Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Global Warming yang menyebabkan beberapa desa dikaki gunung Penanggungan mengalami kekeringan

Global Warming

Mahasiswa.co.id - Global warming kini menjadi ancaman nyata yang dampaknya semakin dirasakan di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu faktanya adalah fenomena kekeringan yang melanda sejumlah desa di kaki Gunung Penanggungan. Dulu dikenal sebagai kawasan pinggiran kota dengan sumber air melimpah, kini desa-desa ini harus menghadapi kenyataan pahit akibat perubahan iklim. Perubahan pola cuaca, penurunan curah hujan, dan peningkatan suhu menjadi penyebab utama yang mempengaruhi ketersediaan air bersih, mengancam kehidupan masyarakat dan ekosistem di wilayah tersebut.

Fenomena ini menyebabkan perubahan iklim yang drastis, mengakibatkan kekeringan berkepanjangan dan mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat. Dengan curah hujan yang semakin tidak diketahui, banyak petani menghadapi gagal panen dan krisis air bersih. Upaya adaptasi dan mitigasi diperlukan untuk menghadapi dampak ini, agar masyarakat dapat bertahan di tengah tantangan lingkungan yang semakin berat.

Penyebab Terjadinya Global Warming di Beberapa Desa dikaki gunung Penanggungan
Pemanasan global atau global warming adalah istilah yang menggambarkan peristiwa kenaikan suhu rata-rata daratan, lautan dan atmosfer bumi secara bertahap. Sejak 100 tahun lalu, suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sekitar 0,6 derajat celsius. Oleh karena itu, peneliti dan ilmuwan mulai melakukan penelitian mengenai fenomena ini.

Adanya global warming ini telah menyebabkan timbulnya kekeringan di beberapa desa dikaki gunung Penanggungan ini telah di ditetapkan sejak juli 2024 dan berstatus siaga darurat karena sebanyak 7.587 warga di tiga desa di kaki Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengalami krisis air bersih akibat kekeringan.

Pemanasan global telah menjadi isu global, karena tidak hanya dialami atau menimpa bangsa Indonesia saja dengan bukti di banyak kota dan desa cuaca semakin panas, melainkan hampir seluruh belahan dunia. Jika dilihat global warming yang menyebabkan kekeringan di beberapa desa dikaki gunung Penanggungan itu terjadi karena sebagai berikut:

1. Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca ini menjadikan panas yang berada di bumi tidak dapat dipantulkan ke luar angkasa, tetapi terperangkap di atmosfer. Efek rumah kaca ini bermanfaat manusia, namun jika berlebihan akan berdampak buruk terhadap iklim dan cuaca yang ada di bumi. Meskipun dipedesaan sangat minim yang menggunakan rumah kaca tapi tidak menutup kemungkinan adanya rumah kaca tersebut.

2. Polusi Sampah Plastik Yang Tidak Dapat Didaur Ulang
Gas metana yang berasal dari plastik yang terkena sinar matahari dikatakan sebagai salah satu penyebab utama perubahan iklim, hal ini berhubungan dengan peningkatan pemanasan global. Sampah yang setiap hari dihasilkan manusia terutama sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang seperti styrofoam dan plastik juga menjadi sumber lain dari emisi CO2. Di pedesaan masyarakat mengolah sampah plastik dengan cara membakar, hal tersebut juga dapat menambah populasi global warming didunia.

3. Polusi Udara Akibat Asap Industri Pabrik
Industri pabrik menyebabkan banyaknya asap yang dihasilkan, dan dapat mengakibatkan polusi udara yang akan membuat lingkungan tercemar dan terjadinya pemanasan global. Di beberapa desa di kaki gunung Penanggungan wilayah Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terdapat 993 perusahaan industri pengolahan pada tahun 2021. Perindustrian secara masif telah memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan, salah satunya adalah pemanasan global. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas industri, seperti pembakaran bahan bakar fosil, limbah produksi, dan deforestasi untuk perluasan industri, menjadi kontributor utama meningkatnya suhu bumi secara besar-besaran.

4. Penebangan Pohon
Penebangan pohon akan menyebabkan pemanasan global, karena hutan memiliki fungsi menyerap gas karbon dioksida, dan hutan merupakan penghasil oksigen.

