Kerja Jarak Jauh: Ketika Bekerja Tidak Lagi Harus Berada di Kantor
Dulu, bekerja identik dengan datang ke kantor, duduk di meja kerja, bertemu dengan rekan kerja, dan berkomunikasi secara langsung. Namun, perkembangan teknologi digital membuat cara bekerja mengalami perubahan. Seseorang sekarang dapat bekerja dari rumah atau tempat lain tanpa harus datang ke kantor setiap hari. Rapat dapat dilakukan melalui video conference, pekerjaan dapat dikoordinasikan melalui WhatsApp atau aplikasi kerja, dan dokumen dapat dikerjakan bersama melalui platform digital. Kerja jarak jauh menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya mengubah tempat seseorang bekerja, tetapi juga mengubah cara seseorang berkomunikasi dengan rekan kerja. Jika sebelumnya komunikasi pekerjaan banyak dilakukan secara langsung, sekarang sebagian besar komunikasi dapat berlangsung melalui pesan teks, email, video conference, dan berbagai aplikasi digital.
Namun, apakah komunikasi digital mampu menggantikan komunikasi langsung di tempat kerja? Untuk melihat fenomena tersebut, kerja jarak jauh dapat dianalisis menggunakan Social Presence/Media Richness dan Social Information Processing (SIP)/Hyperpersonal.
Ketika Kantor Berpindah ke Ruang Digital
Dalam kerja jarak jauh, kantor secara fisik mungkin tidak lagi menjadi tempat utama untuk melakukan pekerjaan. Seorang karyawan dapat bekerja dari rumah, sementara atasannya berada di kantor dan rekan kerjanya berada di kota yang berbeda. Komunikasi tetap berlangsung, tetapi medianya berubah.
Misalnya, seorang atasan ingin memberikan arahan kepada karyawan. Jika bekerja secara langsung, atasan dapat menjelaskan pekerjaan sambil melihat reaksi karyawan. Jika karyawan terlihat bingung, atasan dapat langsung memberikan penjelasan tambahan. Dalam kerja jarak jauh, arahan tersebut mungkin disampaikan melalui chat atau video conference. Karyawan dapat menerima pesan berupa teks tanpa melihat ekspresi dan bahasa tubuh atasannya.
Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perubahan tempat kerja juga membawa perubahan dalam cara manusia berkomunikasi.
Melihat Kerja Jarak Jauh melalui Social Presence dan Media Richness
Teori Social Presence melihat sejauh mana suatu media dapat memberikan perasaan bahwa orang lain benar-benar hadir dalam proses komunikasi. Sementara Media Richness melihat kemampuan suatu media dalam menyampaikan informasi, termasuk informasi yang kompleks dan memiliki berbagai isyarat komunikasi. Jika dilihat dari kedua teori tersebut, tidak semua media yang digunakan dalam kerja jarak jauh memiliki kemampuan komunikasi yang sama.
Chat atau email, misalnya, terutama menyampaikan pesan melalui tulisan. Karyawan tidak dapat melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh lawan bicara. Karena itu, pesan seperti "tolong segera diselesaikan" dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda. Bagi pengirim mungkin hanya merupakan instruksi biasa, tetapi bagi penerima dapat terdengar seperti teguran. Berbeda dengan video conference. Melalui video, peserta dapat melihat wajah, mendengar suara, dan mengamati sebagian ekspresi lawan bicara. Media ini memberikan lebih banyak petunjuk dibandingkan komunikasi melalui teks.
Sementara itu, komunikasi tatap muka memiliki lebih banyak unsur komunikasi karena seseorang dapat melihat ekspresi, gerakan tubuh, situasi ruangan, dan respons lawan bicara secara langsung. Dari sudut pandang Media Richness, perbedaan tersebut menjadi penting karena semakin kompleks suatu pesan, semakin dibutuhkan media yang mampu menyampaikan lebih banyak informasi. Misalnya, memberikan informasi sederhana tentang jadwal rapat mungkin cukup dilakukan melalui chat. Namun, membahas konflik dalam tim atau memberikan evaluasi pekerjaan yang sensitif mungkin membutuhkan komunikasi yang lebih kaya agar tidak mudah terjadi kesalahpahaman.
Dengan demikian, Social Presence dan Media Richness membantu kita memahami bagaimana karakteristik media komunikasi memengaruhi pengalaman komunikasi dalam kerja jarak jauh.
Tetapi Mengapa Hubungan Kerja Tetap Bisa Terbentuk?
Jika kerja jarak jauh memiliki keterbatasan dalam komunikasi nonverbal, apakah hubungan antarpegawai akan menjadi lebih sulit dibangun?
Belum tentu.
Di sinilah teori Social Information Processing (SIP) menjadi menarik. SIP menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat membangun hubungan melalui komunikasi berbasis komputer meskipun komunikasi tersebut memiliki keterbatasan dibandingkan komunikasi tatap muka. Dalam kerja jarak jauh, hubungan antara karyawan tidak hanya terbentuk melalui satu percakapan. Hubungan dapat berkembang dari komunikasi yang dilakukan berulang kali.
Awalnya mungkin hanya membahas pekerjaan.
"File yang tadi sudah dikirim?"
"Sudah, coba dicek di folder."
Namun, setelah komunikasi berlangsung setiap hari, pembicaraan dapat berkembang menjadi lebih informal.
Komentar 0