Taufik Hidayat R, Muhammad Faiz Al-Hakim, Fitriana
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
taufik.hidayat23@mhs.uinjkt.ac.id,
faiz.alhakim23@mhs.uinjkt.ac.id,
fitriana@uinjkt.ac.id
Abstract. This research aims to examine the differences and similarities in the meaning and concept of "al-Rabb" according to Qur'anic exegeses from the classical to contemporary periods. The method employed is a qualitative descriptive approach, studying classical tafsir sources such as Tafsir al-Qurtubi and al-Tabari, as well as contemporary tafsir like Tafsir al-Munir, al-Azhar, and al-Misbah, which consider social contexts and modern scientific developments. The findings indicate that fundamentally, "al-Rabb" is understood as Allah, the Supreme Owner, Ruler, and Sustainer of the universe. However, contemporary tafsir provide additional emphasis on applicative aspects and adaptations to contemporary dynamics. This study contributes significantly to understanding the dynamics of tafsir and the relevance of the "al-Rabb" concept in current religious and social contexts. The results are expected to serve as a reference for developing tafsir studies and modern Islamic theology.
Keywords: al-Rabb, Clasical Interpretation, Contemporery Interpretation, Meaning
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah perbedaan dan persamaan dalam makna dan konsep "al-rabb" menurut tafsir al-Qur'an dari masa klasik hingga kontemporer. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan mempelajari sumber-sumber Tafsir Klasik seperti Tasir al-Qurthubi dan ath-Thabari, serta Tafsir Kontemporer seperti Tafsir al-Munir, al-Azhar dan al-Misbah yang mempertimbangkan konteks sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa secara mendasar, "al-rabb" dipahami sebagai Allah yang Maha Pemilik, Penguasa, dan Pemelihara alam semesta. Namun, tafsir kontemporer memberikan penekanan tambahan pada aspek aplikatif dan penyesuaian dengan dinamika zaman. Studi ini memberikan kontribusi penting untuk pemahaman tentang dinamika tafsir dan relevansi konsep "al-rabb" dalam konteks keagamaan dan sosial masa kini. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan studi tafsir dan pemahaman teologi Islam modern.
Kata Kunci: Al-Rabb, Tafsir Klasik, Tafsir Kontemporer, Makna
Pendahuluan
Tulisan ini membahas makna al-Rabb dalam tafsir klasik dan kontemporer, dengan fokus pada bagaimana pemahaman tentang nama Allah ini berkembang dari segi bahasa, makna, dan penerapannya dalam konteks kehidupan manusia. Topik ini penting karena al-Rabb merupakan salah satu nama Allah yang paling fundamental, mencerminkan aspek kepemilikan, pengaturan, pemeliharaan, dan pendidikan Allah terhadap makhluk-Nya. Tulisan ini menelaah interpretasi dari tafsir klasik seperti Ath-Thabari dan Qurthubi, yang menekankan pada definisi literal berdasarkan bahasa Arab dan sumber-sumber tradisional, serta tafsir kontemporer seperti Al-Munir dan Al-Azhar, yang mengedepankan konteks dinamika pemeliharaan dan pendidikan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan komparatif yang mendalam membedakan tulisan ini dari karya lain, karena tidak hanya menguraikan maknanya tetapi juga membandingkan aspek-aspek yang membedakan dan menyamakan tafsir klasik dan kontemporer secara sistematis. Tulisan ini menampilkan hubungan antara makna bahasa Arab asli dengan konteks aplikatif di zaman modern sekaligus menyoroti dimensi teologis dan filosofis dari konsep al-Rabb, sehingga memberikan pandangan yang lebih utuh dan menyeluruh bagi pembaca dalam memahami istilah ini dalam berbagai kerangka tafsir yang berbeda. Pendekatan semacam ini sering ditemukan dalam studi tafsir modern yang mengintegrasikan analisis historis, sosial, dan linguistik untuk relevansi kontemporer
Metode
Penulisan artikel ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber seperti Tafsir al-Qurthubi, ath-Thabari, al-Munir, al-Azhar dan al-Misbah. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi terkini, tantangan, dan solusi yang ada.
