Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

2025 Ditutup Dengan Rentetan Bencana Alam: Alam Mulai Pasrah atau Manusia yang Terlalu Serakah?

Bencana Alam
Banjir yang terjadi di Rawa Jati, Pancoran, Jakarta Selatan pada 3 Maret 2025. Banjir terlihat setelah cuaca buruk melanda wilayah Rawa Jati. (Iqro Rinaldi)

Oleh: Aulia Nur Saddah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Semester 3 Universitas Sebelas Maret

Mahasiswa.co.id - Sadar nggak sih kalian, banyak hal tak terduga yang terjadi di akhir tahun 2025 ini. Bencana alam salah satunya. Sepanjang tahun 2025, Indonesia mengalami sekitar 3.116 kejadian bencana alam. Longsor, cuaca ekstrem, erupsi gunung merapi, kebakaran, banjir, dan masih banyak lagi. Jika berbicara tentang banjir, memang banjir sudah biasa terjadi menjelang tahun baru seperti hari ini. Dikarenakan hal itu sudah seperti hal yang sering terjadi dari tahun ke tahun. Di Indonesia, banjir terjadi di setiap tahunnya.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), dalam 10 tahun terakhir ini terdapat 8.333 bencana banjir yang terjadi. Dilansir dari Detikedu, pada tahun 2025 ini, bencana banjir terjadi sebanyak 1.584 di Indonesia. Dari ribuan total banjir yang terjadi itu, menunjukkan seberapa rapuh sistem ekologi dan antisipasi kita dalam menghadapi lonjakan volume air.

Diperkirakan hampir 99%, nyaris 100% dari semua kejadian bencana yang terjadi di tahun 2025 ini termasuk kategori hidrometeorologi. Hal ini dengan jelas menegaskan bahwa perubahan iklim memainkan peran kunci dan tidak boleh dipandang sebelah mata begitu saja. Antisipasi dan perencanaan harus sangat-sangat diperhatikan supaya apabila terdapat bencana sudah tau harus apa dan bagaimana.

Sudah tahukah kalian? selain banjir, terdapat juga ratusan bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sebanyak 546, tanah longsor sebanyak 225 kejadian, kekeringan 36 kejadian, gempa bumi 23 kejadian, erupsi gunung merapi 7 kejadian, dan cuaca ekstrem sebanyak 673 kejadian (Detikedu).

Tidak hanya berhenti sampai itu, Bulan Desember sebagai bulan penutup tahun juga dikejutkan dengan adanya bencana banjir bandang di beberapa daerah di Pulau Sumatera dengan ribuan korban jiwa. Bencana banjir bandang yang terjadi ini bisa dikatakan dahsyat. Bahkan berdasarkan dari beberapa laporan media massa dan sumber informasi lainnya menunjukkan bahwa korban jiwa dan korban yang hilang terus bertambah. Ribuan rumah, ratusan infrastruktur hancur, akses jalan terputus, bahkan aliran listrik mati total. Rumah para warga tertutupi oleh lumpur, daerah-daerah yang terdampak banjir bandang ini lumpuh bagaikan daerah tak berpenghuni.

Dampak dari bencana ini bukan hanya manusia, namun makhluk hidup lainnya, hewan contohnya. Banyak fauna yang nyawanya juga ikut terenggut dengan adanya bencana banjir bandang di Sumatera. Dari banyaknya foto dan video yang beredar, terlihat banyak bangkai gajah yang tergeletak begitu saja berlumuran dengan tanah. Berdasarkan keterangan dari warga setempat menyebutkan bahwa bangkai-bangkai binatang yang mati akibat banjir bandang yang menerjang menyebabkan bau tidak sedap yang menyengat.

Pada akhir November 2025, tercatat adanya curah hujan yang ekstrem di wilayah Aceh dan Sumatera Barat. Intensitas tertinggi pernah mencapai ratusan milimeter per hari. Kondisi seperti ini, dipicu oleh kombinasi faktor iklim global serta siklon tropis yang semakin intens di kawasan Indonesia. Oleh karena itu dapat memicu banjir dan tanah longsor dengan dampak yang mengerikan.

Dengan adanya fenomena seperti ini, tidak heran jika muncul pertanyaan di benak sebagian orang, mungkin kalian adalah sebagian dari orang itu. Bukan hanya sekedar pertanyaan ringan, namun apakah ini hanya sekedar alam yang mulai pasrah dengan ritme musiman atau ini merupakan karma dari keserakahan manusia dalam mengelola lingkungan?

