Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

KERJA JARAK JAUH

mendefinisikan kerja jarak jauh dari rumah
kerja jarak jauh Foto: ai foto

Kerja Jarak Jauh: Ketika Bekerja Tidak Lagi Harus Berada di Kantor

Dulu, bekerja identik dengan datang ke kantor, duduk di meja kerja, bertemu dengan rekan kerja, dan berkomunikasi secara langsung. Namun, perkembangan teknologi digital membuat cara bekerja mengalami perubahan. Seseorang sekarang dapat bekerja dari rumah atau tempat lain tanpa harus datang ke kantor setiap hari. Rapat dapat dilakukan melalui video conference, pekerjaan dapat dikoordinasikan melalui WhatsApp atau aplikasi kerja, dan dokumen dapat dikerjakan bersama melalui platform digital. Kerja jarak jauh menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya mengubah tempat seseorang bekerja, tetapi juga mengubah cara seseorang berkomunikasi dengan rekan kerja. Jika sebelumnya komunikasi pekerjaan banyak dilakukan secara langsung, sekarang sebagian besar komunikasi dapat berlangsung melalui pesan teks, email, video conference, dan berbagai aplikasi digital.

Namun, apakah komunikasi digital mampu menggantikan komunikasi langsung di tempat kerja? Untuk melihat fenomena tersebut, kerja jarak jauh dapat dianalisis menggunakan Social Presence/Media Richness dan Social Information Processing (SIP)/Hyperpersonal.

Ketika Kantor Berpindah ke Ruang Digital

Dalam kerja jarak jauh, kantor secara fisik mungkin tidak lagi menjadi tempat utama untuk melakukan pekerjaan. Seorang karyawan dapat bekerja dari rumah, sementara atasannya berada di kantor dan rekan kerjanya berada di kota yang berbeda. Komunikasi tetap berlangsung, tetapi medianya berubah.

Misalnya, seorang atasan ingin memberikan arahan kepada karyawan. Jika bekerja secara langsung, atasan dapat menjelaskan pekerjaan sambil melihat reaksi karyawan. Jika karyawan terlihat bingung, atasan dapat langsung memberikan penjelasan tambahan. Dalam kerja jarak jauh, arahan tersebut mungkin disampaikan melalui chat atau video conference. Karyawan dapat menerima pesan berupa teks tanpa melihat ekspresi dan bahasa tubuh atasannya.

Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perubahan tempat kerja juga membawa perubahan dalam cara manusia berkomunikasi.

Melihat Kerja Jarak Jauh melalui Social Presence dan Media Richness

Teori Social Presence melihat sejauh mana suatu media dapat memberikan perasaan bahwa orang lain benar-benar hadir dalam proses komunikasi. Sementara Media Richness melihat kemampuan suatu media dalam menyampaikan informasi, termasuk informasi yang kompleks dan memiliki berbagai isyarat komunikasi. Jika dilihat dari kedua teori tersebut, tidak semua media yang digunakan dalam kerja jarak jauh memiliki kemampuan komunikasi yang sama.

Chat atau email, misalnya, terutama menyampaikan pesan melalui tulisan. Karyawan tidak dapat melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh lawan bicara. Karena itu, pesan seperti "tolong segera diselesaikan" dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda. Bagi pengirim mungkin hanya merupakan instruksi biasa, tetapi bagi penerima dapat terdengar seperti teguran. Berbeda dengan video conference. Melalui video, peserta dapat melihat wajah, mendengar suara, dan mengamati sebagian ekspresi lawan bicara. Media ini memberikan lebih banyak petunjuk dibandingkan komunikasi melalui teks.

Sementara itu, komunikasi tatap muka memiliki lebih banyak unsur komunikasi karena seseorang dapat melihat ekspresi, gerakan tubuh, situasi ruangan, dan respons lawan bicara secara langsung. Dari sudut pandang Media Richness, perbedaan tersebut menjadi penting karena semakin kompleks suatu pesan, semakin dibutuhkan media yang mampu menyampaikan lebih banyak informasi. Misalnya, memberikan informasi sederhana tentang jadwal rapat mungkin cukup dilakukan melalui chat. Namun, membahas konflik dalam tim atau memberikan evaluasi pekerjaan yang sensitif mungkin membutuhkan komunikasi yang lebih kaya agar tidak mudah terjadi kesalahpahaman.

Dengan demikian, Social Presence dan Media Richness membantu kita memahami bagaimana karakteristik media komunikasi memengaruhi pengalaman komunikasi dalam kerja jarak jauh.

Tetapi Mengapa Hubungan Kerja Tetap Bisa Terbentuk?

Jika kerja jarak jauh memiliki keterbatasan dalam komunikasi nonverbal, apakah hubungan antarpegawai akan menjadi lebih sulit dibangun?

Belum tentu.

Di sinilah teori Social Information Processing (SIP) menjadi menarik. SIP menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat membangun hubungan melalui komunikasi berbasis komputer meskipun komunikasi tersebut memiliki keterbatasan dibandingkan komunikasi tatap muka. Dalam kerja jarak jauh, hubungan antara karyawan tidak hanya terbentuk melalui satu percakapan. Hubungan dapat berkembang dari komunikasi yang dilakukan berulang kali.

Awalnya mungkin hanya membahas pekerjaan.

"File yang tadi sudah dikirim?"

"Sudah, coba dicek di folder."

