Oleh: Luthfia Retno Nugraini – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Mahasiswa.co.id - Fashion selalu punya siklus yang menarik. Apa yang dulu dianggap kuno, kini justru kembali diminati oleh generasi muda. Fenomena ini bisa dilihat dari kebangkitan gaya retro yang belakangan makin populer, terutama di kalangan Gen Z. Gaya yang dulu identik dengan tahun 80-an dan 90-an, seperti jaket oversized, celana cutbray, sneakers klasik, atau kacamata kecil berwarna, kini kembali menghiasi jalanan dan media sosial. Bagi generasi sekarang, retro bukan sekadar gaya lama, tetapi bentuk baru dari kebebasan berekspresi.
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat, dinamis, dan penuh perubahan. Namun, di balik semua itu, ada kerinduan terhadap hal-hal yang sederhana dan autentik. Di sinilah gaya retro menemukan momentumnya. Busana-busana dengan sentuhan klasik menawarkan nuansa yang hangat dan unik, berbeda dari tren fashion modern yang sering terasa seragam. Gaya retro memberi ruang bagi anak muda untuk tampil berbeda dan lebih dekat dengan jati diri mereka.
Media sosial memainkan peran besar dalam menghidupkan kembali tren ini. Melalui TikTok dan Instagram, gaya retro mudah menyebar ke berbagai kalangan. Banyak kreator konten yang menampilkan outfit of the day dengan sentuhan klasik, lalu viral dalam waktu singkat. Bukan cuma soal penampilan, tapi juga tentang pesan di baliknya. Bagi Gen Z, fashion bukan hanya tentang pakaian, melainkan cara menyampaikan nilai, pandangan, dan karakter pribadi. Mereka menggunakan gaya berpakaian untuk bercerita — dan gaya retro adalah salah satu caranya.
Selain faktor estetika, munculnya tren retro juga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan. Generasi muda kini lebih peka terhadap isu keberlanjutan (sustainability). Mereka tahu bahwa industri fashion cepat (fast fashion) menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Karena itu, thrifting atau belanja pakaian bekas menjadi gaya hidup baru yang tidak hanya hemat, tetapi juga ramah lingkungan. Melalui kegiatan ini, mereka bisa mendapatkan pakaian unik yang punya nilai sejarah, sekaligus ikut berkontribusi mengurangi sampah tekstil.
Menariknya, gaya retro tidak sekadar tren sementara. Ia berkembang menjadi bentuk identitas dan sikap hidup. Anak muda menggunakan busana vintage untuk menunjukkan keberanian tampil berbeda, menolak standar kecantikan yang seragam, dan merayakan keunikan diri. Mereka bebas memadukan gaya maskulin dan feminin, klasik dan modern, tanpa merasa harus menyesuaikan diri dengan pandangan orang lain. Dalam hal ini, fashion menjadi media ekspresi yang jujur dan personal.

Komentar 0