Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Bolehkah saya membeli kebahagiaan mu hari ini?

Nadia Yasmin Dini

Oleh: Nadia Yasmin Dini

Mahasiswa.co.id - Namanya Eros, tahun ini usianya sudah menginjak kepala empat. Dia dikenal sebagai janda kaya raya. Semua barang yang dia pakai dari atas hingga bawah adalah barang-barang branded. Tak ketinggalan juga perhiasan emas yang selalu dia letakkan di tangan kanan dan kirinya. Yang jelas itu emas asli, karena dia sendiri pernah bilang bahwa dia alergi emas palsu. Tangan saya gatal kalau pakai emas palsu, katanya kepada para tetangga.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, suaminya meninggal karena serangan jantung. Namun sebelum meninggal, suaminya diam-diam sudah menyiapkan surat wasiat untuknya. Eros sendiri tidak tahu kapan persis surat wasiat itu dibuat, tetapi yang jelas seorang notaris tiba-tiba datang ke rumahnya dan menyampaikan pesan bahwa almarhum suaminya sudah menyerahkan seluruh asetnya, seperti rumah, mobil, tanah, sawah, perkebunan, kost, beserta tabungannya pada Eros. Kata sang notaris, almarhum suaminya khawatir bahwa setelah dia meninggal, kedua orang tuanya, atau mertua Eros yang matre sekaligus licik itu akan menguras seluruh hartanya tanpa sisa. Dia tak ingin melihat Eros menjadi janda miskin yang hidup menyedihkan.

Kalian bisa bayangkan sendiri betapa kayanya seorang Eros. Bahkan dengan uang yang dia miliki saat ini, Eros bisa membeli apapun yang dia mau. Dia bisa membeli tas, sepatu, baju atau apapun itu, tanpa harus melihat harga. Seperti, dua hari yang lalu Eros baru saja membeli tas seharga ratusan juta rupiah. Padahal, tiga hari sebelumnya Eros sudah membeli tas seharga lima puluh juta rupiah.

Pada awalnya, Eros sempat berpikir bahwa semua hal di dunia ini dapat dia beli menggunakan uang. Dia bisa membeli mobil, sepeda, rumah, tas, baju, sepatu atau apapun itu menggunakan uang. Tetapi, dia lupa bahwa ada satu hal yang tidak bisa dia beli menggunakan uang.

Malam itu, Eros baru saja pulang setelah seharian asyik berbelanja di mall. Kedua tangan Eros penuh dengan kantong belanja. Untungnya saja, Sri, pembantu Eros segera datang untuk membantunya.

Eros kemudian memerintahkan Sri untuk meletakkan barang belanjaannya di meja. Setelah itu, Eros menyuruh Sri untuk menyiapkan makan malam. Sri pun mengiyakan dan pergi ke dapur.Namun, ada yang aneh dengan sikap Sri malam itu. Tidak biasanya Sri mesam-mesem tidak jelas.

“Kenapa Sri? Sepertinya bahagia sekali hari ini? ” Tanya Eros saat Sri menyajikan makan malam. Lagi-lagi, Sri tersenyum hingga membuat Eros menjadi semakin penasaran.

“Itu buk, tadi siang suami dan anak saya tiba-tiba datang untuk memberikan saya kejutan” Kata Sri sambil menutup mulutnya malu-malu.

“Memangnya hari ini kamu ulang tahun?” Tanya Eros lagi.

“Bukan, Bu. Hari ini bukan hari ulang tahun saya. Hari ini adalah hari Ibu. Jadi, mereka datang untuk mengucapkan selamat hari Ibu kepada saya” Ucap Sri sembari tersenyum.

Sementara, Eros perlahan mulai kehilangan senyumnya. “Ooh.. Apa mereka juga memberimu hadiah? ” Tanya Eros lagi.

Sebab, yang dia tahu, biasanya seorang Ibu akan mendapatkan hadiah dari anak serta suaminya ketika hari Ibu. Namun sayangnya, dia tak pernah merasakan itu selama ini.

Sri mengangguk. “Suami saya memberikan saya kerudung ini” Ujar Sri sembari menunjukkan kerudung yang dia pakai. “Sementara, anak saya menuliskan saya sebuah puisi” lanjut Sri.

Ada rasa sesak di dalam hati Eros ketika mendengarnya. Suami? Anak? Ya, dia tidak punya keduanya. Mengingat, suaminya meninggal sebelum mereka sempat memiliki seorang anak. Setelah suaminya meninggal pun, Eros enggan menikah lagi, mungkin karena dia takut kehilangan dua kali.

Tak lama setelah itu, ponsel Sri berdering. Sri mesam-mesem ketika melihat layar ponselnya, lalu dia minta izin pada Eros untuk mengangkat panggilan tersebut. Eros pun mengangguk dan membiarkan Sri pergi.

Namun, diam-diam Eros mengikuti Sri dari belakang dan hendak menguping pembicaraan Sri dengan orang tersebut. Eros hanya penasaran dengan siapa Sri berbicara melalui telepon, hingga membuat Sri mesam-mesem ketika menerima panggilan tersebut.

“Ibu, Ayo cepat pulang. Aku dan Bapak sudah tidak sabar menunggu Ibu di rumah” Ucap anak Sri dari seberang sana.

“Sebentar lagi ya. Satu jam lagi Ibu pulang” Jawab Sri.

“Baik Ibu. Ibu harus semangat ya kerjanya. Nanti setelah Ibu sampai di rumah, Ibu akan terkejut. Sebab ada kejutan lain yang sudah kami siapkan ”

“Wah, ada kejutan lagi nih? Baiklah, Ibu akan segera pulang ya”

Panggilan selesai. Meski begitu, Sri masih tetap senyam-senyum sendiri. Mungkin dia kelewat bahagia hari ini. Sementara, Eros diam-diam menatapnya iri. Entah berapa banyak kebahagiaan yang sudah Sri terima hari ini. Kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan selama ini, sebab dia tak punya apa yang Sri miliki.

Eros memang memiliki banyak uang. Dia memang bisa membeli apapun yang dia mau, tetapi dia tak bisa membeli kebahagiaan. Selama ini dia habiskan waktu selama berjam-jam di mall untuk mencari kebahagiaan, tetapi tetap saja pada akhirnya dia merasa kesepian.

Dia ingin bahagia. Dia ingin tahu bagaimana rasanya bahagia. Dia ingin sebahagia Sri hari ini. Dia ingin merasakan kebahagiaan Sri tersebut. Dia ingin coba, meskipun hanya untuk sekali saja.

Eros kemudian pergi masuk ke dalam kamar. Dia membuka pintu nya secara kasar lalu membuka lemarinya. Di dalam lemarinya, tersimpan banyak sekali uang. Mungkin jika dihitung bisa sampai sepuluh juta. Dia keluarkan semua jumlah uangnya lalu membawanya ke hadapan Sri.

“Bolehkah saya membeli perasaan bahagiamu hari ini?”Tanya Eros sembari menyerahkan uang itu kepada Sri. Sri jelas merasa terkejut. “Saya ingin tahu bagaimana rasanya” lanjut Eros.

“Kalau jumlah uang ini masih kurang, saya bisa tambahkan. Kamu mau berapa? Dua puluh? Lima puluh? Atau seratus juta? ”

Sri masih mematung di tempat. Dia tak tau harus berkata apa. Apa maksud majikannya ini? Bukankah kebahagiaan tidak bisa dibeli?

*penulis akan menunggu sampai seminggu. Apabila dalam seminggu belum ada kabar, maka penulis akan mengirimkan tulisan ini kepada media lain. Terima Kasih

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.