Pembahasan
Makna al-Rabb
Kata ar-Rabb" (ٱلرَّبّ) merupakan salah satu istilah penting dalam Al-Qur’an yang sering digunakan untuk merujuk kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Mengatur dan Memelihara. Secara etimologis, kata ini berasal dari akar kata ر-ب-ب yang mengandung makna memelihara, mendidik, memperbaiki, menumbuhkan, dan mengatur. Dalam konteks Al-Qur’an, “al-Rabb” menggambarkan Allah sebagai penguasa mutlak atas seluruh ciptaan-Nya, yang tidak hanya menciptakan tetapi juga mengurus, memberi rezeki, dan membimbing hamba-Nya. Kata ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti رَبُّكُمْ (Tuhanmu), رَبِّي (Tuhanku), dan رَبِّ الْعَالَمِينَ (Tuhan semesta alam), yang ditemukan dalam banyak ayat seperti QS. al-Fatiḥah: 2, QS. al-Nas: 1, dan QS. al-Muzzammil: 9.
Dalam Mu‘jam Mufahras, istilah “al-Rabb” tercatat muncul ratusan kali dengan konteks yang menekankan peran Allah sebagai pemelihara dan pengatur kehidupan manusia dan alam semesta secara keseluruhan. Dengan demikian, penggunaan kata “al-Rabb” dalam al-Qur’an bukan hanya menunjuk kepada Tuhan sebagai pencipta, tetapi juga sebagai sosok yang terus-menerus terlibat dalam kehidupan makhluk-Nya dengan penuh kasih, hikmah, dan kekuasaan.
[1]
Beberapa contoh lafazh ar-rabb yang terdapat di dalam al-qur’an:
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَآئِكُمُ ٱلْأَوَّلِينَ
Artinya: Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”.
وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَࣖ
Artinya: Dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Jelaskanlah keadaanku kepada tuanmu.” Kemudian, setan menjadikan dia lupa untuk menjelaskan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Dan masih banyak lagi bisa ditemukan kata “al-Rabb” di dalam al-Qur’an.
Makna al-Rabb dalam Tafsir Klasik
Tafsir Ath-Thabari
Kata رَبّ ia memiliki sejumlah makna dalam perkataan Arab.” Seorang tuan yang ditaati disebut رَبّ sebagaimana ucapan penyair, Labid bin Rabi’ah:
وأهلكن يوما رب كندة وابنه # ورب معد بين خبت وعرعر
“Dan musnahkan pemuka Kindah dan anaknya, dan pemuka Ma’ad antara gurun khabat dan lembah ar ‘ar.”
Juga ucapan penyair Nabighah bani Dzabyan: “Engkau musuhi Nu’man sampai mati, sebagai tebusan dirimu dari tuan yang lembut bicaranya lagi lama”.
Seorang yang Shalih dan baik juga bisa disebut رَبّ, seperti kata penyair, Farazdaq bin Ghalib: “Mereka bodoh seperti minyak mentega yang beku, dalam makanan yang tidak marbub (tidak bisa dimakan).”
Pemilik sesuatu juga disebut رَبّ. Dan terkadang kata رَبّ juga berindikasi makna yang lain, tapi ia kembali kepada salah satu dari tiga makna tersebut. Dan Rabbuna Jalla wa ‘Ala adalah Tuhan Yang tidak sesuatu pun menyerupai-Nya dalam kekuasaan-Nya, Pengatur Yang mengatur segala urusan makhluk-Nya, dan Pemilik alam jagat raya beserta seluruh isinya.
[2]
Tafsir Qurthubi
Firman Allah: رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ “Tuhan semesta alam”, maksudnya adalah pemilik semesta alam. Sebab orang yang memiliki sesuatu adalah rabb-nya. Dengan demikian, makna dari kata ar-rabb adalah al maalik (pemilik).
