Ketika Program Televisi Harus Berubah atau Mati Strategi Perubahan Format di Balik Layar TV Indonesia
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Siapa yang masih ingat Dahsyat, acara musik RCTI yang dulu menemani pagi jutaan penonton Indonesia? Program itu pernah menjadi tontonan wajib sebelum berangkat sekolah atau kerja. Namun perlahan, penonton berpindah ke YouTube dan Spotify untuk menikmati musik favorit mereka. Dahsyat pun tak punya pilihan selain berubah dari variety show harian menjadi tayangan mingguan dengan segmen game interaktif yang lebih segar. Itulah potret nyata dari fenomena yang kini menjadi tantangan terbesar industri televisi Indonesia: berubah atau mati.
Perubahan format program bukan sekadar soal mengganti tampilan atau kemasan. Ini adalah keputusan strategis yang menentukan hidup mati sebuah program di tengah persaingan yang semakin ketat. Audiens Indonesia kini terfragmentasi: sebagian masih menonton televisi, sebagian beralih ke YouTube, sebagian lagi tenggelam di TikTok, Netflix, atau Vidio. Stasiun televisi yang tidak mampu membaca pergerakan ini dan menyesuaikan formatnya secara tepat akan kehilangan penonton satu per satu tanpa sempat menyadarinya.
Data tidak berbohong. Sinetron Ikatan Cinta di RCTI sempat mencatat rating di atas 14 pada tahun 2021, angka yang nyaris mustahil di era digital menurut catatan Nielsen Indonesia. Namun pada 2022, angka itu anjlok ke bawah 3. Penurunan ini bukan semata karena alur cerita yang melemah, tetapi juga karena audiens kini memiliki ribuan pilihan tontonan lain di ujung jari mereka. RCTI merespons dengan memindahkan jam tayang dan meluncurkan kampanye digital #IkatanCintaBaru sebuah langkah yang menggambarkan betapa seriusnya industri ini dalam mengelola perubahan format.
Perubahan format program hadir dalam berbagai wujud. Ada rescheduling atau pemindahan jam tayang untuk mencari slot yang lebih strategis. Ada perubahan durasi, seperti yang dilakukan MasterChef Indonesia saat memperpanjang siaran di babak final untuk memaksimalkan momen dramatis sekaligus mendongkrak pemasukan iklan. Ada juga modifikasi isi program, di mana Indosiar menambahkan segmen drama personal peserta dalam kompetisi dangdut agar penonton lebih terikat secara emosional. Semua bentuk perubahan ini punya satu tujuan: mempertahankan relevansi di mata audiens yang terus bergerak.
Di era digital, perubahan format kini merambah ke dimensi baru yang disebut perubahan platform distribusi. Kompas TV adalah contoh terdepan dalam hal ini. Program berita mereka tidak lagi hanya hadir di layar kaca, tetapi juga didistribusikan melalui YouTube untuk menjangkau penonton muda yang lebih sering memegang ponsel daripada duduk di depan televisi. Trans TV pun mendistribusikan program kuliner populernya melalui TikTok dan Instagram untuk meningkatkan viralitas. Fenomena ini oleh pakar media Henry Jenkins (2006) disebut convergence culture, di mana konten tidak lagi terikat pada satu saluran.
Lalu, bagaimana strategi yang tepat dalam melakukan perubahan format? Eastman dan Ferguson (2013) dalam bukunya Media Programming menegaskan bahwa perubahan format harus bertumpu pada riset, bukan intuisi semata. Ada lima langkah kunci: analisis data evaluasi dari rating dan media sosial, uji coba konsep atau pilot testing sebelum ditayangkan penuh, penyesuaian target audiens ke segmen yang masih potensial, komunikasi perubahan kepada penonton melalui promosi dan kampanye digital, serta monitoring pasca-perubahan untuk memastikan hasilnya sesuai harapan. NET TV menerapkan pendekatan ini saat menguji coba late night show Malam Malam dalam skala terbatas sebelum akhirnya dipermanenkan.
Namun perubahan format bukan tanpa risiko. Tantangan terbesar justru datang dari dalam: menyeimbangkan logika data dan kreativitas. Data dapat menunjukkan apa yang disukai audiens saat ini, tetapi tidak selalu mampu mengantisipasi apa yang akan mereka sukai esok hari. Terlalu taat pada data bisa membuat program kehilangan nyalinya untuk berinovasi. Sebaliknya, mengabaikan data berarti berjalan tanpa kompas. Di sinilah tantangan sebenarnya: bagaimana membuat keputusan kreatif yang tetap berakar pada pemahaman mendalam tentang audiens. Pada akhirnya, perubahan format program adalah cerminan dari sebuah prinsip sederhana yang berlaku di industri media: adaptasi atau punah. Program televisi yang berhasil melewati ujian waktu seperti MasterChef Indonesia yang terus berinovasi dari musim ke musim adalah mereka yang tidak pernah berhenti mendengarkan audiensnya. Di era di mana penonton punya kendali penuh atas apa, kapan, dan di mana mereka menonton, televisi Indonesia tidak punya pilihan selain terus bergerak, berubah, dan berkembang.
Rafly Kurniawan Mahasiswa Program Studi Broadcasting, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang (UNPAM)
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0