Dampak Media Sosial terhadap Kemampuan Berbahasa Anak Muda
Oleh Redaksi
Ilustrasi berbagai platform media sosial sumber: freepik.com
Oleh: Salsabila Luthfitri Maharani Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Pamulang
Mahasiswa.co.id - Media sosial sekarang sudah menjadi tempat utama untuk para anak muda berkomunikasi. Setiap hari, berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan X dipakai untuk berbagi cerita, mengikuti tren, atau sekadar mencari hiburan. Di tengah semua aktivitas itu, ada satu hal yang ikut berubah tanpa disadari, yaitu cara berbahasa. Kebiasaan menulis dan berbicara di media sosial perlahan memengaruhi pilihan kata, struktur kalimat, bahkan cara berpikir. Perubahan ini wajar, tapi tetap perlu diperhatikan dampaknya.
Salah satu yang paling terlihat adalah kecenderungan anak-anak muda menggunakan bahasa yang ringkas dan santai. Kalimat campuran seperti “Dia tuh literally kayak nggak ngerti konteks, padahal udah dikasih hint” jadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Di media sosial, gaya bahasa seperti ini pun dianggap lebih akrab dan cepat dipahami. Tapi jika dibiasakan terus-menerus, bisa membuat kita lupa pada bentuk bahasa yang sesuai ejaan dan tata bahasa. Terutama saat kita akan menulis untuk kepentingan akademik, kebiasaan ini bisa jadi hambatan. Namun, bukan berarti semua dampak media sosial terhadap bahasa itu buruk. Banyak anak muda yang justru terbiasa menulis panjang lewat caption atau thread, hingga tanpa sadar terlatih dalam menyusun gagasan. Sebagian dari mereka bahkan juga mulai berani menuangkan pendapat, berbagi cerita, atau menulis refleksi yang menarik perhatian pembaca. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial juga bisa menjadi tempat mengasah kemampuan berbahasa, asalkan digunakan dengan tujuan yang jelas.
Masalahnya muncul ketika gaya bahasa informal tadi terbawa ke konteks yang sebenarnya menuntut ketepatan, seperti tugas kuliah atau komunikasi profesional. Tanpa disadari, kebiasaan dari media sosial membuat struktur kalimat menjadi kurang rapi, pemilihan kata kurang tepat, dan tata bahasa sering diabaikan. Ini bisa menimbulkan kesan kurang serius atau tidak profesional, padahal kemampuan berbahasa merupakan bagian penting dari cara seseorang menyampaikan gagasan. Apalagi di dunia akademik, kemampuan merangkai kalimat secara runtut dan argumentatif sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam menyampaikan ide.
Karena itu, penting untuk bisa membedakan konteks saat berkomunikasi. Menggunakan bahasa santai di media sosial tentu boleh, tapi di waktu yang lain kita juga harus siap memakai bahasa yang lebih sesuai aturan. Kemampuan ini perlu dibiasakan agar tidak kehilangan kepekaan terhadap struktur bahasa. Tujuannya bukan membatasi, tapi menyeimbangkan antara ekspresi dan ketepatan berbahasa. Mahasiswa, sebagai kelompok yang berada di tengah tuntutan akademik dan budaya digital, punya peran penting untuk jadi contoh dalam hal ini. Membiasakan diri menulis dengan rapi, berbicara dengan jelas, dan memilih kata dengan tepat bukan hanya soal tugas kuliah, tapi juga bagian dari literasi digital yang bertanggung jawab.
Bahasa memang akan terus berkembang mengikuti zaman, termasuk di tangan generasi muda yang akrab dengan media sosial. Namun, perkembangan itu sebaiknya tetap diiringi dengan kesadaran untuk menjaga kualitas berbahasa. Mari kita biasakan menggunakan bahasa sesuai konteks, tanpa kehilangan gaya personal. Media sosial boleh jadi ruang berekspresi, tapi kita juga perlu cakap memilih bahasa yang tepat. Sekarang saatnya generasi muda menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa adalah kekuatan, bukan sekadar kebiasaan. Jangan tunggu sampai kita kehilangan kemampuan itu. Mulailah dari hal kecil seperti menulis caption yang lebih rapi, menanggapi komentar dengan sopan, atau menyusun pesan dengan kalimat yang utuh. Lewat kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah kualitas berbahasa bisa terus dijaga dan ditumbuhkan.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0