Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kebaya ala Korean Style: Dibalik Jahitan Ada Harga Diri Bangsa

Kebaya ala Korean

Oleh: Diana Ningrum Rahmawati, Mahasiswi UNY

Siapa sangka busana tradisional yang dulu dianggap kuno kini bisa tampil kekinian di tengah pengaruh Korean style?

Mahasiswa.co.id - Belakangan ini, kebaya mulai kembali dilirik oleh masyarakat khususnya di kalangan remaja, yakni dengan tampilannya yang baru. Jika dulu kebaya dikaitkan dengan sesuatu yang kuno, pakaian yang umumnya dikenakan para orang tua, dan warna mencolok yang membosankan, maka sekarang para desainer bangsa yang kreatif telah menyulap kebaya menjadi pakaian yang baru dengan aksen pita, warna pastel, dan dibalut dengan nuansa ‘Korean style’ yang membuatnya terlihat lebih trendi. Perubahan ini membawa kebaya lebih dekat dengan generasi muda karena mulai mengikuti gaya dan selera mereka dalam berpakaian.

Masalahnya, apakah kebaharuan tersebut merupakan upaya inovasi atau malah mencerminkan krisisnya integritas bangsa? Saya tentu memahami niat baik para desainer dalam upayanya menyinari kembali kebaya yang merupakan salah satu wajah kita dalam berbangsa. Sekarang ini, saya kerap melihat kebaya kekinian ini dengan desain lengan puffnya, desain yang lebih casual, dipadukan dengan obi, atau dipadukan dengan rok pendek sehingga terlihat clean look khas drama korea. Apakah itu selaras dengan jati diri kebaya yang penuh nilai luhur? Karena sejatinya meskipun kebaya memiliki potongan mengikuti bentuk tubuh, kebaya tetap tertutup dengan cara yang elegan.

Fenomena kebaya kekinian ini hanyalah salah satu dari sekian tantangan dan permasalahan integritas dalam bangsa kita. Dengan zaman yang semakin maju, trend-trend berpakaian dari budaya luar mulai masuk ke Indonesia. Seperti maraknya fast fashion saat ini, masyarakat lebih bangga mengenakan pakaian impor terutama yang mengikuti gaya Korean style, Chinese look, hingga Western fashion. Hal ini tidak hanya memengaruhi selera berpakaian generasi muda, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar kita menghargai busana lokal dan warisan budaya sendiri.

Menurut saya, modifikasi kebaya memang diperlukan karena zaman yang mulai berubah. Namun pada saat yang sama, modifikasi kebaya harus tetap mejaga esensi kebaya tetap hidup. Yaitu dengan menggunakan kain-kain tradisional, detail bordir, atau sentuhan batik yang menonjolkan khas Nusantara harus tetap ditekankan. Sehingga kita tidak sekedar mengikuti trend, namun tetap memperkaya budaya lokal.

Di sisi lain, kreasi kebaya yang lebih kekinian ini bisa menjadi peluang untuk mempromosikan kebaya yang pada awalnya hanya untuk pakaian upacara tradisional menjadi pakaian sehari-hari yang lebih diterima. Hal ini tidak hanya membantu mengolah dan melestarikan budaya lokal, tetapi juga mendorong generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya bangsa. Dengan desain kebaya yang lebih nyaman dan trendi bisa membantu kita dalam mengolah budaya lokal, sekaligus membantu kita untuk mencintai produk dalam negeri. Sehingga masyarakat akan lebih mudah menerima dan memilih hasil karya desainer lokal, dan mendukung industri fashion nasional. Karena mencintai produk dalam negeri sama saja kita menjaga identitas, nilai, dan integritas bangsa Indonesia.

Generasi muda memang sepatutnya diberi ruang untuk mengembangkan budaya lokal sesuai gaya mereka agar lebih mudah diterima. Namun ditangan mereka juga, mereka memiliki kewajiban dan tugas besar dalam menjaga budaya Indonesia. sebab, setiap jahitan dari batik, tenun, songket, maupun kebaya itu sendiri menyimpan pesan tentang identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Setiap busana lokal punya jahitan yang menyatukan bangsa. Kalau kita meremehkan atau meninggalkan busana tradisional, sama saja kita meremehkan harga diri bangsa sendiri.

Pada akhirnya, pakaian bukanlah sekedar pakaian saja. Namun tetap mengandung makna dan menjadi simbol kebanggan bangsa kita. Disetiap jahitan, ada harga diri yang harus kita jaga. Sehingga tidak penting pilihan kita tentang kebaya tradisional, ataupun kebaya kekinian, melainkan yang utama adalah pilihan soal siapa kita sebagai bangsa.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.