Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Barang KW Sebagai Bentuk Konsumerisme

80833A28-AB42-42FE-BB58-0BBFF2B8C704

Mahasiswa.co.id - Kehidupan zaman sekarang ini, terutama di Indonesia, terdapat banyak sekali produk-produk baru yang bermunculan, terutama produk dalam bidang fashion. Produk dalam bidangfashion dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu produkbermerek dan produk tidak bermerek. Tentunya, kedua kategoritersebut memiliki kualitas serta harga yang berbeda. Menariknya, produk-produk kelas dunia tidak hanyadiperuntukkan bagi konsumen yang berpenghasilan tinggi. Realita yang terjadi di pasar, masyarakat yang berpenghasilanrendah juga ingin menggunakan barang bermerek. Masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah “Barang KW”. Barang KW adalah barang yang diproduksi dengan carameniru, atau replika dari barang asli yang ingin ditiru. Kata “KW” sendiri diambil dari kata kualitas atau kwalitas dan pastinya barang KW diproduksi tanpa seizin dari pembuatproduk barang yang asli. Kasarnya, barang KW adalah barangpalsu. Hal inilah yang menjadi masalah di Indonesia karenaproduksi barang KW terlalu banyak. Kita dapat dengan mudahmenemukan barang KW baik di online shop maupun di tokolangsung. Salah satu tempat yang terkenal akan barang KW nyadi Indonesia adalah ITC Mangga Dua. Lantas, mengapa barangKW menjadi hal yang menarik bagi beberapa kalangan. Apayang bisa dilihat dari sisi sosiologi.

Ketertarikan masyarakat terhadap barang-barang KW sangat beragam menyesuaikan dengan kondisi ekonomismasyarakat tersebut. Produk yang mewah tentunya adalahproduk yang namanya terkenal, kualitasnya yang baik dan kerapkali identik dengan harganya yang mahal. Peredaran barang KW sudah diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentangMerek dan Indikasi Geografis (MIG) dimana pihak yang melanggar akan dikenakan pidana dengan hukuman penjarapaling lama 5 tahun atau denda paling banyak senilaiRp2.000.000.000 (dua miliar rupiah). Sayangnya, hal tersebuttidak dapat menghentikan peredaran barang KW di pasar masyarakat. Salah satu faktor yang membuat barang KW sangat diminati oleh masyarakat selain dikarenakan harganya yang murah adalah karena iklan yang sering dijumpai oleh masyarakat di sosial media. Terlebih lagi di zaman sekarang, kita dapat dengan mudahnya melihat promosi-promosi tokoonline yang menjual barang KW. Sebagai suatu bentuk budayayang terlahir di era milenial, budaya populer pasti tidak asing di kalangan masyarakat. Budaya pop di era ini merupakan budayadari suatu pengalaman yang terlahir karena budaya konsumtifdan didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Konsep lifestyle awalnya dikenal di era 1990-an. Gaya hidup initentu lahir karena diakibatkan oleh adanya dorongan dariglobalisasi di bidang industri media. Terlebih masyarakatIndonesia dapat tergolong sebagai masyarakat yang konsumtif di era globalisasi dan lambat laun akan semakin konsumtif seiringdengan pertumbuhan ekonomi global. Hal ini dapat dilihatdengan semakin menjamurnya pusat perbelanjaan, industri di bidang fashion, kecantikan serta toko-toko online. Lalu semakindisukainya produk asing, dan beberapa faktor lainnya yang merupakan efek dari life style yang diakibatkan dari iklan dan televisi. Dari situ, masyarakat menengah menjadi lebih tau barang apa saja yang digunakan oleh masyarakat kelas atas. Masyarakat secara tidak sadar akan menjadi lebih boros karenaperilakunya yang konsumtif dan sikap mereka yang tidak inginketinggalan. Disini bisa kita melihat bahwa seolah-olah terjadisuatu persaingan di antara masyarakat untuk menunjukkanstratanya melalui barang atau produk yang mereka pakai. Pendapat Sumartono (dalam Hotpascaman, 2010: 3) “Seseorangakan melakukan perilaku konsumtif dengan mengacu pada apayang ditentukan oleh kelompok referensinya”.

Namun ada faktor lain yang dapat dilihat dari kacamatasosiologi yang membuat barang KW menjadi sangat diminatioleh beberapa kalangan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dariteori konflik menurut Karl Marx, di mana teori tersebutmenunjukkan adanya struktur kelas di dalam masyarakat. Setiapkelas tersebut memiliki kondisi ekonomi yang berbeda sehinggamenyebabkan terjadinya ketimpangan sosial di dalam kalanganmasyarakat. Dalam kasus ini, masyarakat dari kalanganmenengah kebawah akan berusaha untuk menjadi masyarakatkalangan atas. Upaya yang mereka lakukan untuk menjadimasyarakat kalangan atas adalah dengan menggunakan barang-barang bermerek atau terkenal dengan harapan orang-orang akanmenganggap mereka sebagai orang-orang kalangan atas, namuntidak semua orang dapat membeli barang bermerek dikarenakanbarang bermerek memiliki harga yang mahal, maka dari itumereka akan mencari alternatif lain untuk memuaskan keinginanmereka untuk mendapatkan bermerek barang tersebut dengancara yaitu membeli atau menggunakan barang KW.

Disini kita bisa lihat bahwa ada juga faktor konsumtifdalam masyarakat. Werner Sombart, Emile Durkheim, dan Thornstein Veblen (Trentman dalam Umanailo, 2004), menyatakan bahwa konsumsi merupakan kekuatan besar yang sangat menentukan di balik dinamika dan struktur sosial dalamsistem kapitalisme modern. Budaya konsumerisme terutamamuncul setelah masa industrialisasi ketika barang-barang mulaidiproduksi secara massal sehingga membutuhkan konsumenlebih luas. Konsumerisme adalah suatu pola pikir serta tindakandimana orang melakukan tindakan membeli barang bukandikarenakan ia membutuhkan barang itu tetapi dikarenakantindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan bagi dirinya. Konsumerisme yang terjadi di masyarakat ditandai denganadanya gaya hidup yang tinggi. “Cogito ergo Sum: Aku berpikirmaka aku ada”, tetapi sekarang istilah yang lebih populer ialah: “I shop therefore I am: Aku berbelanja maka aku ada” (Firovanidalam Umanailo, 2004).

Kesimpulannya, konsumerisme barang KW ini terjadi di dalam kelas sosial masyarakat pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang di mana anggotanya berbaginilai, minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidakditentukan hanya oleh faktor seperti pendapatan, tetapi diukursebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan variabel lain.

Penulis: Kayla Anandita, Aninayottama Aptanta A,  Felix Sugestian

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.