Mahasiswa.co.id - Aurel (20) sedang meminum kopi susu di Kafe favoritnya. Tiba-tiba notif WhatsApp muncul dari “Dia”. Pesannya sangat simple, “Mau makan malam bersama?”. Mereka bukan pacaran, mereka bukan teman biasa… apakah sebutannya sekarang “Teman Level 2,3,4,5,6…1.000?” pokoknya mereka itu HTS, Hubungan Tanpa Status yang kini sangat familiar dengan Gen Z.
Fase seperti ini sudah bukan rahasia lagi. Dan sepertinya Gen Z pada usia 18-25 tahun di Indonesia lebih nyaman menjalani hubungan “tanpa label” dibanding pacaran formal. Sudah banyak usia-usia Gen Z yang pernah mengaku atau sedang HTS. Alasannya fokus belajar dan tidak ingin terikat.
Terus, kenapa sih Gen Z lebih memilih HTS yang padahal ada di zona abu-abu ini?
Kebebasan yang Katanya Asik Ketika Biaya hidup untuk bayar kost, membeli makan sehari-hari, membeli bensin untuk kendaraan motor, mobil dan pembayaran UKT semasa kuliah yang meningkat tiap tahun, adalah tekanan ekonomi yang kompleks. Dalam konteks seperti ini, kebutuhan relationship perihal finansial terasa seperti beban tambahan.
Di pemikiran Gen Z, “Pacaran resmi artinya harus lebih berusaha : membayar makan pacarnya, memberikan hadiah, dan jalan bareng di tiap tanggal merah. HTS lebih fleksibel. Kita bisa saling menyukai, tapi tanpa drama” Ujar Dimas (21).
Gen Z itu sangat pragmatis. Dibanding menguras dompet untuk traktir pacar tiap weekend, lebih baik uangnya buat beli skincare dan bayar Spotify Premium. Investasi untuk diri sendiri terasa lebih aman dan terkontrol. Atau bisa juga membeli buku-buku dan self reward lainnya. Masuk akal kan? Trauma Masa Lalu yang Tidak Sembuh-Sembuh
Di balik alasan “Fokus belajar” atau “Fokus karier”, ada trauma masa lalu yang tidak sembuh-sembuh. Banyak sekali Gen Z yang tumbuh melihat kasus perceraian, perselingkuhan, atau hubungan-hubungan yang rusak di sekitar mereka.
“Kasus perselingkuhan sekarang saja, rata rata adalah dari pernikahan Gen Z di usia muda. Contohnya di tahun 2025 ini, banyak dari artis-artis Gen Z yang sekarang” Curahan Wanda. Jadi, HTS bagi beberapa Gen Z adalah salah satu cara melindungi diri : “Kalau nanti ada masalah aku dengan dia, setidaknya aku tidak punya status yang harus dipertahankan”.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024 menunjukkan angka perceraian di Indonesia mencapai 399 ribu kasus. Puncaknya? Angka tertinggi jumlah perceraian ada di tahun 2022 dengan 516 ribu kasus. Beberapa Gen Z menganggap pacaran itu sebagai gerbang menuju komitmen yang menakutkan. Kalau HTS? Itu seperti safe zone (atau setidaknya seperti itu yang mereka pikir).
Refleksi yang Berhubungan dengan Perempuan Pilihan “tanpa label” ini, tersembungi dinamika yang jarang dibicarakan. Dalam Sebagian besar hubungan HTS, justru Perempuan lah yang sering dirugikan dari segi emosional dan sosial. Perempuan yang terjebak dalam hubungan HTS, menghadapi double standard; dihakimi jika terlalu bersikap posesif, dan dihakimi jika dianggap “gampangan”. Sementara dari posisi laki-laki, jarang menghadapi tekanan sosial yang sama.
Dalam buku yang berjudul “The Alpha Girl’s Guide” (Henry Manampiring, 2015:106) mengatakan bahwa “Seorang Alpha Girl punya self respect. Dia menghargai dirinya sendiri, dan bentuk dari menghargai diri sendiri adalah tidak membiarkan orang lain melecehkan dan meng-abuse dirinya.”
Tanggung Jawab yang Ditunda Tapi spoiler alert : HTS tetap ada drama nya, malah kadang lebih menyakitkan.
HTS dapat membuat kebingungan emosional salah satu pasangannya. Aurel pernah bertanya pada “Dia”: “Kalau teman-teman kamu tanya kita pacaran enggak nya, memang kamu bakal jawab apa?”
Jawaban “Dia”: “Cuman teman kan, memang kita pacaran?”. Ini salah satu konflik kecil yang membuat hati Aurel (dan jutaan perempuan lain) remuk. Konflik seperti ini sangat sering berakhir dengan ghosting, yaitu menghilang tanpa kejelasan dan meninggalkan luka yang tidak bisa dibicarakan. Karena, bagaimana mau protes? Kan tidak resmi.
Dari HTS, Ubah ke Self-Awarness HTS adalah cermin bagi generasi yang sedang belajar mencari keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Tapi pertanyaannya “Apakah menjalani hubungan tanpa status benar-benar memberi kebebasan, atau justru menunda-nunda masalah yang akan muncul nanti? Kopi Aurel sudah habis. Tapi notifikasinya masih berdering di kepala. HTS memang bebas, tapi kadang yang bikin melelahkan justru pertanyaan yang tidak pernah dijawab, yaitu “Apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hubungan ini?”
Mungkin Gen Z bukan anti-komitmen. Tetapi, HTS dapat dimulai sebagai survival Gen Z dalam tuntutan ekonomi atau trauma relationship. Namun, apapun yang disebabkan tanpa komunikasi yang jelas dan setara, semua tetap akan berisiko untuk ruang eksploitasi emosional terutama bagi perempuan.
Mungkin yang dibutuhkan Gen Z bukan menormalisasikan “kebebasan tanpa label” tetapi tentang keberanian untuk berkomunikasi dengan jujur, kesadaran tentang privilege dalam relationship, dan yang paling penting adalah bagaimana sistem sosial hingga ekonomi dapat membuat anak muda bisa merencanakan masa depan tanpa kecemasan.
Dan honestly? Di tengah semua kebebasan yang ditawarkan HTS, mungkin yang paling Gen Z butuhkan bukan hubungan tanpa status, tapi keberanian untuk menghadapi status itu sendiri atas dasar rasa hormat, komunikasi, dan kesetaraan.
Profil Penulis : Zahra Nur Ayla Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0