Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pengaruh Trend TikTok: Sahroni Style, dalam Cara Berpakaian Mahasiswa di Kampus

Outfit Ahmat

Siapa sih Sahroni? dan kenapa dia tiba-tiba jadi trend setter?

Mahasiswa.co.id - Akhir-akhir ini FYP di aplikasi TikTok dipenuhi oleh konten mahasiswa yang tampil nyentrik dengan outfit khas Ahmad Sahroni di masa lalu. Mulai dari baju putih dengan celana pink terang dan topi golf putih; ada juga baju pink dengan celana putih dan topi golf pink, serta atasan putih rompi hitam dengan celana merah cabe, dan masih banyak lagi outfit dengan warna pakaian yang dianggap sangat bertabrakan. Gaya berpakaian ini tiba-tiba memenuhi beberapa tempat di Indonesia, didominasi di kampus karena kampus menjadi salah satu tempat berekspresi mahasiswa dalam berpakaian. Mahasiswa memang dikenal sebagai anak muda yang suka mencoba hal-hal baru. Fenomena ini membuat satu pertanyaan: bagaimana tren ini berawal?

Ahmad Sahroni dan Opininya
Beberapa di antara para pembaca pasti sudah mengenal siapa itu Ahmad Sahroni, nama yang pernah booming Agustus-Oktober 2025. Ahmad Sahroni, politikus yang sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Partai NasDem, dianggap sebagai musuh masyarakat Indonesia. Sahroni menjadi olokan masyarakat Indonesia karena opininya yang menghina masyarakat yang ingin membubarkan DPR RI. Menurut Tempo (2025) Sahroni berkata "Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia". Sontak masyarakat Indonesia ricuh karena saat itu DPR RI dianggap tidak becus menjalankan tugasnya dan hanya ingin merampok aset negara dengan segala macam tunjangannya. Tak lama setelah kejadian ini, masyarakat Indonesia melakukan unjuk rasa besar-besaran.

Fakta bahwa tunjangan DPR RI tak masuk akal, ditambah opini Ahmad Sahroni tersebut, membuat kemarahan masyarakat membludak dan menyebabkan demo besar. Demo pada Agustus 2025 menjadi awal memudarnya karier Sahroni. Setelah opininya yang menyebut rakyat Indonesia tolol, berbagai aib Sahroni mulai terbongkar. Warga di sekitar rumah Sahroni menyerbu dan menjarah rumah Sahroni dan mengambil segala barang berharganya. Beberapa di antaranya ada pajangan mainan mewah Iron Man, jam tangan Richard Mille, pakaian dan tas branded. Selain itu, sertifikat tanah dan ijazah Ahmad Sahroni yang melihatkan nilai rata-ratanya 60 juga terekspos ke publik. Ijazah Sahroni ini menjadi bahan tawa masyarakat karena nilai yang tertera dianggap rendah oleh warganet. "Jadi yang tolol siapa, nih?" ujar netizen.

Memudarnya Karier Ahmad Sahroni
Setelah penjarahan ini, hal-hal memalukan Sahroni mulai terbongkar. Mulai dari isi flashdisk yang belum diketahui isinya hingga saat ini, dan outfit atau cara berpakaiannya yang dianggap tidak normal oleh banyak orang. Outfit nyentriknya tersebar di banyak media sosial, mulai dari X, Instagram, hingga TikTok, yang dipenuhi oleh anak-anak muda. Outfit yang tersebar dijadikan bahan candaan masyarakat, lalu dijadikan kiblat berpakaian mahasiswa untuk bersenang-senang saat ngampus karena menarik mata dan lucu untuk dipakai bersama teman-teman, sebab tak hanya satu atau dua macam style atau gaya. Saat mahasiswa menggunakan Style Sahroni, mereka berswafoto dan mengunggahnya di masing-masing media sosial mereka untuk bersenang-senang dan menambah suka, karena sebelumnya jarang ada yang memakai gabungan warna nyentrik ini, terutama bagi bapak-bapak politikus, tentu outfit ini tak wajar, karena politikus biasa dikenali dengan jas hitam formalnya.

Menariknya, dari serangkaian kontroversi dan penjarahan itu, citra Ahmad Sahroni justru mengalami transformasi tak terduga. Ia yang semula disorot karena arogansi politiknya, malah “lahir kembali” sebagai ikon mode tak sengaja di dunia maya. Outfit-nya yang dulu tampak aneh kini dianggap simbol kebebasan berekspresi dan bahan humor kolektif masyarakat. Dari situ, dunia digital mulai mengabadikan sosok Sahroni bukan lagi sebagai politisi, tapi sebagai inspirasi fashion eksperimental. Fenomena ini menunjukkan betapa cepat budaya internet mengubah makna: yang awalnya bahan ejekan bisa berubah jadi gaya hidup, apalagi kalau algoritma ikut tertawa.

Viralnya Sahroni Style
Tren online akhirnya mempengaruhi gaya berpakaian di kampus, menurut salah satu mahasiswi, "daripada pake pakaian bebas yang ngga menarik mending pake style Sahroni, soalnya bisa nambah mood pas ngetawain temen yang pake style ini juga. Lucu aja gitu" ujar Shenly, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Sebelas Maret yang juga mencoba Sahroni Style. Fenomena ini selaras dengan teori imitasi Gabriel Tarde, seorang sosiolog asal Prancis, yang menyebut bahwa manusia cenderung meniru perilaku yang dianggap keren dan diakui sosialnya. Style Sahroni menunjukkan bagaimana budaya digital mampu membentuk gaya hidup mahasiswa. Mungkin pakaian hanyalah kain, tapi di baliknya ada pencarian identitas dan kebutuhan untuk diakui. Di era algoritma, bahkan cara berpakaian pun bisa viral.

Melihat fenomena ini, Sahroni Style bisa dianggap sebagai bentuk “perlawanan kreatif” mahasiswa terhadap keseragaman mode yang itu-itu saja. Tren ini bukan sekadar ikut-ikutan, tapi juga bagian dari eksperimen sosial kecil-kecilan yang dipicu oleh TikTok. Platform tersebut punya kekuatan luar biasa dalam menyebarkan gaya dan makna baru—di mana sesuatu yang awalnya sindiran politik bisa berubah jadi tren fashion. Dalam konteks teori imitasi Gabriel Tarde, mahasiswa tidak hanya meniru Sahroni karena lucu, tapi karena ingin menjadi bagian dari percakapan budaya yang sedang ramai. Jadi, kalau dulu teori sosial butuh survei berbulan-bulan, sekarang cukup buka FYP dan lihat siapa yang lagi pakai celana pink cabe.

Dari kasus Ahmad Sahroni sampai viralnya Sahroni Style, terlihat jelas bagaimana media sosial terutama TikTok mampu mengubah sesuatu yang negatif menjadi tren budaya populer. Mahasiswa sebagai pengguna aktif internet menangkap hal ini bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga bentuk ekspresi sosial. Fenomena ini menunjukkan bagaimana generasi muda beradaptasi terhadap arus digital: menertawakan yang serius, dan menseriuskan yang lucu. Dalam kacamata teori imitasi Gabriel Tarde, tren ini memperlihatkan dorongan alami manusia untuk meniru sesuatu yang sedang diakui publik, bahkan jika asalnya dari kontroversi. DPR RI yang menjadi musuh bebuyutan mahasiswa Indonesia malah menjadi trend setter kehidupan mahasiswa itu sendiri. Inilah betapa besarnya pengaruh media sosial dan algoritmanya di kehidupan kita.

Dibuat oleh:
Saschilla Citra Deyananda

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.