Oleh: Teuku Muhammad Raihan
Mahasiswa.co.id - Kementerian Agama Republik Indonesia mengumumkan bahwa penayangan azan di TV nasional akan digantikan dengan running text selama ibadah mosa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno, Ibadah mosa merujuk pada misi dan perayaan Agama Katholik. Keputusan ini memicu bantahan dan kecaman berbagai pihak dan lembaga yang ada di Indonesia termasuk Pelajar Islam Indonesia (PII) yang mengecam keras langkah tersebut.
Ketua Koordinator Daerah Brigade Pelajar Islam Indonesia (BPII) Aceh Besar menyatakan bahwa penggantian azan, yang selama ini menjadi pengingat waktu ibadah di TV nasional, telah dianggap semena-mena di negara yang mayoritas beragama Islam ini.
Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Agama, keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap acara internasional dan sebagai upaya untuk memastikan kelancaran ibadah mosa yang dihadiri oleh banyak umat Katolik dari berbagai negara. Kementerian juga menyebutkan bahwa penggantian azan dengan running text hanya akan berlangsung sementara dan tidak mengubah jadwal tayang azan di luar waktu tersebut. Dikarenakan hal tersebut berbagai pihak turut mengecam keras imbauan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI tersebut yang mengganti dan mengatur-atur panggilan beribadah umat Islam yang setiap lima waktu dalam satu hari dan satu malam ditayangkan.
Tentunya langkah yang diambil oleh Kemenag RI ini telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai organisasi keagamaan dan masyarakat umum, khususnya di Aceh sebagai daerah serambi mekkah. Para pengkritik berpendapat bahwa keputusan ini tidak mempertimbangkan sensitivitas umat Islam yang mengandalkan penayangan azan sebagai bagian dari rutinitas keagamaan mereka. Mereka juga menilai bahwa langkah ini berpotensi menimbulkan ketegangan antarumat beragama di Indonesia.

Komentar 0