Kurikulum Merdeka: Kebebasan Belajar Boomerang bagi Kemajuan Pendidikan Bangsa
Oleh mahasiswaners
Mahasiswa.co.id - Melihat kembali pada kurikulum sebelumnya yakni kurikulum 2013 yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi dan saintifik dengan mengembangkan kemampuan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada pelajar. Sedangkan, pada kurikulum merdeka yang memiliki titik fokus pada kebebasan belajar, seperti gaya belajar, bentuk belajar, dan menjadi pemeran utama yang aktif, inovatif dan kreatif dalam pembelajaran.
“Merdeka Belajar” menggarisbawahi pada transformasi pendidikan bagi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Indonesia yang bercermin pada Profil Pelajar Pancasila, prinsip Kemendikbudristek ini masih menjadi dialog hangat diantara masyarakat khususnya para pelaku “Merdeka Belajar” seperti pelajar, mahasiswa, tenaga pendidikan hingga orang tua turut dalam perubahan ini. Apa yang menjadi tonggak perubahan ?
Krisis Pembelajaran Ketertinggalan pembelajaran pada dunia pendidikan Indonesia yang berlangsung sejak 2020, di mana Covid-19 melanda tanah air, ternyata tak hanya perekonomian yang terdampak, sistem pembelajaran Indonesia pun terhambat, nasib pelajar yang tidak bisa mendapatkan ilmu secara langsung karena terbatas oleh ruang sehingga penerimaan ilmu pun tidak optimal. Bahkan dapat dikatakan sebagai learning loss karena minat akan pengembangan pengetahuan dan keterampilan pada pelajar hilang.
Era Revolusi Industri 4.0 Fenomena perubahan teknologi yang berkembang pada teknologi siber dan otomatisasi. Dalam dunia pendidikan, era tersebut sangat berdampak bukan?
Pemerintah mengambil efek revolusi industri 4.0 sebagai perbaikan bagi pembelajaran yang jauh lebih optimal dan fleksibel. Dengan penerapan pembelajaran digital diharapkan dapat mengejar dan memperbaiki krisi pembelajaran yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Misalnya, pembelajaran melalui Zoom Application hanya dengan satu aplikasi yang menyimpan banyak tools untuk dapat berselancar di dalamnya. Lainnya, tak dapat dipungkiri dalam mengerjakan tugasdibantu oleh Artificial Intelligence ? Ya, AI adalah salah satu dobrakan di era Revolusi Industri 4.0.
Keunikan Merdeka Belajar Unik berarti berbeda. Ya, “Merdeka Belajar” menyimpan banyak perbedaan dari kurikulum pendidikan sebelumnya. Banyak perubahan di dalamnya yang ditinjau dari ketiga objek sasaran utama pemberlakuan kurikulum “Merdeka Belajar”, antara lain; Peminatan pada jenjang “Sekolah Menengah Atas” dihapuskan seperti, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa yang dulunya hampir menjejali tiap-tiap institusi. Namun, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia (RI) Nadiem Anwar Makarim tidak akan menghapusnya saja, Ingat!! Ini Transformasi Pendidikan, dipikirkan secara matang dengan mengganti kebebasan bagi peserta didik untuk memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minat, bakat dan aspirasinya. Dampak perubahan tersebut dirasakan pula oleh para guru yang dituntut untuk mengajar sesuai dengan capaian yang ditargetkan dan pantauan terhadap perkembangan pelajar atau mahasiwa, alih-alih beradaptasi, tunduk saja sudah cukup. Tak lain yang menaungi para guru dalam bekerja, suatu institusi tak mungkin tertinggal dengan diberikan kewenangan untuk mengembangkan dan mengeola kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik satuan institusi dan pelajar, namun ingat tetap berlandaskan pada prinsip “Merdeka Belajar”. Benar-benar kebebasan yang tak terbebas, bukan ?
Boomerang Daripada Kebebasan Belajar Keunikan-keunikan tersebut belum tentu merujuk pada perubahan kemajuan, mungkin pula ada masanya menjadi boomerang bagi dunia pendidikan. Siapa sangka, dampak daripada perubahan tersebut kini dirasakan sebagian pelajar bahkan guru. Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tonggak awal bagi dampak berikutnya, suatu institusi yang terhmabat pada saranan dan prasaranan tidak dapat memfasilitasi guru dan juga pelajar untuk dapat melakukan pembelajaran yang fleksibel dan optimal sehingga pelajar menjadi tidak paham akan materi yang diberikan padahal pelajar diberikan kebebasan dalam memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya namun, mata pelajaran lain perlu juga dikuasai. Guru pun kewalahan sebagaimana pergantian kurikulum ini mengakibatkan ketidakmerataan sumber daya manusia yang sesuai dengan minat pelajar. Terlebih masih ada beberaapa guru yang “gagap teknologi” dan diharapkan mampu menerapkan merdeka belajar, bukankah kebebasan belajar yang tak terbebas, kan ?
Bersliweran pula salah satu program unjukan “Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila” atau disingkat P5, seberapa urgensinya dalam pendidikan Indonesia saat ini? program perwujudan merdeka belajar yang bercermin pada profil pelajar pancasila ini mengharapkan pelajar yang mampu menerapkan nilai-nilai dalam tiap sila Pancasila dengan aktif, inovatif, kreatif dan pastinya prestatif dengan gaya belajar dan bentuk belajar yang bebas.
Sisi lain dari program tersebut, sebagian pelajar memiliki manajemen waktu yang amburadul dalam mengatur jadwal akan belajar, kerja kelompok, tugas, bahkan gelar karya, karena kebijakan yang mewajibkan jam mata pelajaran P5 dimasukkan dalam kegiatan pembelajaran dengan waktu yang cukup lama. Tekanan batin dan sosial menjadi ujung dari akibat transformasi pendidikan, kebutuhan motivasi, edukasi, dan aspirasi niscaya akan memberikan kemajuan yang konkret. Guru yang diharapkan mampu memfasilitasi dan menjembatani para pelajar untuk menciptakan pemikiran yang aktif, inovatif, dan kreatif sehingga program tersebut sesuai dengan targetnya. Tak hanya itu, pendidikan karakter masih benar-benar belum terwujud, masih banyak permasalahan pelajar yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila, kebiasaan buruk seperti kecurangan, tidak menghormati dan menghargai, ketidakadilan masih terjadi.
Walaupun tidak ada tuntutan secara penuh dalam menerapkan kurikulum “Merdeka Belajar” ini dengan tiga opsi yang ditawarkan, penyelesaian akar permasalahan tetap harus ditinjau dan diperbaiki. Sarana prasarana yang difasilitasi penuh, mengingat masih banyak sekolah yang kurang optimal dalam pengembangan pembelajaran, ketegasan dalam pemilihan kurikulum yang tepat dikarenakan menyangkut masa depan pelajar Indonesia, pendayagunaan staf pendidikan, guru, dan karyawan demi mewujudkan kemajuan pada pendidikan di Indonesia.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0