Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Warna Mahogany: Trend TikTok yang Berhasil Mengubah Gaya Sehari-hari

Trend TikTok

Oleh: Vanesa Gayuh Aji Rakapiu
Program Studi: S1-Pendidikan Teknik Busana
Instansi: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Mahasiswa.co.id - Media sosial, khususnya TikTok, saat ini memiliki peran besar dalam membentuk trend fashion. Apa yang masuk ke halaman For You Page (FYP) bisa dengan cepat menjadi inspirasi gaya berpakaian jutaan orang. Apa yang sering muncul di FYP biasanya cepat banget jadi tren, termasuk soal warna outfit. Nah, beberapa waktu terakhir, warna mahogany alias cokelat kemerahan ini sempat menjadi warna favorit anak Gen Z. Warna cokelat kemerahan ini awalnya booming menjelang Lebaran, tetapi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tapi ternyata, setelah momen itu lewat, warna mahogany masih terus dipakai di mana-mana, entah itu buat busana sehari-hari, mulai dari outfit kuliah, kerja, hingga nongkrong santai. Fenomena ini menarik untuk dilihat, bukan hanya sebagai tren mode sesaat, tetapi juga sebagai cermin perubahan gaya hidup dan identitas masyarakat.

Salah satu alasan kenapa warna mahogany gampang banget diterima karena warnanya simpel tapi elegan. Kalau dipaduin sama putih, hitam, cream, atau beige, hasilnya tetap keren sehingga memudahkan siapa pun dalam melakukan mix and match. Jadi tidak heran jika para influencer TikTok ramai-ramai memamerkan OOTD bernuansa mahogany karena hasilnya hampir selalu terlihat menawan. Dari sisi kesan, warnanya juga hangat, terlihat dewasa namun tidak kuno. Jadi bisa masuk ke semua umur dan semua situasi. Biasanya trend warna cepat bergantinya, warna mahogany berbeda dan masih relevan sampai sekarang. Kombinasi inilah yang membuatnya lebih tahan lama dibanding tren warna lain yang biasanya cepat lewat begitu saja. Dalam konteks ini, bisa dibilang warna mahogany berhasil keluar dari sekadar “warna musiman” dan menjelma menjadi bagian dari gaya sehari-hari masyarakat.

Namun, viralnya warna mahogany tidak lepas dari dampak media sosial yang sering kali menghadirkan standar baru dalam fashion. Bagi sebagian orang, mengikuti tren dianggap cara untuk tetap relevan dan tidak ketinggalan zaman. Di sisi positif, tren ini memunculkan peluang bisnis bagi banyak brand lokal yang berlomba-lomba merilis koleksi dengan sentuhan warna mahogany. Selain itu, tren warna juga membuat masyarakat lebih kreatif dalam mengekspresikan diri, baik melalui seragam keluarga, outfit kerja, maupun busana santai. Tapi negatifnya, kalau semua orang terlalu fokus sama satu warna, lama-lama jadi membosankan. Bahkan ada perasaan seperti, “kalau nggak pakai mahogany, aku ketinggalan zaman.” Padahal kan fashion seharusnya tempat kita bebas mengekspresikan diri, bukan sekadar ikut arus biar nggak dibilang out of date.

Tren yang viral bisa saja menekan identitas pribadi karena orang merasa wajib mengikuti arus, meski sebenarnya tidak sesuai dengan selera masing-masing. Menurutku tren warna ini nyambung banget sama nilai kebebasan berekspresi. Setiap orang punya hak buat menentukan gayanya sendiri. Jadi, meskipun mahogany lagi viral, bukan berarti semua orang harus pakai. Kita bisa menikmati tren mahogany, tetapi tetap sadar bahwa identitas dan kepribadian tidak ditentukan oleh FYP TikTok semata.

Setiap orang memiliki selera, identitas, dan cara berbeda dalam mengekspresikan diri. Warna mahogany bisa jadi inspirasi, tetapi bukan berarti membatasi pilihan fashion hanya pada satu palet warna yang sedang populer. Buatku, yang paling penting itu tetap jadi diri sendiri, karena pada akhirnya fashion bukan soal siapa yang paling update, tapi siapa yang paling nyaman dengan apa yang dia pakai. Sebagai warga negara yang hidup di era digital, inilah tantangan sekaligus peluang: bagaimana memanfaatkan tren untuk menambah warna kehidupan, tanpa kehilangan jati diri yang sesungguhnya.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.