Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Mafia Bola: Ketika Skor Diatur, Kepercayaan Suporter Dipertaruhkan

Ilustrasi aktivitas wasit
Ilustrasi aktivitas wasit saat memimpin pertandingan sepak bola. Integritas perangkat pertandingan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah praktik pengaturan skor atau mafia bola. Foto: Samson Ssemakadde/Wikimedia Common

Mahasiswa.co.id - Bagi masyarakat Indonesia, sepak bola bukan sekadar pertandingan selama 90 menit. Ada kebanggaan, harapan, dan emosi yang menyatukan ribuan orang di stadion serta jutaan penonton di depan layar. Namun, bagaimana jika hasil pertandingan ternyata telah diatur sebelum wasit meniup peluit pertama? Masihkah sorak-sorai suporter memiliki makna?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar dugaan tanpa dasar. Kasus pengaturan skor atau match fixing dalam pertandingan Liga 2 pada 2018 menunjukkan bahwa praktik kecurangan benar-benar dapat terjadi dalam sepak bola Indonesia.

Dalam penyidikan yang dituntaskan pada Januari 2024, Satgas Antimafia Bola Polri menyerahkan tujuh tersangka kepada Kejaksaan Negeri Sleman. Mereka terdiri atas tiga pihak yang diduga memberikan suap dan empat pihak yang diduga menerima suap. Perkara tersebut kemudian berkembang hingga delapan terdakwa menjalani persidangan dan mendapatkan putusan pengadilan pada 2024.

Kasus ini bahkan berujung pada sanksi pengurangan tiga poin dan denda Rp150 juta terhadap PSS Sleman dari Komite Disiplin PSSI pada Agustus 2024.

Penindakan tersebut patut diapresiasi. Namun, menurut saya, pemberantasan mafia bola tidak boleh berhenti pada penangkapan, persidangan, atau pemberian sanksi. Masalah yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan praktik serupa tidak kembali terjadi.

Satu Pertandingan Bukan Satu-Satunya Korban

Dampak pengaturan skor sering kali tidak terlihat secara langsung. Dari tribun penonton, pertandingan mungkin tampak berlangsung normal. Pemain tetap berlari, saling merebut bola, dan berusaha mencetak gol. Akan tetapi, ketika terdapat kesepakatan tersembunyi untuk memengaruhi hasil pertandingan, nilai sportivitas sebenarnya telah dirusak.

Kerugian akibat pengaturan skor tidak hanya menyangkut kemenangan atau kekalahan sebuah klub. Kepercayaan masyarakat terhadap kompetisi juga menjadi taruhannya.

Suporter bersedia membeli tiket, meluangkan waktu, dan memberikan dukungan karena percaya bahwa pertandingan berlangsung secara jujur. Ketika kepercayaan tersebut dikhianati, hubungan emosional antara klub dan pendukungnya dapat terganggu.

Pemain yang berusaha membangun karier melalui kerja keras juga berpotensi menjadi korban. Prestasi yang seharusnya ditentukan berdasarkan kemampuan dan perjuangan di lapangan justru dapat dipengaruhi kepentingan pihak tertentu.

Jika kondisi demikian terus dibiarkan, sepak bola bukan lagi menjadi ruang kompetisi yang sehat, melainkan sekadar tontonan dengan hasil yang telah ditentukan.

Hukum Tidak Cukup Hanya Menghukum

Keberadaan Satgas Antimafia Bola dan kerja sama antara aparat penegak hukum dengan organisasi sepak bola merupakan langkah penting dalam memberantas praktik pengaturan skor.

Namun, penegakan hukum sering kali baru dilakukan setelah pelanggaran terjadi. Artinya, kerugian terhadap integritas pertandingan dan kepercayaan publik sudah telanjur muncul.

Menurut saya, pendekatan seperti ini perlu dilengkapi dengan sistem pencegahan yang lebih kuat.

Pengelolaan klub dan penyelenggaraan kompetisi harus dilakukan secara transparan. Setiap pihak yang memiliki kewenangan dalam pertandingan perlu berada di bawah pengawasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, aturan mengenai benturan kepentingan harus diterapkan secara konsisten. Hubungan antara pengurus klub, perangkat pertandingan, dan pihak lain yang berpotensi memengaruhi hasil pertandingan perlu diawasi agar tidak membuka ruang penyalahgunaan kewenangan.

