Mahasiswa.co.id - Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan berpenduduk lebih dari 270 juta orang. Itu menempatkan Indonesia sebagai negara terpadat keempat didunia. Angka-angka itu juga menunjukkan keragaman budaya, suku, agama, dan bahasa bangsa. Setiap tahunnya, wisatawan asing yang datang ke Indonesia terus bertambah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan turis asing 2016 meningkat 8,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan banyak di antara turis asing yang memutuskan untuk menetap di Indonesia. Dalam hal ini, peran generasi muda, khususnya pada mahasiswa, menjadi sangat penting Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, sebagai bagian dari generasi ini, memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam membangun kebangsaan yang kuat melalui berbagai cara, terutama dalam bidang komunikasi

Mengapa wawasan Kebangsaan itu penting bagi generasi muda?

Generasi muda adalah masa depan bangsa, maka dari itu dengan memiliki wawasan yang luas mengenai kebangsaan dapat mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Wawasan kebangsaan yang kuat dapat membantu mereka mengenal tentang sejarah dan budaya negara mereka, menghargai perbedaan, serta mengembangkan sikap nasionalisme.

Apa saja tantangan di era Globalisasi?

1. Menguatnya individualisme Individualisme adalah paham yang mementingkan hak individu atau perseorangan, mengesampingkan hak masyarakat umum. Di era globalisasi paham-paham terkait individualisme semakin meningkat. Hal ini seiring dengan meningkatnya kemudahan pemenuhan kebutuhan yang tak lagi harus dilakukan secara fisik.ebagai contoh, dewasa ini bekerja, berbelanja, bahkan bersekolah sudah marak dilakukan secara virtual tanpa interaksi manusia secara fisik. Kondisi semacam ini semakin memperkuat paham individualisme. 2. Maraknya kosmopolitanisme Kosmopolitanisme adalah paham yang menganggap bahwa seluruh manusia merupakan anggota dari komunitas global. Paham ini memberi dampak positif untuk menekan diskriminasi dan isu rasial. Sayangnya, paham kosmopolitalisme yang kuat juga bisa melemahkan identitas dan solidaritas kebangsaan. Padahal sikap solidaritas dan rasa kebersamaan sebagai satu bangsa Indonesia adalah salah satu nilai yang dijunjung tinggi dalam Pancasila. Bahkan pada kasus ekstrem, kosmopolitanisme menyebabkan masyarakat ingin identitas mereka sebagai warga negara atau bangsa dihilangkan. Hal ini tentu berisiko menimbulkan masalah keamanan dan masalah sosial lainnya. 3. Meningkatnya fundamentalisme pasar Fundamentalisme pasar adalah gagasan bahwa mekanisme pasar, yaitu transaksi jual-beli, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saja. Gagasan ini menilai bahwa mekanisme pasar adalah satu-satunya prinsip yang bisa mengendalikan kehidupan bermasyarakat. Sisi baiknya, fundamentalisme pasar dapat meningkatkan kemajuan ekonomi individu atau kelompok. Sayangnya, fundamentalisme pasar juga membuat masyarakat terus menerus mengejar keuntungan.Demi mengejar keuntungan tersebut, penganut fundamentalisme pasar akan melakukan apapun, termasuk merebut hak orang lain. 4. Meningkatnya dominasi sistem hukum modern Tantangan Pancasila di era globalisasi lainnya adalah meluasnya pandangan tentang hukum modern. Hal ini menyebabkan masyarakat mulai melirik sistem hukum modern sebagai salah satu landasan pembuat keputusan.Sistem hukum modern yang dimaksud termasuk sistem hukum bangsa Barat yang erat kaitannya dengan kebebasan individu. Di satu sisi, hal ini bisa membuka banyak potensi di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan teknologi. 5. Maraknya radikalisme dan ekstremis Masifnya pertukaran informasi selama era globalisasi ikut menjembatani penyebaran ideologi radikal dan ekstremis. Seperti yang diketahui, radikalisme dan ekstremisme adalah dua hal yang bertentangan dengan Pancasila. Keduanya membuat individu atau kelompok menjadi condong terhadap paham tertentu sehingga memaksa orang lain untuk setuju dengan mereka. Ini tentu bertentagan dengan sila kedua tentang kemanusiaaan dan sila ketiga tentang keadilan sosial. Berikut adalah peran Mahasiswa Ilmu Komunukasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) : Pertama menghidupkan kembali tren berkain dan berkebaya dalam kegiatan sehari-hari di media sosial. Selain itu, mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai kegiatan budaya seperti festival, pertunjukan seni, dan workshop untuk mempelajari dan melestarikan budaya lokal. Mahasiswa juga bisa turut serta dalam penelitian dan dokumentasi budaya lokal, guna menyebarkan informasi dan pengetahuan tentang budaya tersebut kepada masyarakat luas. Kedua Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya juga melakukan workshop mengenai fake news atau Hoax, mahasiswa ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya juga mempelajari mengenai berita hoax atau palsu agar dapat menyampaikan sebuah informasi yang tepat kepada seluruh masyarakat. Ketiga Komunikasi dapat memberikan platform bagi UMKM untuk belajar dan berkembang. Melalui pertukaran informasi dan pengalaman dengan pelanggan, mitra bisnis, dan komunitas industri, UMKM dapat memperoleh wawasan yang berharga untuk mengembangkan keahlian dan inovasi dalam bisnis mereka. Komunikasi yang efektif dapat menjadi katalisator untuk pertumbuhan dan peningkatan kapabilitas UMKM. Keempat Media kampus, seperti majalah, radio, dan website, dapat menjadi platform yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan kebangsaan. Mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat berperan aktif dalam pengelolaan media ini untuk menyampaikan informasi yang positif dan membangun.

