Hilangnya Jiwa Spiritual Pada Diri Manusia Zaman Modern Saat Ini
Oleh Redaksi
Perbedaan Spiritual Manusia Zaman Dulu dengan Zaman Modern
Pada seiring zaman akan berjalan dimana zaman dulu dengan zaman modern ini sangat berbeda jauh. Zaman dulu belum mengenal yang adanya alat teknologi canggih seperti saat zaman modern ini seperti contoh zaman dulu cara berkomunikasi langsung, bekerja secara alami tanpa bantuan alat teknologi, tidak terlalu juga mengenal apa itu gadget mereka dulu menggunakan telepon biasa dengan memasukkan uang koin. Berbeda dengan modern zaman ini telah mendatangkan sejumlah kemajuan, kenikmatan dan kesenangan bagi manusia. Karena seiring revolusi pada teknologi, dan komunikasi telah membahas kesulitan yang pernah manusia hadapi zaman dulu. Kehidupan modern saat ini nyatanya manusia mengalami krisis yang luar biasa banyak manusia yang kehilangan makna hidup, yang menyebabkan mereka merasakan gelisah dan kekacauan pada spiritualnya. Hilangnya makna rohani dan spiritual bagi sebagian manusia modern telah menyebabkan kekeliruan visi dan penyimpangan misi mereka. Keadaan itu membuat hidup mereka bukannya memperkaya kemanusiaannya, melainkan menurunkan harkat dan martabat dari makhluk termulia menjadi makhluk yang hina. Itulah sebabnya sejumlah ahli dan pengamat kemanusiaan meratapi zaman ini sebagai zaman yang amat krisis bagi manusia. Sayyed Hussein Nasr, pemikir muslim kontemporer dari Parsi menyebutkan sejumlah kasus "nestapa manusia modern". Soejatmoko menyebutkan bahwa"manusia modern telah menjadi persoalan bagi dirinya sendiri". Sementara Roos Poole menyebutkan bahwa "masyarakat modern telah menjadi masyarakat yang sakit". Pendeknya, kenikmatan dunia modern pada tingkat tertentu telah menjadi pemicu bagi jatuhnya sejumlah manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material.
Apa yang hilang dari diri manusia saat ini? Jawabannya adalah iman dan rohani yang di dalamnya bersemi nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kesejukan yang diajarkan Rasulullah dari Allah.
MAKNA DARI MODERN
Modernitas berasal dari kata ‘modern’ dan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan kata modern adalah Kuno, yaitu segala sesuatu yang terkaitan dengan masa lampau. Modern dipandang sikap yang bersangkutan dengan kebiasaan masa kini banyak dipengaruhi oleh zaman modern. Sedangkan yang dimaksud dengan zaman modern yaitu adanya penyebaran ke seluruh dunia terbentuk pada abad ke-16 melalui suatu perubahan yang penting di Eropa Barat dikenal ‘Renaisanse’.
Meleburnya Rasa Spiritual Manusia Modern
Di dunia ini memang benar menjaga keimanan sangat tidak mudah bagi kita sebagai umat manusia di zaman modern ini, apalagi adanya perubahan teknologi, sikap manusia yang terang-terangan melakukan maksiat, dan tidak ada rasa sadarnya berpikir bahwa di dunia ini sifatnya hanya sementara saja. Tentu disadari dunia tempat manusia untuk mengejar Allah dengan baik dan ikhlas setulus hati lubuk yang paling dalam, bukan untuk bersenang-senang. Boleh saja kita ingin merasakan di dunia dengan bersenang-senang, tetapi bersenang-senanglah sewajarnya seperti melakukan kebaikan dalam ridhonya Allah. Manusia modern saat ini patut dimaklumi kurangnya rasa spiritual pada diri, cara meningkatkan spiritual bisa dengan melakukan perintah Allah seperti sholat, dzikir, menghindari maksiat, sering ikut kumpulan orang sholeh atau kajian, dan dekat dengan orang yang positif dalam perbuatan. Zaman modern ini perlu juga tingkatkan percaya adanya iman kepada hari akhir, yang sebagaimana sudah tertulis dalam rukun iman yang ke 6. Jika iman manusia modern ini melebur begitu saja tanpa ada perubahan bagaimana juga cara menjaga iman yang baik dan memantapkan atau menyakini hati dengan bersih pada diri. Iman yang kuat dapat membantu dan menyelamatkan kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kalau demikianlah hal itu, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia modern saat ini?dengan melalui revolusi rohani dalam menjalankan kehidupan spiritualnya.
