Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Frankenstein 2025 dan Tragedi Kemanusiaan di Balik Ciptaan yang Ditolak

Frankenstein

Identitas Film
Judul: Frankenstein
Tahun Rilis: 2025
Sutradara: Guillermo del Toro
Pemeran Utama: Jacob Elordi, Oscar Isaac, Christoph Waltz, Mia Goth
Genre: Horor, Drama, Gotik
Durasi: Sekitar 150 menit
Produksi: Netflix, Double Dare You Productions

Mahasiswa.co.id - Guillermo del Toro kembali menghidupkan kisah klasik Frankenstein dengan pendekatan yang jauh lebih emosional, puitis, dan gelap dibanding adaptasi-adaptasi sebelumnya. Alih-alih mengandalkan horor konvensional, film ini berfokus pada tragedi, identitas, serta hubungan rumit antara pencipta dan ciptaannya. Berlatar tahun 1857, cerita dibuka dengan pertemuan di Kutub Utara antara Victor Frankenstein dan makhluk ciptaannya yang menuntut jawaban. Narasi kemudian bergerak melalui serangkaian kilas balik yang mengungkap ambisi Victor sebagai ilmuwan brilian yang kesepian. Terpesona oleh ide menantang maut, ia mencoba membangkitkan kehidupan dari mayat dan justru dihantui ketakutan ketika eksperimennya berhasil.

Jacob Elordi tampil sebagai pusat emosional film melalui perannya sebagai sang makhluk. Ia tidak digambarkan sebagai monster brutal, melainkan sosok rapuh yang bingung dan merindukan pengakuan dari dunia yang menolaknya. Setiap ekspresi wajahnya memancarkan kesedihan mendalam, menjadikannya simbol makhluk yang diciptakan tanpa pilihan namun tetap berharap diterima. Oscar Isaac memberi warna kuat pada karakter Victor sebagai ilmuwan ambisius yang tersiksa oleh ciptaannya sendiri. Kehadiran Christoph Waltz dan Mia Goth menambah dimensi moral yang memperkaya dinamika antara para tokoh.

Dari sisi visual, film ini merupakan karya estetika yang luar biasa kuat. Del Toro bersama sinematografer Dan Laustsen menciptakan dunia gotik yang megah, penuh cahaya redup dan nuansa Victoria yang pekat. Setiap adegan tampak seperti lukisan bergerak, diperkuat oleh detail produksi seperti kostum, tata rias, hingga 42 potongan prostetik pada tubuh sang makhluk. Tekad del Toro menghadirkan keindahan sekaligus kepiluan terasa jelas dalam setiap frame. Musik Alexandre Desplat kemudian menjadi lapisan melankolis yang menyatu dengan perjalanan emosional para tokohnya.

Tema besar film ini berputar pada tanggung jawab moral pencipta, penolakan sosial, dan pencarian tempat dalam dunia yang tidak menginginkan kehadiran makhluk tersebut. Relasi antara Victor dan ciptaannya terasa seperti hubungan ayah-anak yang patah, akibat ambisi ilmiah yang berubah menjadi tragedi. Film ini mengajukan pertanyaan tentang batas etika: apakah manusia berhak menciptakan kehidupan bila ia tidak siap memikul konsekuensinya? Penderitaan sang makhluk menjadi cermin dari kesalahan pencipta sekaligus dunia yang tidak mampu menerima sesuatu yang berbeda. Del Toro berhasil mengangkat dilema moral ini dengan cara yang menyentuh dan relevan.

Meski demikian, beberapa aspek mungkin terasa berat bagi sebagian penonton. Durasi sekitar 150 menit membuat ritme cerita melambat di paruh kedua, terutama ketika dialog filosofis mulai mendominasi. Penonton yang mengharapkan horor murni mungkin akan melihat film ini lebih sebagai drama gotik romantis yang menekankan rasa kehilangan ketimbang ketakutan. Gaya penceritaan del Toro yang penuh simbolisme juga menuntut perhatian lebih. Namun justru kedalaman inilah yang menjadi kekuatan utama film.

Secara keseluruhan, Frankenstein versi 2025 adalah salah satu adaptasi terbaik dari karya klasik Mary Shelley. Del Toro tidak hanya memodernisasi pesan asli tanpa menghilangkan ruhnya, tetapi juga menyuguhkan pengalaman menonton yang reflektif dan sarat makna. Film ini relevan bagi pembaca kampus karena membuka ruang analisis tentang etika sains, representasi “monster” sebagai metafora sosial, hingga persoalan identitas dan eksistensi. Visual yang memukau, akting yang kuat, dan pesan kemanusiaan yang mendalam menjadikannya tontonan yang penting. Dengan kualitas yang demikian matang, film ini layak mendapatkan skor 8,5 dari 10. (Elisya Belinda Dewayanti)

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.