Penegakan hukum memang dapat memberikan efek jera. Akan tetapi, pencegahan yang baik akan mempersempit kesempatan terjadinya kecurangan sejak awal.

Integritas Merupakan Tanggung Jawab Setiap Profesi

Pemberantasan mafia bola bukan hanya tanggung jawab kepolisian atau federasi sepak bola. Pemain, pelatih, wasit, pengurus klub, hingga penyelenggara kompetisi memiliki kewajiban moral untuk menjaga kejujuran dalam menjalankan profesinya.

Seorang wasit, misalnya, tidak hanya bertugas memimpin pertandingan, tetapi juga memastikan keputusan yang diambil sesuai aturan permainan dan tidak dipengaruhi kepentingan pribadi.

Demikian pula pemain dan pengurus klub. Mereka seharusnya memahami bahwa kemenangan yang diperoleh melalui kecurangan bukanlah prestasi yang layak dibanggakan.

Dalam konteks etika profesi, menerima imbalan untuk memengaruhi hasil pertandingan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab profesional. Perbuatan tersebut juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum apabila memenuhi unsur tindak pidana.

Oleh karena itu, pendidikan integritas perlu diberikan sejak pembinaan pemain usia muda. Pemain dan perangkat pertandingan harus memahami bahaya suap, manipulasi pertandingan, serta pentingnya menolak tekanan dari pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Sistem pelaporan yang aman juga menjadi kebutuhan penting. Orang yang mengetahui dugaan kecurangan harus memiliki saluran untuk menyampaikan informasi tanpa takut mendapatkan ancaman atau tekanan.

Tanpa perlindungan terhadap pelapor, praktik pengaturan skor berisiko terus berlangsung karena orang-orang yang mengetahui pelanggaran memilih untuk diam.

Suporter Bukan Sekadar Penonton

Selama ini, suporter sering dipandang hanya sebagai pihak yang dirugikan ketika terjadi pengaturan skor. Padahal, mereka juga memiliki peran dalam membangun budaya sepak bola yang lebih bersih.

Suporter dapat ikut mengawasi jalannya kompetisi, menyampaikan kritik terhadap pengelolaan sepak bola, serta melaporkan dugaan pelanggaran melalui jalur yang tepat.

Namun, kritik tersebut tetap harus didasarkan pada fakta. Keputusan wasit yang kontroversial atau kekalahan yang mengejutkan tidak serta-merta membuktikan adanya pengaturan skor.

Sikap kritis harus berjalan bersama tanggung jawab agar pengawasan publik tidak berubah menjadi tuduhan tanpa bukti.

Sepak bola yang sehat membutuhkan suporter yang peduli terhadap keadilan, bukan hanya terhadap kemenangan klub yang didukungnya.

Kembalikan Hasil Pertandingan kepada Lapangan

Mafia bola tidak mungkin diberantas hanya oleh satu lembaga. Kepolisian, PSSI, pengelola kompetisi, klub, pemain, perangkat pertandingan, dan masyarakat harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga integritas sepak bola Indonesia.

Pengawasan perlu diperketat, transparansi pengelolaan kompetisi harus diperkuat, dan setiap pelanggaran wajib ditangani secara adil tanpa memandang siapa yang terlibat.

Lebih dari itu, setiap orang yang bekerja dalam dunia sepak bola perlu menyadari bahwa kejujuran merupakan dasar dari profesi yang mereka jalankan.

Bagi saya, kemenangan sejati bukan hanya tentang mencetak lebih banyak gol daripada lawan, tetapi juga tentang bagaimana kemenangan tersebut diperoleh.

Sepak bola seharusnya menjadi tempat bagi kemampuan, kerja keras, strategi, dan sportivitas untuk menentukan hasil pertandingan, bukan kepentingan tersembunyi di balik layar.

Sebab, ketika hasil pertandingan dapat diperjualbelikan, yang dipertaruhkan bukan sekadar skor akhir, melainkan kepercayaan jutaan masyarakat yang mencintai sepak bola.

Pada akhirnya, sepak bola harus kembali menjadi pertandingan yang ditentukan di lapangan, bukan sandiwara yang telah disusun sebelum peluit dibunyikan.

Cara Mengutip

Aesa Pangestu. (2026). Mafia Bola: Ketika Skor Diatur, Kepercayaan Suporter Dipertaruhkan. Mahasiswa.co.id. https://mahasiswa.co.id/mafia-bola-menangkap-pelaku-saja-tidak-cukup/1923/

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.