Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Menjelang Hari Guru: Ketika Teknologi tak Dapat Mengajar Hati

Hari Guru

Oleh: Nyssa Fiorentina Gumalan

Mahasiswa.co.id - Di tengah derasnya arus perkembangan kecerdasan buatan, cara belajar manusia berubah drastis. Dari mesin pencari pintar, asisten virtual, hingga aplikasi belajar berbasis AI, semuanya menawarkan kemudahan, kecepatan, dan keefisienan. Banyak yang kini belajar tanpa harus membuka buku atau bertatap muka dengan guru. Padahal, para guru adalah manusia yang mendedikasikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan masih setia berdiri di depan papan tulis, menghadapi generasi yang tumbuh di tengah dunia serba instan. Dari sini, muncul kekhawatiran, apakah profesi guru akan tergantikan oleh teknologi? Apakah di era ketika AI dapat menjawab hampir segalanya, guru masih dianggap penting?

Setiap tahun, 25 November selalu diperingati dengan upacara, karangan bunga, dan unggahan ucapan di media sosial. Namun, di balik perayaan itu, banyak guru di Indonesia masih berjuang dalam keterbatasan. Mereka bukan sedang melawan siswa, melainkan berjuang menghadapi sistem pendidikan yang belum sepenuhnya adil bagi mereka.

Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) 2024, Indonesia memiliki sekitar 3,43 juta guru yang tersebar lebih dari 260 ribu satuan pendidikan di seluruh wilayah. Dari jumlah tersebut, ratusan ribu masih berstatus honorer, dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Di sejumlah daerah, gaji guru honorer bahkan masih berada di bawah Rp500.000,00 per bulan, sedangkan UMR nasional 2024 berkisar antara Rp3.000.000-Rp4.500.000. Fakta ini menunjukkan ketimpangan yang tajam antara penghormatan seremonial terhadap guru dan kesejahteraan yang mereka terima dalam kenyataan sehari-hari.

Padahal, di tengah kemajuan teknologi, peran guru tidak tergantikan. Kecerdasan buatan mampu mengolah data, menganalisis jawaban, dan menyajikan informasi dengan efisien, tetapi tidak dapat menanamkan nilai kemanusiaan. AI bisa memberikan penjelasan yang benar, tetapi tidak dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, empati, dan kejujuran. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nalar kritis, serta budi pekerti generasi muda. Tanpa bimbingan manusia, pendidikan akan kehilangan arah moralnya dan hanya melahirkan individu yang cerdas secara teknis, tetapi kering secara etika.

Survei Kemendikbudristek 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen guru masih mengalami kesulitan beradaptasi dengan teknologi digital, meskipun sekitar 80 persen di antaranya memandang AI sebagai peluang untuk mendukung pembelajaran apabila diiringi dengan pelatihan yang memadai. Sayangnya, program pengembangan profesional seperti Guru Penggerak baru menjangkau sekitar 220 ribu guru, atau kurang dari 7 persen dari total guru di Indonesia. Hal ini memperlihatkan betapa kesenjangan digital dan kapasitas pedagogis masih menjadi persoalan besar dalam dunia pendidikan.

Faktanya, di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru justru semakin penting. Mereka berfungsi sebagai penjaga nalar dan filter etika di tengah banjir informasi. Guru membantu siswa memahami bahwa tidak semua hasil dari mesin adalah kebenaran, tidak semua yang cepat itu tepat, dan tidak semua yang logis itu benar secara moral. Guru melatih murid untuk bertanya, menganalisis, dan berpikir kritis. Dalam konteks ini, guru menjadi penuntun agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan.

Oleh karena itu, memperingati Hari Guru seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan kata-kata indah. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat bahwa profesi guru perlu dihargai secara nyata melalui kebijakan yang berpihak. Reformasi sistem penggajian harus menjadi prioritas, tidak cukup memberi penghargaan simbolik setiap November, tetapi yang dibutuhkan adalah perlindungan profesi, jaminan kesehatan, dan akses pelatihan digital yang merata di seluruh Indonesia.

Kecerdasan buatan tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman bagi profesi guru, tetapi sebagai tantangan untuk memperkuat kualitas pendidikan. AI dapat menjadi alat bantu, tetapi arah penggunaannya tetap harus ditentukan oleh manusia yang berakal budi. Masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan sejauh mana guru mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya.

Selama masih ada guru yang setia menyalakan cahaya pengetahuan di ruang kelas, bangsa ini tidak akan kehilangan arah. Mereka adalah kompas moral di tengah kabut algoritma, lentera yang memastikan bahwa kemajuan tidak menghapus kemanusiaan. Karena pada akhirnya, bukan mesin yang membentuk manusia, melainkan manusia melalui guru yang mengajarkan bagaimana menjadi di tengah kemajuan mesin.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.