Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kandungan Hadis Bukhari No. 8 Dalam Lagu Pepeling Karya Ki Anom Suroto

WhatsApp-Image-2023-10-31-at-10.18.14

Mahasiswa.co.id - Kebudayaan dari setiap daerah memiliki ciri khas sendiri di setiap daerahnya. Hal itu dapat di pengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut juga menjadikan kebudayaan atau tradisi disetiap daerah yang berbeda-beda. Dari adanya perbedaan tersebut menjadikan kebudayaan atau tradisi disetiap daerah di Indonesia memiliki ciri khusus yang dipengaruhi dari bentuk geografis, kebiasaan, keyakinan agama dan segala sesuatu yang membuat masyarakat di tempat tersebut mengamini adanya tradisi tersebut. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah keyakinan dan agama.

Salah satu contoh kebudayaan yang dipengaruhi keyakinan dan agama adalah wayang kulit. Wayang kulit dibawakan oleh sunan Kalijaga dalam beliau berdakwah di tanah Jawa. Dalam pementasan wayang kulit sunan kalijaga memberikan nilai-nilai keislaman didalam peran setiap tokoh yang ada di wayangkulit tersebut. Dari tradisi wayangkulit tersebut juga sering ditampilkan nyanyian-nyanyian yang dibawakan oleh para sinden. Dengan model dakwah sunan kalijaga tersebut banyak orang jawa tertarik dan menjadikan pegelaran wayang kulit menjadi tradisi dikalangan orang jawa.

Dari tradisi tersebut menjadikan banyak seniman-seniman jawa yang mengambil dari tradisi tersebut untuk diadopsi dan memiliki pembaharuan dalam seni yang ditampilkan. Salah satunya adalah Ki Anom Suroto, beliau adalah salah satu seniman yang lahir di Klaten Jawa Tenggah. Selain pewayangan beliau juga memiliki berbagai kegiatan seputar kebudayaan. Salah satunya adalah gending jawa. Beliau banyak menciptakan gending-gending jawa yang hingga sekarang masih sering diputar dalam kegiatan-kagiatan tertentu. Salah satu gending karya ki Anom Suroto adalah gending Pepeling.
Berikut lirik dari lagu pepeling:

Wis wancine tansah dielingake
Wis wancine podo nindaake
Adzan wus kumandhang wayahe sembayang
Netepi wajib dawuhe pengeran
Sholat dadi cagak e agomo
Limang wektu kudu tansah dijogo
Khanti istiqomah lan sing tumakninah
Luwih sampurno yen berjama”ah
Subuh Luhur lan ‘Asar
Sholat sayekti ngadohke tindak mungkar
Maghrib lan ‘Isya’ jangkepe
Prayogane ditambah sholat sunate
Jo sembrono iku printah agomo
Ngelingono neng ndonya mung sedelo
Sabar lan tawakal pasrah sing kuoso
Yen kepengin mbesok munggah suargo

Dalam lirik lagu tersebut memerintahkan kita untuk senantiasa melaksanakan shalat lima waktu ketika adzan sudah berkumandnag. Karena shalat adalah tiang agama yang harus dilaksanakan dan dijaga secara istiqomah. Alangkah baiknya juga shalat dilaksanakan secara berjamaah, Secara tidak langsung shalat juga menghindakan kita dari perbuatan munkar. Dengan hal itu shalat lima waktu memiliki peran penting dalam diri seorang muslim. Selain shalat wajib lima waktu, juga disarankan untuk melaksanakan shalat sunnah qabliyah maupun ba’diyah.

Kandungan dari lagu pepeling diatas memiliki korelasi dengan hadis nabi Muhammad SAW dalam kitab Shahih Bukhari nomer 8. Isi dari hadis tersebut adalah “Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.Dalam hadis tersebut sudah jelas bahwa shalat merupakan perintah sekaligus menjadi tiang agama bagi pemeluknya. Dengan begitu lirik dari lagu pepeling memiliki sumber yang jelas dari hadis nabi Muhammad SAW.

Pementasan wayang kulit dan memperpadukan dengan gending-gending yang memiliki makna yang terkandung dengan hadis menjadikan metode dakwah semacam itu membuat penikmatnya larut denga napa yang dipentaskan. Secara tidak langsung dengan metode tersebut juga menjadi cara dakwah yang menerapkan budaya didalamnya. Dengan melihat segi geografis tempat membuat banyak peminat dari tempat tersebut. Hal semacam ini perlu dikembangkan dan terus diadakan untuk menjadikan Islam tetap ada di Jawa.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.