Cara Sikap Beretika Spiritual Pada Diri Manusia Modern
Nilai ibadah dalam Islam tidak hanya dilihat dari bobot (kebajikan pahala), tetapi salah satunya yang terpenting adalah implikasi ibadah terhadap cara hidup dan perilaku orang yang melakukannya pelaksanaan ibadah itu. Hal tersebut dapat dilihat dengan cara seumpamaan, pada makna ‘khusyu’ dalam ibadah dengan efektivitas ibadah untuk mencegah perlakuan dari maksiat atau keji dan munkar.(Q.S Al-Ankabut:45). Sama juga pada munculnya visi dan orientasi kesucian harta serta pendidikan kesalehan sosial pada diri pelaku ibadah zakat. Dalam kaitan dengan ibadah puasa Ramadhan dan bisa juga puasa sunnah, implikasi nilainya terlihat pada makna takwa yang berorientasi ke masa depan. Sebab sebagaimana diketahui bahwa puasa Ramadhan dan puasa sunnah yaitu ‘pusat latihan ketakwaan’ bagi manusia agar mencapai ketakwaan yang baik. Di kalangan awam atau pengamal agama secara populer, nilai ibadah cenderung dilihat dari sudut kelengkapan syarat rukunnya (fiqih). Hal ini mengakibatkan bukan hanya implikasi dalam beragama, tetapi juga kehilangan makna ibadah sebagai faktor perubahan bagi para penganutnya ke arah yang lebih baik. Dalam kaitannya dengan puasa Ramadhan dan puasa sunnah ini salah satu implikasi yang diharapkan ada munculnya etika di dalam kalangan manusia. Jadi, hal ini paling potensial untuk menemukan makna substansial dari setiap ibadah dalam Islam menumbuhkan ibadah tidak menjadi rutinitas biasa melainkan bisa menjadi pencerahan starting point bagi kemajuan Islam secara berarti.
Cara beretika baik dalam spiritual diri pada masa modern ini, yaitu:
a.) Ketaatan dalam beragama, ketaatan yang dimaksud ini adalah ketaatan yang lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya dapat dikedepankan agamanya yang mengutamakan syarat rukun dalam pelaksanaannya. Apapun aktivitasnya dari dirinya tetap terlihat perilaku sebagai makhluk Allah yang taat dan cerdas dalam melakukan agama Islam.
b.) Kesalehan sosial, puasa memang menjadi ibadah individual atau tergantung seseorang yang melaksanakannya. Allah berfirman: “ Puasa itu untuk-Ku dan Aku lah yang akan memberikan balasannya.” (Hadis Qudsi)
Demikian itu, puasa ini juga melatih diri dari hawa nafsu dan merasakan apa yang dirasakan orang fakir dan miskin tidak dapat makan dan minum. Kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan ditandai dengan penunaian zakat fitrah, setelah sebelumnya dijalankan zakat fitrah ialah zakat mal, infak, dan sedekah. Ini juga tidak hanya salah dalam individual tetapi juga termasuk saleh sosial.
c.) Menghayati atau meyakini nilai-nilai dalam Islam, dengan cara melakukan musahabah (intropeksi). Untuk itu setiap manusia sangat membutuhkan penasihat spiritual, sebagai pengamalan sabda Rasulullah, Al-Din Al-Nashihat agama itu saling menasihati, yang senantiasa dapat memberi pertimbangan bagi keberagamaan seseorang.
Menghadirkan Allah Dalam Kehidupan Kita
Salah satu titik lemah manusia adalah sikapnya yang sering terlalaikan dalam spiritualnya demi hanya mengejar dunianya dulu. Seringkali juga berbuat dosa dan kesalahan justru tidak merasakan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan dosa dan bangga dilakukan. Pemikir muslim dari Parsi mengatakan bahwa "beda seorang muslim dengan yang lain bukan karena seorang muslim tidak pernah berbuat salah, melainkan karena seorang muslim tidak melakukan suatu kesalahan secara berulang-ulang." Kalau kita menoleh kenyataan kehidupan, memang sungguh terlalu banyak orang yang keterlaluan. Banyak kutipan yang dapat diketengahkan dalam hal ini, mulai dari yang sederhana sampai pada hal-hal yang sangat berat: "Seseorang tidak hanya terlanjur melakukan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme, tetapi ia sanggup melakukannya berulang-ulang, dan bahkan memamerkan harta hasil korupsinya. Seseorang tidak hanya terlanjur melakukan kesalahan dengan mempertontonkan auratnya di depan umum, tetapi ia justru merasa bangga dengan pelanggaran etika yang dilakukannya seorang pejabat misalnya, tidak saja terlanjur melakukan perzinaan atau membiarkan tindak perzinaan di tengah masyarakatnya malah melokalisasi atau mencari income negara atau daerahnya seseorang tidak hanya merasa bersalah jika anaknya jatuh pada perbuatan seperti maksiat atau tindakan menyimpang.”
Jika salah satu titik lemah manusia adalah sikapnya yang keterlaluan, maka pada sisi lain kekuatan hati atau rohani titik kekuatan yang senantiasa terus mengajak kepada kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya. Contoh sikap inilah yang harus wajib kita tanamkan pada diri kita sebagai mana menjadi hamba Allah yang selalu mengingat Allah akan menjadi tenang.
BIODATA PENULIS
Penulis artikel ini bernama Fazira Ryanti yang biasanya dipanggil Fazira, lahir di Surabaya pada tanggal 27 Juli 2005 terlahir anak kedua dari tiga bersaudara. Saya menyukai bidang olahraga selain itu juga saya suka mengoleksi buku novel fiksi Islami maupun buku non fiksi. Pendidikan penulis dari TK Al-Hidayah di Surabaya tepatnya di jalan Kebonsari pada tahun 2010-2011. Lanjut SD di SDN Kebonsari 1 Surabaya tepatnya di jalan Kebonsari tahun 2012-2017. Dan lanjut SMP Baitussalam di Surabaya tepatnya di jalan Ketintang tahun 2018-2020, melanjutkan di SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya tepatnya di jalan Ahmad Yani di Surabaya. Kemudian saya melanjutkan kuliah Alhamdullilah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya prodi Tasawuf dan Psikoterapi dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0