<
Politik Pinjaman Utang Sebagai Strategi Ekonomi China

Politik Pinjaman Utang Sebagai Strategi Ekonomi China

 


Mahasiswa Indonesia – Perubahan paradigma abad ke 21 yang terus menuntut ke arah modernisasi berimplikasi pula cara memahami apa yang disebut perang bentuk baru. Perang bentuk baru di era modernisasi bukan perang yang memakai peralatan senjata dan lain sebagainya, perang bentuk baru mencipatakan negara-negara dunia untuk melakuan kebijakan ekonomi nasional yang dapat mempengaruhi kebijakan dunia.

Belakangan ini kita dihebohkan dengan perang dagang antara Amerika-China. Perang dagang diantara kedua negara ini diakibatkan oleh tarik mernariknya kebijakan-kebijakan dua negara adidaya. Awalnya Amerika Serikat dengan Presiden barunya Donald Trump menteapkan tarif import yang lebih besar terhadap China, kemudian dibalas oleh China dengan sama-sama menaikan tarif impor, efek saling membalas ini berpengaruh terhadap ekonomi dunia. Bahkan negara-negara berkembang termasuk Indonesia menjadi korban dari konflik dua negara ini, termasuk menurunya nilai Rupiah terhadap dollar AS.

Strategi Pinajaman Utang
Pengaruh China terhadap ekonomi global pada saat ini semakin besar, tidak dapat dipungkiri negara-negara berkembang banyak memiliki ketergantungan bantuan ekonomi dari negara China.

Jika kita pahami lebih dalam mengenai gelontoran dana China terhadap negara-negara berkembang dalam bidang infrastuktur boleh jadi ini ialah sebuah cara bentuk baru penguasaan ekonomi dunia. Bantuan-bantuan finansial digelontorkan untuk dapat memberikan kerjasama terhadap negara berkembang. Sri Lanka misalnya yang kini harus menjaminkan pelabuhannya pada China selama 99 tahun karena tak mamu membayar pinjaman sebesar 1,4 Miliar dollar AS, selain itu seperti diberitakan selain Sri lanka, Pakistan, Maladewa, Djibouti, Mongolia, Laos, Montenegro, Tajikistan, dan Kirgistan meminta restruktisasi utang karena tidak mampu membayar pinjaman

Beberapa waktu lalu misalnya ada Konfrensi Tingkat Tinggi antara negara China dengan negara-negara Afrika, konfrensi tersebut agendanya untuk membahas perkembanagan pembangunan di Afrika. Namun sudah banyak yang memprediksi bahwa kerjasama yang dilakukan China bukan semata-mata memberikan bantuan tetapi ada agenda lain untuk menjadi penguasa ekonomi baru setelah Amerika Serikat, yang selanjutnya bukan tidak mungkin terjadi seperti kasus Sri Lanka akibat tidak dapat membayar hutang menyerahkan sebagian kawasannya.

Meniru China
Kekuatan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh pengorganisasian sumber daya manusia dalam mengelola kekayaan alamnya. Kekayaan alam China yang seperti pada sungai Kuning yang telah terkenal selama berabad-abad memberikan kesejahteraan bagi warganya.
Namun dibalik semua ini negara Indonesia harus berkaca kepada China, China mampu membangun fundamental ekonomi yang kuat meskipun mempunyai penduduk besar. Di samping itu pengelolaan sumber daya alam yag dapat menghasilkan kekayaan negerinya menjadi pendorong pula negeri ini dapat dihormati oleh dunia. Kekayaan Sumber daya alam Indonesia sudah dikenal oleh seluruh dunia, tetapi sangatlah amat disayangkan itu semua hanya dimanfaatkan oleh bangsa lain. Bangsa ini harus tumbuh dan berani mengelola kekayaan alam sendiri. UUD 1945 Pasal 33 ayat 3 mengamanatkan kekayaan alam dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(AZ)


.