Dalam Ash-Shahaah dinyatakan bahwa ar-rabb adalah salah satu dari sekian banyak nama Allah, namun nama ini tidak boleh digunakan untuk selain Allah kecuali dengan disandarkan kepada kata yang lain. Orang-orang Arab mengungkapkan kata ar-rabb untuk makna al-malik (Penguasa) sejak zaman Jahiliyah.
Ar-rabb juga berarti as-sayyid (pemimpin/tuan). Contoh untuk pengungkapan tersebut dalam Al Qur’an adalah firman Allah: اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” (Qs. Yusuf : 42). Dalam hadits dinyatakan, “Hendaknya umat melahirkan rabb-rabb mereka,” yakni pemimpin-pemimpin mereka.
Dalam kitab At-Tadzikirah kami telah menjelaskan bahwa kata kata Ar-Rabb adalah Al Mushlih (orang yang memperbaiki), Al Mudabbir (pengatur), Al Jaabir (pemaksa), dan Al Qaa’im (pengurus). Al Harawi dan yang lainnya berkata, “Dikatakan kepada orang yang memperbaiki dan menyempurnakan sesuatu, Qad rabbahu yarubbuhu fahuwa rabbu lahu wa raabun (sesungguhnya dia telah memperbaiki sesuatu, maka dia akan memperbaikinya dengan sebenar-benarnya, dia adalah orang yang memperbaiki sesuatu). Oleh karena itulah ada suatu kaum yang dinamakan dengan kaum rabbaniyyin, karena mereka melaksanakan Al Kitab.”
Dalam Hadist dinyatakan:
هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا.
“Apakah kamu mempunyai nikmat yang kamu pelihara dan perbaiki”, yakni yang kamu pelihara dan perbaiki.
Kata ar-Rabb juga mengandung makna Dzat yang disembah. Kata ar-rabb ini diungkapkan untuk makna banyak dengan: rabbaahu, rabbabahu dan rabbatahu (banyak memiliki/mengurus). Dalam Ash-Shahah dinyatakan:
رَبَّ فُلَانٌ وَلَدَهُ يَرُبُّهُ رَبًّا، وَرَبَّهُ وَتَرْبِيَةً.
“Seseorang mendidik anaknya, maka dia mendidiknya dengan sebaik-baiknya.”
Dikatakan juga, rabbabahu dan tarabbahu. Maknanya adalah ungkapan ini adalah sama dengan ungkapan sebelumnya (banyak mendidik). Adapun makna Al Marbuub adalah al Murabba (yang banyak mendidik).
Sebagian ulama berkata, "Nama ini adalah nama Allah yang agung. Sebab nama ini banyak digunakan oleh orang-orang dalam berdoa.
Para ulama berbeda pendapat tentang pengambilan nama ar-rabb ini. Menurut satu pendapat, ia diambil dari kata at-tarbiyah (pendidikan/ pemeliharaan). Jika nama ini diambil dari kata ini, maka Allah adalah pengatur makhluk-Nya sekaligus pendidik/pemelihara mereka. Jika Allah adalah pengatur makhluk-Nya sekaligus pendidik/pemelihara mereka, maka kata ar-rabb merupakan sifat bagi suatu perbuatan. Tapi jika ia mengandung arti pemilik dan pemimpin, maka ia merupakan sifat diri.
Ketika huruf alif dan lam masuk ke dalam kata ar-rabb, maka kata ar-rabb ini hanya dikhususkan bagi Allah. Sebab huruf alif dan lam ini adalah huruf alif lam lil ahdi (maksudnya huruf alif dan lam yang menunjukkan kepada sesuatu yang telah diketahui logika, yaitu Allah.) Tapi jika huruf alif dan lam ini dibuang dari kata ar-rabb maka kata ar-rabb ini dapat digunakan untuk Allah dan hamba-hamba-Nya, sehingga dikatakan, Allahu rabbul Ibaad (Allah Tuhan para hamba), dan Zaid Rabbud Daar (Zaid pemilik rumah).
