Oleh: Detrya Izzati Adzkiyah Mahasiswa.co.id - Pernah nggak sih kamu dengar ada teman yang galau brutal gara-gara "putus" sama pacar Discord-nya? Atau senyum-senyum sendiri seharian cuma karena dikasih rare item sama teman Roblox yang bahkan belum pernah dia temui wajah aslinya? Atau jangan-jangan... itu kamu sendiri? Hahaha Jujur saja, mungkin kamu pernah merasa jantung berdebar lebih kencang pas nama kamu di- mention di server Discord pas tengah malam. Atau kamu merasa hampa dan kehilangan saat “pacar” Role-Play (RP) kamu tiba-tiba offline berhari-hari tanpa kabar. Padahal, kalau dipikir pakai logika, ini konyol. Kalian nggak pernah ketemu, nggak pernah pegangan tangan, bahkan mungkin kamu nggak tahu nama aslinya siapa. Tapi kok rasanya real banget, ya? Sakitnya kerasa, senangnya juga kerasa. Congrats! Kamu nggak sendirian. Ini bukan cuma kejadian aneh di kamarmu, ini udah jadi fenomena global. Dan pertanyaan terbesarnya adalah: Mengapa? Kenapa kita begitu gampang "baper" dan jatuh cinta pada seseorang yang wujudnya hanya teks, avatar kotak-kotak, atau bahkan tidak kita ketahui sama sekali? Jawabannya, tentu aja, bukan karena kamu ditakdirkan ketemu soulmate di server random itu. Sorry to say, but mostly itu bukan cinta. Yang kamu rasain itu adalah koktail psikologi yang powerful banget, yang emang sering bikin otak kita "ketipu". Tenang, ini bukan berarti kamu aneh atau bulol kok. Secara sederhana, ini gabungan maut dari tiga hal:
  1. Otak kita yang doyan ngisi kekosongan,
  2. Dunia maya yang bikin kita ngerasa aman buat oversharing,
  3. Rasa sepi di dunia nyata yang (mungkin) lagi kamu
Coba pikir deh, di dunia nyata, naksir orang itu ribet. Kamu lihat cara dia ngomong, bau badannya asem kalau keringetan, atau cara makannya yang bikin ilfeel. Banyak red flag yang langsung kelihatan. Tapi di Discord atau Roblox? Nol. Kamu cuma lihat username keren, suaranya yang attractive, dan chat yang manis-manis doang. Nah, karena minim data visual ini, otakmu langsung kerja rodi. Dia benci kekosongan, makanya dia ngisi bagian-bagian yang kosong itu dengan imajinasi ideal kamu. Secara nggak sadar, kamu menempelkan semua 'ideal type' kamu ke dia. Kamu bayangin suaranya yang lembut, orangnya pasti peka, dan wanginya harum. Padahal aslinya? Belum tentu! Jadi secara ilmiah, kamu sebenernya nggak jatuh cinta sama dia. Kamu jatuh cinta sama imajinasi kamu sendiri yang kebetulan kamu 'pakein' ke dia. Sakit sih, tapi faktanya gitu.. Faktor selanjutnya adalah soal “topeng”. Pernah nggak sih, ngerasa lebih gampang curhat masalah keluarga atau deep secret sama temen online dibanding temen sendiri? Tenang, itu ada ilmunya. Para psikolog nyebut ini Online Disinhibition Effect. Karena kita nggak tatap muka, tembok pertahanan kita runtuh. Kita merasa "aman" di balik layar. Akibatnya, kita jadi oversharing alias curhat nggak pake nge-rem. Obrolan deep talk jam 2 pagi di Discord itu menciptakan ilusi kedekatan yang instan. Rasanya kayak udah kenal dia 10 tahun, padahal baru add friend 2 hari. Ini namanya False Intimacy atau keintiman palsu. Hubungan yang di dunia nyata butuh waktu berbulan-bulan untuk intimate, di dunia maya bisa kejadian cuma dalam semalam gara-gara kita "open" secara emosional terlalu cepat. Dan terakhir, soal rasa sepi yang memicu kecanduan. Sadar nggak, nungguin dia online atau menunggu notifikasi balasan itu rasanya nagih banget? Game dan medsos memang didesain buat memainkan otak kita. Setiap kali ada notifikasi “ting!” atau nama dia muncul di layar, otakmu melepaskan zat kimia bernama Dopamin. Ini zat yang sama yang bikin orang kecanduan judi atau cokelat. Rasa deg-degan yang kamu kira tanda cinta itu? Seringkali itu cuma otakmu yang lagi "sakau" minta jatah dopamin. Kamu ketagihan sensasi penantiannya, ketagihan validasinya, bukan beneran sayang sama orangnya. Waduh nggak tuh! Jadi, Apakah Semuanya Palsu? Nggak juga. Rasa deg-degan yang bikin kamu susah tidur itu real. Dopamin yang banjir di otak kamu itu valid secara biologis. Kebahagiaan pas mabar itu juga beneran ada. Tapi, objek dari perasaan itu, si avatar skena atau si abang Discord yang misterius, seringkali cuma ilusi yang otak kita ciptakan sendiri. Boleh nggak baper virtual? Boleh banget, namanya juga manusia. Nikmati serunya, nikmati deg-degannya. Tapi sesekali, coba deh letakkin HP, keluar kamar, dan touch some grass. Karena seindah-indahnya avatar Roblox dan se-ganteng apapun suara dia di Discord, dia nggak bakal bisa memegang tangan kamu saat kamu butuh sandaran di dunia nyata. Biodata Penulis: Detrya Izzati Adzkiyah adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang hobi mengamati perilaku netizen sembari sesekali login Discord. Dapat disapa melalui Instagram di @detryadzki.