Namun, setelah komunikasi berlangsung setiap hari, pembicaraan dapat berkembang menjadi lebih informal.

"Besok meeting jam berapa?"

"Jam 9. Tapi kayaknya aku masih di jalan."

Dari percakapan-percakapan sederhana tersebut, seseorang mulai mengenal kebiasaan, gaya komunikasi, dan karakter rekan kerjanya. Artinya, keterbatasan komunikasi digital tidak otomatis menghilangkan hubungan sosial. Hubungan tetap dapat terbentuk melalui proses komunikasi yang berlangsung secara terus-menerus.

Dari SIP ke Hyperpersonal

Konsep Hyperpersonal memberikan sudut pandang yang lebih menarik lagi. Dalam komunikasi digital, seseorang memiliki kesempatan untuk mengatur bagaimana dirinya ingin ditampilkan. Dalam kerja jarak jauh, misalnya, seorang karyawan mungkin lebih nyaman menyampaikan pendapat melalui chat dibandingkan berbicara langsung dalam rapat. Ia dapat membaca kembali pesan sebelum mengirimkannya, memilih kata-kata, dan menghindari respons spontan. Hal tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih mampu mengontrol komunikasi. Begitu juga dengan atasan. Dalam komunikasi melalui pesan tertulis, atasan dapat menyusun instruksi dengan lebih hati-hati sebelum mengirimkannya.

Dengan demikian, komunikasi digital tidak selalu menghasilkan hubungan yang lebih dingin. Dalam kondisi tertentu, justru komunikasi digital dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk mengelola cara dirinya berkomunikasi dan membangun kesan tertentu kepada orang lain.

Apa yang Terlihat dari Satu Teori tetapi Tidak Terlihat dari Teori Lain?

Perbandingan kedua pendekatan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing teori melihat sisi yang berbeda dari fenomena kerja jarak jauh. Social Presence/Media Richness lebih melihat media komunikasinya. Teori ini membantu menjelaskan mengapa komunikasi melalui chat berbeda dengan video conference atau komunikasi tatap muka. Fokusnya adalah pada seberapa banyak isyarat yang dapat disampaikan oleh media dan seberapa kuat kehadiran sosial yang dirasakan.

Sementara itu, SIP/Hyperpersonal lebih melihat proses komunikasi dan hubungan yang terbentuk melalui media tersebut. Walaupun seseorang tidak bertemu langsung dengan rekan kerjanya, hubungan tetap dapat berkembang melalui komunikasi yang dilakukan secara berulang.

Jadi, jika menggunakan Media Richness, pertanyaannya lebih dekat dengan:

"Seberapa kaya media yang digunakan untuk menyampaikan pesan?"

Sedangkan SIP/Hyperpersonal lebih dekat dengan:

"Bagaimana hubungan dan kesan terhadap orang lain dapat terbentuk melalui komunikasi digital?"

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa satu teori tidak selalu dapat menjelaskan seluruh fenomena.

Media Richness dapat menjelaskan mengapa video conference dapat memberikan pengalaman yang berbeda dari chat, tetapi tidak secara khusus menjelaskan bagaimana hubungan antarpegawai dapat berkembang meskipun mereka jarang bertemu. Sebaliknya, SIP dan Hyperpersonal membantu menjelaskan bagaimana hubungan tersebut dapat terbentuk melalui komunikasi digital, tetapi tidak terlalu berfokus pada perbedaan kemampuan masing-masing media dalam menyampaikan berbagai isyarat komunikasi.

Kerja Jarak Jauh Bukan Sekadar Memindahkan Kantor ke Rumah

Menurut saya, kerja jarak jauh sebenarnya bukan hanya persoalan bekerja dari rumah. Perubahan yang lebih penting terjadi pada cara manusia berkomunikasi dan membangun hubungan dalam pekerjaan. Ketika komunikasi berlangsung secara digital, seseorang harus menyesuaikan cara menyampaikan pesan. Instruksi yang terlalu singkat dapat menimbulkan salah tafsir. Sebaliknya, komunikasi yang terlalu panjang juga dapat membuat informasi menjadi tidak efektif.

Karena itu, pemilihan media menjadi penting. Pesan sederhana mungkin cukup melalui chat, sedangkan pembahasan yang kompleks atau sensitif dapat membutuhkan video conference atau komunikasi langsung. Pada saat yang sama, perusahaan dan karyawan juga perlu menyadari bahwa hubungan kerja tidak hanya terbentuk dari pertemuan secara langsung. Komunikasi rutin, keterbukaan, dan interaksi informal melalui media digital juga dapat membantu membangun hubungan antaranggota tim.

Pada akhirnya, fenomena kerja jarak jauh menunjukkan bahwa teknologi tidak sekadar mengubah tempat kita bekerja, tetapi juga mengubah cara kita hadir, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan orang lain. Melalui Social Presence dan Media Richness, kita dapat melihat keterbatasan serta kekayaan masing-masing media komunikasi. Sementara melalui SIP dan Hyperpersonal, kita dapat melihat bagaimana hubungan sosial tetap dapat berkembang melalui komunikasi digital.

Dengan demikian, bekerja dari tempat yang berbeda tidak berarti seseorang benar-benar terpisah dari lingkungan kerjanya. Yang berubah adalah cara kehadiran tersebut diwujudkan: dari kehadiran fisik menjadi kehadiran melalui komunikasi digital.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.