Dampak yang ditimbulkan
1. Krisis Air Bersih : Warga harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, yang meningkatkan beban kerja terutama bagi perempuan dan anak-anak.

2. Peningkatan suhu : Suhu di Mojokerto pernah mengalami kenaikan hingga mencapai 37°C pada 17 Oktober 2023. Peningkatan suhu ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, Peningkatan suhu di bumi secara keseluruhan disebabkan oleh kelebihan produksi gas di atmosfer yang menghambat panas keluar. Pemanasan global yang terjadi memicu terjadinya kekeringan.

3. Migrasi Penduduk : Kekeringan memaksa sebagian penduduk pindah ke daerah lain yang memiliki pasokan udara.

4. Ketegangan Sosial : Konflik antar desa atau antar warga dapat muncul akibat perebutan sumber daya air.
Fenomena kekeringan yang melanda berbagai wilayah, termasuk di beberapa desa dikaki gunung Penanggungan ini telah membawa dampak serius terhadap kehidupan masyarakat. Kekeringan tidak hanya menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga memicu berbagai masalah lain yang kompleks. Dalam situasi ini, warga terpaksa menghadapi krisis air bersih yang memperberat beban kehidupan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Selain itu, peningkatan suhu ekstrem yang disebabkan oleh pemanasan global semakin memperparah kondisi kekeringan, menambah tekanan bagi penduduk setempat. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih untuk bermigrasi ke daerah lain demi mendapatkan akses sumber daya yang lebih memadai.

Solusi yang harus dilakukan!
Dalam kasus ini menggaris bawahi pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dalam mengatasi dampak pemanasan global. Perlu ada langkah konkret seperti:

1. Rehabilitasi Lingkungan : Penanaman kembali pohon di kawasan yang telah mengalami deforestasi dan perlindungan kawasan hutan di sekitar Gunung Penanggungan.

2. Pengelolaan Sampah : Masyarakat perlu dididik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mengolah sampah dengan metode ramah lingkungan, seperti daur ulang dan pengomposan.

3. Pengendalian Emisi Industri : Pemerintah harus memperketat regulasi terhadap industri, terutama yang beroperasi di dekat daerah pedesaan, dengan mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan.

4. Peningkatan Akses Air Bersih : Investasi dalam infrastruktur air bersih, seperti pembangunan embung atau teknologi pemanenan air hujan, bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menghadapi kekeringan.

Dalam kasus global warming ini adalah masalah serius yang memerlukan kesadaran dan tindakan kolektif. Jika tidak diatasi, dampaknya akan terus meluas, mengancam ekosistem dan kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah rentan seperti desa-desa di kaki Gunung Penanggungan.

Dasar hukum terkait
Dalam menghadapi masalah global warming yang mengakibatkan beberapa desa dikaki gunung Penanggungan kekeringan, ada dasar hukum yang memberikan arahan mengenai kewajiban pemerintah serta masyarakat dalam menjaga kebersihan dan lingkungan hidup yang dapat menghambat pemanasan global. Dalam konteks Indonesia, ada UUPPLH pasal 67 yang berbunyi (Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian Fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan Pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan Hidup). Dalam hal ini, pemerintah memastikan keterlibatan aktif setiap individu dalam menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dengan cara mengendalikan kontaminasi dan kerusakan lingkungan. Hal ini bertujuan untuk mencegah dampak negatif seperti pemanasan global dan kekeringan, serta mendukung ekosistem bagi generasi saat ini.

Kesimpulannya
Fenomena pemanasan global yang menyebabkan kekeringan di beberapa desa di kaki Gunung Penangungan menunjukkan betapa perubahan iklim berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Faktor-faktor seperti efek rumah kaca, polusi plastik, aktivitas industri, dan penebangan pohon mempercepat pemanasan global. Akibatnya, sebanyak 7.587 warga di tiga desa mengalami krisis air minum, yang berdampak pada pertanian, layanan kesehatan, dan ekosistem lokal. Situasi ini merupakan bukti nyata bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang juga berdampak signifikan pada tingkat lokal.

Oleh: Firda Ainurrohmah
Saya Mahasiswa dari prodi hukum fakultas syari'ah dan hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.