<
Relevankah Skripsi Menjadi Syarat Kelulusan Seorang Sarjana?

Relevankah Skripsi Menjadi Syarat Kelulusan Seorang Sarjana?

 


Mahasiswa Indonesia – Persaingan hidup di masyarakat yang global semakin lama akan semakin ketat. Apalagi di Indonesia yang sampai notabene negara berkembang. Perlu ada gebrakan untuk terus maju agar negara ini dapat dikategorikan sebagai negara maju bila mengikuti klasifikasi dunia internasional.

Di Indonesia saat ini sedang digembor-gemborkan tentang persoalan sumber daya manusia. Tak jarang permasalahan yang ada di Indonesia saat ini dengan mudah dijawab disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni padahal kaya akan sumber daya alam.

Kualitas sumber daya manusia sendiri diukur melalui sebuah indikator yang disebut dengan indeks pembangunan manusia (IPM). Ada tiga dimensi dasar dari IPM, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (pengeluaran).

Sebagai mahasiswa, dimensi pendidikan menjadi dimensi yang musti disoroti. Untuk mendukung peningkatan pendidikan, stigma-stigma pun dibangun, misalnya seorang warga negara harus sekolah sampai tinggi bila ingin berhasil. Magister dan Doktor pun tak jarang dijumpai saat-saat ini. Namun sebelum sampai ke sana, gelar sarjana harus terlebih dahulu dimiliki.

Seseorang baru mendapat gelar akademik sarjana saat ia menyelesaikan ujian karya tulisnya, yaitu skripsi. Tentu untuk menyelesaikannya ada prasyarat yang harus dilalui, misalnya ketercapaian SKS. Tetapi, pada akhirnya skripsi yang menentukan kelulusan seorang sarjana.

Lantas apa arti dari masa studi yang selama ini ditempuh? Tentu ini menjadi pertanyaan bagi mahasiswa yang saat ini (mungkin) sedang depresi menghadapi skripsinya. Isu-isu kelulusan sarjana tanpa skripsi pun beberapa kali muncul di kalangan mahasiswa dan kampus, namun kemudian hilang begitu saja.

Relevan atau tidak, tentu banyak variabel yang perlu diukur. Akan tetapi, penyelenggaraan pendidikan tinggi memiliki tiga dasar, atau dikenal dengan “Tri Darma Perguruan Tinggi”, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Skripsi adalah bentuk penelitian yang ilmiah, yang diharapkan dapat dilakukan oleh mahasiswa. Jika melihat kembali pada Tri Darma tersebut, maka bukan skripsi yang penting, tetapi substansi dari skripsi tersebut, yaitu penelitian.

Jadi jangan patah semangat, tentu tak mudah menjadi mahasiswa. Bahkan untuk mendapatkan status mahasiswa saja perlu perjuangan yang berat. Tetapi perlu adanya keyakinan dan tindakan konkret bahwa kesulitan ini nantinya akan terbayar. (mli)


.