri ini sejak terlantiknya Yefri Febriansyah sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bandarlampung.

 

Namun sepertinya pergerakan Lapmi Bandarlampung-kini perlu dilakukan elaborasi kembali nilai-nilai yang menjadi dasar dalam menentukan arah perjuangannya. Kerisauan penulis yang lahir dari cerminan keberhasilan Lapmi Ciputat melalui daring ruangonline.com mampu menggambarkan ketidaksanggupan pengurus bahwa di tingkat lokal yang menakhodai Lapmi saat ini belum mampu memberi kesan yang berbeda bagi keberlansungan perkembangan kualitas informasi dengan kreatif. Meski tidak bisa dipungkiri, bahwa perjalanan Lapmi cabang bandarlampung barulah seumur jagung. Tetapi itu bukanlah alasan bagi kader yang berpikiran revoluisoner. Produksi atau karya yang dihasilkan seharusnya tidak hanya sekedar menjadi konsumsi pribadi dengan berita-berita seremonial yang pada akhirnya hanya mencerminkan kebangkrutan Lapmi dalam menyebarkan wacana kritis.

 

Alhasil hingga suksesi konfercab, hingga pada waktu regenerasi kepengurusan HMI Cabang Bandarlampung periode 2018-2020. Lapmi belumlah menujukkan progresifitas bila ditilik kembali pada tataran empiris. Maka seyogyanya demi menguatkan legistimasi lembaga pers mahasiswa islam yang independen perlu dilakukan bimbingan dari pengurus cabang. Pasalnya, inilah yang harus pertama kali di support oleh pengurus cabang terlantik.

 

Meski sebetulnya Lapmi sendiri belum memiliki rule model untuk diikuti. Parahnya lagi, belum ada identitas atau ciri khas bagi Lapmi dalam memproduksi karya-karyanya untuk dikomsumsi publik. Minimnya karya fisik berupa artikel semakin menguatkan fakta bahwa kelemahan identitas semakin mendekatkan pada titik kulminasi. Kader seakan linglung, seakan kebingungan mencari jati diri. Bahkan ketika dihadapkan pada persoalan keumatan yang menyangkut kesejahteraan, dan realita tentang korporasi kemaruk hingga masalah internal menyangkut problem pengkaderan. Lapmi tidak bisa menawarkan wacana sedikitpun.

 

Maka poin krusial dari evaluasi di atas sebetulnya terletak pada persoalan identitas, karena bila berbicara kualitas sumber daya kader, kita tidak bisa menuduh terang-terangan atau mempertanyakan kembali kualitas kader yang dihimpun ke dalam Lapmi secara sukarela. Barangkali bila benar adanya, maka pertama-tama yang perlu diawali adalah menentukan identitas Lapmi sebagai media alternatif di arus virtualisasi informasi.

 

Menentukan Identitas

 

Era digitalisasi menawarkan jalan terbuka bagi Lapmi. Secara konkrit Lapmi harus fokus ke salah satu trend virtualisasi abad ke-21, diantaranya melalui mekanisme media sosial dan media online. Media sosial menawarkan orientasi yang mengarah pada eksistensi organisasi, sedangkan media online lebih mengacu pada kompleksitas suatu karya-tidak lain secara teknis Lapmi dituntun untuk meniru Tirto.id, ataupun Rilis.id.

 

Alasan kuat mengapa harus Tirto mengingat Media ini secara penetratif sangat selaras dengan intelektualitas kader sebagai kaum intelektual. Blumler dan Kavanagh sebagaimana dikutip oleh Ward & Cahill dalam tulisan mereka Old and New Media: Blogs in The Third Age of Political Communication (2007) menyadari era kemunculan komunikasi di mana media cetak dan penyiaran mulai kehilangan tempatnya sebagai saluran utama komunikasi politik di era melimpahnya informasi. Ide, informasi, dan berita politik disebarluaskan melalui media online. Terlebih keunggulan data verifikatif dalam setiap publikasi media online oleh tirto.id memang sejalan dengan upaya yang diusung HMI sebagai misionaris muslim intelektual.

 

Sejalan dengan tirto sebagai media online, Lapmi harus memberikan Pola acak komunikasi yang dimainkan dengan titik tekan pada “Verifikasi” bukan pada agitasi atau upaya-upaya membentuk perang opini secara stimultan. Ketika membaca karya yang dihasilkan Lapmi, publik secara sadar harus menggunakan nalarnya, bukan dijadikan mata rantai kebohongan dan manipulasi psikologis ala viral media sosial. Seperti Tirto, Lapmi dituntut untuk mengentaskan operasi second hand reality atau realitas buatan. Meminjam istilah C Wright Mills dalam buku klasiknya The Power Elite (1968) fenomena ini sebagai penyajian dunia “pulasan”. Jika Mills dulu melihat dunia pulasan ada di media massa, saat ini nyaris sempurna ada di media sosial warga. Bila upaya untuk mewujudkan identitas Lapmi sebagai media kritis yang berpatokan pada data verifikatif ini berhasil maka secara tidak lansung Lapmi sudah berperan penting sebagai media alternatif yang mengutamakan pencerdasan umat.

(Aqil N; Mahasiswa FISIP Universitas Lampung)

TAG(S): LAPMI



.