Melalui satu pertanyaan itu, coba kita renungkan sejenak. Sudah berapa triliunan hektar area hutan yang ditebang? Sudah berapa banyak fauna yang kehilangan rumahnya hanya karena kepentingan manusia? Manusia dan alam hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Namun jika salah satunya serakah dan tidak memikirkan keberlanjutannya, maka tinggal menunggu waktu untuk menuai perbuatannya. Dan apakah akhir 2025 yang direnteti dengan bencana ini merupakan hasil yang kita tuai sebagai manusia yang sudah serakah dalam memanfaatkan alam?

Penampakan lahan hutan hasil deforestasi. (Renaldo Matamoro)

Kejadian ini merupakan hasil yang kita tuai dari campuran keduanya, yaitu antara lingkungan dengan manusia. Deforestasi, banyaknya pembangunan tapi tanpa adanya kajian lingkungan yang matang, alih fungsi lahan, serta minimnya konversi kawasan resapan air semakin memperburuk dampak alami yang akan terjadi dari curah hujan tinggi. Menurut laporan jurnalisme lingkungan Mongabay, bencana dahsyat yang terjadi di beberapa daerah Sumatera bukan sepenuhnya alami karena iklim, melainkan diperparah oleh kerusakan hutan.

Hal ini terbukti dengan adanya bencana ini, banyak unggahan di sosial media yang memperlihatkan seberapa luas kawasan hutan Sumatera yang sudah digundul demi kepentingan bisnis dan manusia. Selain itu juga terlihat banyak gelondongan-gelondongan kayu dengan potongan yang rapi dan sudah bertuliskan ukurannya menerjang kawasan rumah warga setempat. Adanya gelondongan-gelondongan kayu ini justru semakin memperparah efek dari banjir bandang, bukan hanya tergenang oleh lumpur tetapi juga hancur terhantam oleh gelondongan-gelondongan kayu yang ikut terbawa arus banjir bandang.

Selain perihal campur tangan manusia, bencana yang semakin sering dan ekstrem terjadi ini juga tidak bisa dilepaskan dari tekanan dan faktor dari perubahan iklim global. Dilansir dari beberapa laporan yang ada, 2025 menjadi salah satu tahun yang paling berdampak berkaitan dengan fenomena iklim ekstrim di seluruh belahan dunia.

Bukan hanya Indonesia, namun di belahan bumi yang lain juga merasakan dampak dari perubahan iklim global. Dari bencana-bencana yang terjadi tentunya menimbulkan kerugian ekonomi yang besar dan merenggut nyawa ribuan orang. Bagi sebagian orang yang terdampak, 2026 mendatang bukan hanya tahun baru akan tetapi bagaikan memulai hidup kembali bangkit dari dahsyatnya efek bencana masa lalu.

Namun, dengan adanya peristiwa-peristiwa tak terduga di akhir tahun 2025 ini. Terdapat satu hal yang bisa kita refleksikan, alam seperti mengamuk bukan karena pasrah, melainkan reaksi yang diberikan alam terhadap tekanan lingkungan yang diberikan dan terus meningkat. Tekanan ini tidak lain dan tidak jauh juga karena campur tangan manusia, bahkan sebagian besarnya. Emisi gas rumah kaca, hingga pengelolaan lahan yang tanpa adanya antisipasi untuk lingkungan.

Manusia memang pintar dan memiliki banyak inovasi untuk kemajuan peradaban. Namun, yang perlu dipikirkan juga tentang bagaimana cara tetap menyehatkan lingkungan kembali setelah berkali-kali disakiti untuk kepentingan inovasi tersebut. Melalui fenomena bencana yang terjadi di sepanjang tahun 2025 ini, tidak jarang ketika alam bereaksi terhadap apa yang sudah dirasakan, manusialah yang paling merasakan konsekuensinya.

Bukan hanya soal catatan statistik bencana yang ada dan sudah terjadi di sepanjang tahun 2025, melainkan mari kita renungkan kembali sebelum menutup tahun 2025 ini. Tentang bagaimana pola interaksi kita dengan bumi yang kita tinggali.

Sebagai manusia yang membutuhkan sumber daya alam untuk bertahan hidup, jika kita ingin mengurangi risiko bencana di masa mendatang, jawabannya adalah langkah dan tindakan apa yang akan kita lakukan. Bukan hanya terpaku terhadap data semata. Namun, melalui tindakan konkret seperti memperkuat konservasi, melakukan pembangunan yang ramah lingkungan, serta secara tegas dan kolektif mengambil langkah mitigasi perubahan iklim yang akan terjadi.

Karena perlu kita ingat dan resapi teman-teman, ketika ribuan bencana datang bertubi-tubi seperti menghukum manusia. Bukan alam yang sepenuhnya salah, tetapi manusia yang harus siap menerima dan menghadapi konsekuensi dari pilihan atas tindakannya sendiri.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.