Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap aktivitas ekonomi dan dunia bisnis di Indonesia. Salah satu fenomena yang semakin berkembang adalah live shopping, yaitu metode berbelanja secara daring melalui siaran video langsung yang memungkinkan penjual mempresentasikan produk dan berinteraksi dengan calon pembeli secara langsung. Metode ini memberikan pengalaman berbelanja yang berbeda dibandingkan dengan perdagangan daring konvensional karena konsumen dapat melihat demonstrasi produk, mengajukan pertanyaan, dan memperoleh informasi sebelum melakukan pembelian.
Fenomena live shopping menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara perusahaan memasarkan produk, tetapi juga memengaruhi perilaku konsumen dan persaingan bisnis. Perusahaan dituntut untuk menyesuaikan strategi pemasaran agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekonomi digital.
Berdasarkan laporan Katadata Insight Center (KIC) yang dipublikasikan pada Desember 2024, survei mengenai perilaku konsumen dalam live shopping melibatkan 1.381 responden berusia 18–44 tahun. Survei tersebut dilaksanakan pada 5–18 November 2024 di sepuluh kota besar di Indonesia. Hasil survei memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang mendorong konsumen menggunakan fitur live shopping, termasuk promosi menarik dan kemudahan memperoleh informasi produk secara langsung.
Dalam perspektif ekonomi manajerial, fenomena ini penting untuk dikaji karena berkaitan dengan analisis lingkungan bisnis, perubahan permintaan pasar, persaingan usaha, serta pengambilan keputusan perusahaan. Oleh karena itu, pembahasan mengenai dampak live shopping dapat membantu memahami peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha di Indonesia.
Pembahasan
1. Perubahan Perilaku Konsumen dalam Era Live Shopping
Perilaku konsumen merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipahami perusahaan dalam menentukan strategi pemasaran. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mencari informasi, membandingkan produk, dan melakukan transaksi. Jika sebelumnya konsumen lebih banyak mengandalkan informasi tertulis dan foto produk, kini mereka dapat melihat demonstrasi barang melalui siaran langsung.
Live shopping memungkinkan konsumen berinteraksi dengan penjual melalui kolom komentar dan memperoleh jawaban atas pertanyaan mengenai produk. Konsumen dapat menanyakan ukuran, bahan, warna, fungsi, serta karakteristik barang sebelum memutuskan untuk membeli. Interaksi tersebut dapat membantu konsumen memahami produk secara lebih baik.
Berdasarkan data Katadata Insight Center yang dipublikasikan melalui Databoks pada Desember 2024, dari 592 responden yang sering mencari produk melalui fitur live shopping, sebanyak 72% menyebut banyaknya promosi, seperti diskon dan gratis ongkos kirim, sebagai alasan menggunakan fitur tersebut. Selain itu, 67% menyebut kemudahan memperoleh deskripsi produk yang lebih terperinci, 62% menyebut kepercayaan terhadap kualitas produk karena dapat melihatnya melalui video, dan 62% menyebut kesempatan berinteraksi langsung dengan penjual.
Data tersebut menunjukkan bahwa promosi bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan perilaku konsumen. Informasi produk dan interaksi dengan penjual juga memiliki peranan penting dalam pengalaman berbelanja. Namun, data tersebut menggambarkan jawaban kelompok responden yang sering mencari produk melalui live shopping, sehingga tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh konsumen di Indonesia.
Di sisi lain, live shopping juga berpotensi mendorong pembelian impulsif. Penawaran dengan batas waktu tertentu, diskon khusus, dan ajakan membeli selama siaran dapat membuat sebagian konsumen mengambil keputusan secara terburu-buru. Oleh karena itu, konsumen perlu mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan keuangan, dan manfaat produk sebelum melakukan transaksi.
Bagi perusahaan, pemahaman terhadap perubahan perilaku konsumen menjadi dasar untuk menentukan strategi pemasaran yang lebih tepat. Perusahaan perlu memberikan informasi yang jelas dan menarik tanpa mengabaikan kejujuran dalam menawarkan produk.
2. Dampak Live Shopping terhadap Lingkungan Bisnis di Indonesia
Lingkungan bisnis merupakan berbagai kondisi internal dan eksternal yang dapat memengaruhi kegiatan serta keputusan perusahaan. Faktor-faktor tersebut meliputi perkembangan teknologi, kondisi ekonomi, persaingan, kebijakan pemerintah, dan perubahan kebutuhan konsumen.
