<
Sejarah Jakarta dan Bandung Dalam Benak Mahasiswa

Sejarah Jakarta dan Bandung Dalam Benak Mahasiswa

 


Bandung, Mahasiswa Indonesia – Sebagai negara yang sangat luas, sulit bagi administrator negara untuk secara bersama mengelola seluruh daerah. Sampai saat ini hanya ada beberapa kota besar yang menjadi kota-kota sibuk karena banyaknya kegiatan yang terjadi, sehingga ada kesenjangan antara kota-kota tersebut dengan daerah lainnya yang mungkin masih tidak terlalu terperhatikan. Sebut saja Jakarta sebagai ibu kota negara dan Bandung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota megapolitan itu.

Secara geografis, Jakarta dan Bandung letaknya berdekatan, bahkan saat ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam. Apalagi dengan adanya kereta cepat Jakarta-Bandung yang sedang dibangun dan konon katanya dapat mempersingkat waktu perjalanan menjadi hanya 30 menit. Kesibukan dua kota besar yang berdekatan ini menuntut untuk dilakukan usaha untuk mempersingkat waktu tempuh.

Dua kota besar ini bukan hanya sekarang saja memiliki hubungan, tetapi hubungan tersebut sudah ada sejak dahulu. Perlawanan dari dua daerah ini cukup besar sehingga Jakarta menjadi ibu kota negara dan Bandung yang memiliki julukan “Bandung Lautan Api” menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat. Bahkan media Mahasiswa Indonesia pun lahir di Bandung dan dibidani oleh mahasiswa-mahasiswa Bandung saat itu.

Jakarta dan Bandung seperti dua orang sahabat yang memiliki visi yang sama dalam sejarah, yaitu sama-sama berjuang dalam mempertahankan kebenaran dan menyadarkan masyarakat. Keberadaan universitas-universitas yang cukup kredibel dan melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang cerdas juga menjadi faktor penyebab Bandung dan Jakarta memiliki hubungan yang baik. Sebut saja Universitas Indonesia, Trisakti, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan lainnya. Organisasi-organisasi mahasiswa yang berasal dari berbeda-beda universitas pun bergabung. Di Jakarta mereka bergabung dalam Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) dan di Bandung mereka bergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Ragamnya sejarah yang ditulis di dua kota ini pun akhirnya membuatnya saat ini menjadi kota-kota yang terkenal dan memiliki banyak peninggalan sejarah. Jakarta sebagai pusat dari pergerakan saat itu, bahkan menjadi tempat di mana kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, mengundang banyak orang untuk hadir ke sana untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari berdagang sampai politik. Urusan diplomatik dan perundingan tak jarang juga dilakukan di Jakarta. Sehingga gerakan penyadaran kepada masyarakat juga banyak dilakukan di kota ini. Pun di Bandung, kota yang meninggalkan rindu bahkan saat baru berpikir untuk meninggalkan, juga banyak peristiwa sejarah terjadi.

Misalnya yang terjadi pada tanggal 23 Maret 1946 di Bandung, solidnya masyarakat saat itu karena tak ingin kota yang mereka cintai digunakan oleh tentara sekutu dan Nica Belanda sebagai markas strategis militer mereka, membuat masyarakat Bandung, yang kira-kira saat itu berjumlah 200.000 orang, secara bersamaan membakar rumah mereka selama tujuh jam. Inilah asal mula julukan “Bandung Lautan Api”.

Selain itu, Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia Afrika) juga pada tahun 1955 digelar di Bandung, tepatnya di Gedung Merdeka. Forum yang mempertemukan negara-negara yang baru merdeka ini membangun hubungan untuk menjalin kerja sama ekonomi dan kebudayaan di wilayah Asia-Afrika dan bersama-sama menentang tindakan kolonialisme yang dilakukan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet pada waktu itu.

Tetapi soal Jakarta dan Bandung yang mencetak banyak pemikir dan pejuang tentu bukan masalah tempat, tetapi memang karena mereka semua adalah para pemikir dan pejuang yang hebat. Sejarah yang tertulis dalam memori bangsa Indonesia tentang Jakarta dan Bandung tentunya tidak akan tercipta tanpa adanya pemuda dan mahasiswa saat itu. Kampus-kampus yang berdiri di dua kota ini adalah juga rumah bersalin dari para aktivis dan patut diperjuangkan dan dipertahankan. Tanpa mahasiswa, Indonesia tak mungkin menjadi sebesar ini. Tanpa Jakarta dan Bandung, perlawan tak akan sekeras ini. (mli)


.