<
Malas Baca Buku? Coba Dulu “Bumi Manusia”nya Pram!

Malas Baca Buku? Coba Dulu “Bumi Manusia”nya Pram!

      


Bandung, Mahasiswa Indonesia – Siapa yang tidak pernah mendengar kalimat “buku adalah jendela dunia”? Atau “rajin pangkal pandai”? Sejak kecil dulu, doktrin-doktrin untuk mengembangkan kapasitas diri dengan rajin membaca telah diberikan oleh petugas-petugas di lingkungan pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, bahkan  sampai kita menjadi mahasiswa. Dan tentu orang-orang yang telah sering mendengar doktrin tersebut pasti memahami bahwa membaca adalah kegiatan yang sangat penting dan mampu untuk mengembangkan pikiran manusia. Tapi permasalahannya adalah rasa malas yang menyerang saat buku mulai dibuka halaman pertamanya. Lalu bagaimana mengatasinya?

Sama seperti setiap aktivitas, yang menyenangkan tentu akan dilakukan. Membaca pun begitu. Tentu kita akan rajin membaca buku bila kita menyukai sesuatu di dalamnya. Bahkan untuk memulai membaca buku tidak perlu mebaca buku atau tulisan yang terlalu berat. Pilihlah buku yang menarik yang membuat kita ingin membacanya. Misalnya, buku yang cukup melegenda, penuh pesan kehidupan, tetapi tetap memiliki cerita yang menarik yang membuat kita terbawa alurnya, yaitu buku karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia”.

Image result for bumi manusia
Buku Bumi Manusia

Buku ini adalah buku pertama dari TetralogiBuru yang ditulis oleh Pram. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1980. Nama “Buru” dipilih karena saat Pram menulis karya ini, ia sedang berada di Pulau Buru. Buku ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Minke yang merupakan orang pribumi yang bersekolah di Hogereburgerschool (HBS), yaitu sekolah dengan level pendidikan menengah umum di zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini diperuntukkan untuk orang Belanda, Eropa, atau elite pribumi.

Minke merupakan seorang yang rajin menulis dan menerbitkan tuliusannya di koran-koran. Minke cukup terkenal karena karyanya. Apalagi Minke sering menuliskan tentang kondisi bangsanya yang sedang dijajah saat itu. Pram menggambarkan sosoknya sebagai pemuda yang serius, yang sudah tidak sepantar lagi pemikirannya dengan anak-anak muda seumurannya. Bahkan Minke pernah merasa bahwa ia tidak cocok lagi berada dengan lingkungan yang pemikirannya kekanak-kanakan pada saat ia dalam masa pengadilan. Minke adalah pemuda yang siap berjuang untuk membela keadilan yang selama ini tidak ia rasakan.

Selain penggambaran tentang sosok Minke yang heroik dalam tulisannya, kisah cinta Minke dengan seorang gadis cantik bernama Annelies Mellema yang merupakan keturunan Eropa. Pertemuan pertama Minke dan Annelies dituliskan dengan begitu indah oleh Pram, seakan-akan pembaca dibawa pergi secara langsung ke masa itu sambil berbarengan dengan mereka menaiki delman saat Minke dan Annalies bepergian. Annelies memang sosok yang cantik dan memikat hati Minke, mungkin kalau Tuhan membeberkan rahasianya, Annelies memang jodoh Minke.

Masing-masing tokoh dalam buku ini memiliki cerita menariknya sendiri-sendiri. Bahkan cerita tentang ibu Annelies, yang sering disapa dengan Nyai Ontosoroh, begitu menginspirasi pembaca. Julukan “Nyai” adalah sebuah sebutan yang diberikan kepada seorang perempuan yang dianggap tidak memiliki norma kesusilaan karena menjadi seorang istri simpanan. Tetapi yang menarik dari sosok Nyai adalah keinginannya untuk terus belajar dan membuktikan bahwa panggilan “Nyai” yang diberikan kepadanya tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan kemampuan seseorang. Nyai membuktikannya dengan kinerjanya sebagai orang yang mengatur sebuah usaha pertanian seluas 180 ha yang bernama Boerderij Buitenzorg.

Nyai juga memiliki pendirian bahwa kondisinya selama ini yang dianggap sebelah mata dapat dibantahkan dengan karya dan hasil kerjanya. Bukan hanya soal perusahaannya, tetapi juga bagaimana Nyai membesarkan Annelies putrinya. Nyai mendidik Annelies dengan perhatian dan harapan yang tinggi, agar Annelies tidak perlu bernasib sama seperti dirinya.Apa lagi saat sadar bahwa Annelies juga mencintai Minke, tak perlu ragu ia meminta Minke untuk mencium putrinya di depan matanya karena ia tahu bahwa Annelies menginginkannya.

Dianggap Menyebarkan Ideologi yang Bertentangan Dengan Negara

Walaupun isinya begitu menarik, buku ini pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung pada tahun 1981. Buku ini dianggap menyebarkan paham-paham Marxisme-Leninisme dan Komunisme yang dilarang oleh konstitusi. Padahal di dalamnya tidak ada ajaran ideologi-ideologi tersebut. Secara tegas Jaksa Agung melarang buku ini, (dan juga Anak Semua Bangsa) melalui SK-052/JA/5/1981. Larangan ini benar-benar merupakan strategi politik, karena secara konten tidak ada yang bertentangan, apalagi soal penyebaran ajaran suatu ideologi.

Karena dilarang, toko-toko yang menjual buku ini diserbu oleh Kejaksaan Agung untuk menyita buku Pram ini. Usaha ini pun ternyata tidak begitu berhasil, karena dalam suatu perhitungan yang dilakukan sampai bulan Agustus 1981, hanya ada 972 buku yang disita, padahal menurut suatu laporan, 20.000 buku Pram ini telah beredar.

Difilmkan

Karena antusias masyarakat yang menyukai buku ini, fenomena ini menjadi peluang bisnis, terutama bisnis film yang saat ini sedang popular. Bumi Manusia rencananya akan difilmkan. Tetapi publik menyoroti khusus soal pemeran Minke dalam filmnya. Pro dan kontra muncul  karena sang sutradara, Hanung Bramantyo, memilih Iqbaal Ramadhan, yang namanya cukup melejit saat memerankan “Dilan”.

Selain karena pemeran utamanya, banyak pecinta karya sastra yang juga kecewa karena dengan memfilmkan karya tulis Pram, bayangan tentang keindahan cerita di dalamnya dapat rusak bila divisualisasikan dengan buruk. Hal ini karena buku tersebut telah membekas di benak para pembaca. Keindahan, ketenangan, dan perjuangan yang dituliskan dalam buku itu begitu cantik dan sayang bila dirusak.

Bumi Manusia hanyalah satu dari ribuan buku menarik yang perlu dibaca. Apapun bukunya, membaca buku tidaklah boleh dilewatkan, apalagi bagi para mahasiswa. Buku adalah kawan mahasiswa yang siap menemani mahasiswa sampai diujung kelulusannya. Jangan lupa untuk selalu membawa buku, jaga-jaga kalau ingin membunuh waktu. (mli)


.