Pengembangan Konten Media

• Artikel dan Berita: Menulis artikel tentang isu-isu kebangsaan dan budaya lokal untuk dipublikasikan di media kampus. • Program Radio: Mengadakan program radio yang membahas tema-tema kebangsaan dan mengundang narasumber dari berbagai latar belakang. • Event Budaya: Mengorganisir acara budaya di kampus, seperti festival seni dan budaya, yang menampilkan pertunjukan seni tradisional, pameran kerajinan tangan, dan kuliner lokal. Acara ini tidak hanya memperkenalkan budaya kepada mahasiswa, tetapi juga mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi.

Dukungan dari Universitas

Kelima Kurikulum yang RelevanUniversitas memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berkontribusi dalam membangun kebangsaan. Kurikulum yang relevan dan up-to-date akan membantu mahasiswa memahami isu-isu kebangsaan dan cara-cara untuk mengatasinya. Keenam Fasilitas dan Mentoring Penyediaan fasilitas yang memadai, seperti studio untuk produksi konten digital dan ruang diskusi, akan mendukung mahasiswa dalam mengembangkan ide-ide kreatif. Selain itu, mentoring dari praktisi di bidang komunikasi dapat memberikan wawasan dan pengalaman berharga bagi mahasiswa. Ketujuh memiliki keterampilan berkomunikasi, mahasiswa ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dapat memanfaatkan keterampilan mereka dalam berkomunikasi yang dapat membawa dampak positif seluruh masyarakat. Kedelapan Langkah Kecil untuk Perubahan Besar Setiap tindakan kecil dapat berkontribusi pada perubahan yang lebih besar. Mari kita mulai dengan membagikan konten positif, mendukung produk lokal, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Dengan langkah-langkah ini, mahasiswa dapat berkontribusi nyata dalam membangun Indonesia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bersatu. Kesembilan Generasi Emas Indonesia Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki potensi besar untuk menjadi generasi emas Indonesia. Dengan semangat dan kreativitas, mereka dapat mengatasi tantangan yang ada dan membangun masa depan yang lebih cerah bagi bangsa. Mari kita buktikan bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya siap untuk mengambil peran dalam membangun kebangsaan yang kuat dan berkelanjutan. Kesepuluh Refleksi dan Harapan Dalam perjalanan membangun kebangsaan, penting bagi mahasiswa untuk terus melakukan refleksi terhadap peran mereka. Setiap individu memiliki potensi untuk memberikan kontribusi yang berarti. Dengan saling mendukung dan berkolaborasi, mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya dapat menciptakan dampak yang lebih besar. Harapan untuk masa depan yang lebih baik harus terus dipupuk, dan setiap langkah yang diambil hari ini akan menentukan arah bangsa di masa depan. Kesimpulan Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk membangun kebangsaan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya diharapkan dapat menjadi pelopor dalam menciptakan masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya kebangsaan. Melalui berbagai inisiatif dan tindakan nyata, mereka dapat menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga dan memperkuat identitas bangsa. Mari kita bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, lebih bersatu, dan lebih berdaya saing di kancah global. Nama : Revita Tri Agustin NIM : 1152300037 KELAS : H MATAKULIAH : Teknik Penulisan Ilmiah Dosen Pengampu : Dia Puspita Sari, S.Sosio., M.Si Prodi : Ilmu Komunikasi Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : 17 Agustus 1945 Surabaya