Live shopping menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar melalui platform digital. Perusahaan dapat mempromosikan produk tanpa harus sepenuhnya bergantung pada toko fisik. Pelaku usaha kecil dan menengah juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas melalui siaran langsung.
Perkembangan perdagangan digital di Indonesia dapat dilihat melalui publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Statistik E-Commerce 2024. Publikasi tersebut membahas karakteristik usaha, aktivitas perdagangan elektronik, serta perkembangan kegiatan e-commerce di Indonesia. BPS juga melaporkan bahwa jumlah usaha e-commerce pada 2024 meningkat sebesar 15,30% dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan perkembangan aktivitas perdagangan elektronik di Indonesia. Meskipun demikian, angka tersebut merupakan pertumbuhan jumlah usaha e-commerce secara keseluruhan dan bukan angka pertumbuhan live shopping secara khusus.
Perkembangan ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi digital. Pelaku usaha perlu mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen serta meningkatkan kualitas pelayanan agar mampu mempertahankan pelanggan.
Namun, persaingan dalam perdagangan digital juga semakin menantang. Konsumen dapat membandingkan harga dari berbagai penjual dengan mudah. Jika perusahaan hanya mengandalkan diskon, keuntungan yang diperoleh dapat berkurang karena adanya tekanan terhadap harga jual dan margin keuntungan.
Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan kemampuan operasionalnya. Peningkatan pesanan dalam waktu singkat harus diimbangi dengan ketersediaan persediaan, ketepatan pengemasan, kecepatan pengiriman, dan kualitas pelayanan pelanggan. Dengan demikian, keberhasilan live shopping tidak hanya bergantung pada promosi, tetapi juga pada kemampuan perusahaan mengelola seluruh proses bisnis.
3. Analisis Live Shopping dalam Perspektif Ekonomi Manajerial
Ekonomi manajerial merupakan penerapan prinsip-prinsip ekonomi dalam pengambilan keputusan bisnis. Dalam kegiatan live shopping, perusahaan perlu mempertimbangkan permintaan konsumen, biaya operasional, pendapatan, keuntungan, dan risiko sebelum menentukan strategi pemasaran.
Salah satu keputusan penting adalah menentukan apakah penggunaan live shopping mampu memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, manajemen perlu melakukan perhitungan terhadap biaya dan hasil penjualan yang diperoleh.
Sebagai contoh, sebuah usaha pakaian menggunakan live shopping untuk memperkenalkan koleksi terbarunya. Perusahaan perlu memperhitungkan biaya tenaga kerja, pembuatan konten, promosi, potongan harga, pengemasan, dan pengiriman yang ditanggung perusahaan.
Jumlah penonton yang tinggi tidak secara otomatis menunjukkan bahwa kegiatan tersebut menguntungkan. Perusahaan perlu mengevaluasi apakah penonton benar-benar melakukan pembelian dan apakah pendapatan dari transaksi mampu menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan.
Misalnya, sebuah perusahaan mengalami peningkatan pesanan setelah mengadakan siaran langsung. Akan tetapi, apabila peningkatan penjualan tersebut diperoleh melalui diskon yang terlalu besar dan biaya promosi yang tinggi, keuntungan bersih perusahaan belum tentu meningkat.
Oleh karena itu, manajemen perlu memperhatikan sejumlah indikator, seperti jumlah transaksi, nilai penjualan, margin keuntungan, biaya promosi, tingkat pembatalan pesanan, dan kepuasan pelanggan. Evaluasi tersebut membantu perusahaan menentukan apakah strategi live shopping layak dilanjutkan atau perlu diperbaiki.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Procedia Computer Science pada 2024 oleh Melvin Chandra, Dyah Wahyu Sukmaningsih, dan Enggal Sriwardiningsih membahas pengaruh live streaming terhadap niat pembelian dalam social commerce di Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan 401 responden dan menemukan bahwa manfaat yang dirasakan konsumen serta jarak psikologis berpengaruh positif terhadap niat pembelian.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman konsumen merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pemasaran digital. Namun, niat pembelian tidak selalu menghasilkan transaksi aktual. Oleh karena itu, perusahaan tetap perlu mengukur hasil penjualan untuk menilai efektivitas strategi pemasaran yang diterapkan.
Dari perspektif ekonomi manajerial, keputusan yang tepat bukan hanya keputusan yang mampu menarik perhatian konsumen, melainkan keputusan yang mempertimbangkan efisiensi biaya, keuntungan, risiko, dan keberlanjutan bisnis.
4. Peluang dan Tantangan bagi Pelaku Usaha

Komentar 0