Allah adalah Tuhan para pemilik, sebab Allah-lah yang Memiliki para pemilik dan juga yang dimilikinya, sekaligus Pencipta semua itu dan Pemberi rizki kepada semuanya. Sementara para rabb (pemilik) selain Dia, mereka bukanlah Sang Pencipta dan bukan pula Sang Pemberi rizki. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa segala sesuatu yang dimiliki itu akan dimiliki (oleh Allah) setelah pemiliknya tiada, dan akan diambil dari tangan pemiliknya. Dengan demikian, sang pemilik itu hanya memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan apa-apa. Karena hal inilah sifat Allah berbeda dari sifat-sifat makhluk. Inilah perbedaan antara sifat Sang Pencipta (Allah) dan sifat makhluk.
[3]
Makna al-Rabb dalam Tafsir Kontemporer
Tafsir Al-Munir
Dalam tafsir al-munir, wahbah zuhaili mengatakan bahwa ar-rabb adalah sang pemilik, majikan, yang disembah, yang memperbaiki, yang mengatur, yang menambah, yang mengurus. Dalam kata ini terkandung makna ketuhanana, pembinaan, dan kepedulian kepada para makhluk.
[4]
Tafsir Al-Azhar
Buya Hamka dalam tafsirnya menyatakan Rabbun ini meliputi segala macam pemeliharaan, penjagaan dan juga pendidikan dan pengasuhan. Maka kalau di dalam ayat yang lain kita bertemu bahwa Allah itu khalaqa, artinya menjadikan dan menciptakan, maka di sini dengan menyebut Allah sebagai Rabbun, kita dapat mengerti bahwa Allah itu bukan semata-mata pencipta, tetapi juga pemelihara. Bukan saja menjadikan, bahkan juga mengatur. Seumpama matahari, bulan, bintang-bintang dan bumi ini; sesudah semuanya dijadikan, tidaklah dibiarkan sehingga begitu saja, melainkan dipelihara dan dikuasai terus menerus. Betapalah matahari, bulan dan bintang-bintang itu akan beredar demikian teraturnya, dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit dan detik ke detik, berjalan teratur telah berjuta-juta tahun, kalau bukan pemeliharaan dari Allah sebagai Rabbun?
Manusiapun begitu. Dia bukan semata-mata dijadikan bahkan sejak masih dalam keadaan nuthfah (air setitik kecil), sampai menjadi ‘alaqah dan mudhghah, sampai muncul ke dunia, sampai menjadi makhluk yang berakal dan sampai juga meninggal kelak, tidaklah lepas dari tilikan Allah sebagai Pencipta dan sebagai Pemelihara. Untuk semua pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan perlindungan itulah kita diajar mengucapkan puji kepadaNya: “Rabbul ‘Alamin”, Tuhan sarwa sekalian alam.
[5]
Tafsir Al-Misbah
Kata rabb, seakar dengan kata tarbiyah, yaitu mengarahkan sesuatu tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya. Bisa juga ia berarti memiliki, walaupun pendapat pertama lebih baik, apalagi kepemilikan Allah akan disebut secara tegas dalam ayat keempat surah ini.
Ketika menyebut kata Allah, dapat terbayang dalam benak segala sifat-sifat Allah swt., baik sifat fi’li (perbuatan) maupun sifat Dzat-Nya, yakni baik yang dapat berdampak kepada makhluk-Nya maupun tidak. Sifat Allah al-Rahman, al-Razaq dan semacamnya dapat menyentuh makhluk-Nya berupa rahmat dan rezeki, tetapi sifat Dzat-Nya seperti uluhiyan (ketuhanan) sama sekali dan sedikit pun tidak dapat menyentuh makhluk-Nya. Ketika menyebut kata rabb, maka dalam kandungan makna kata ini terhimpun semua sifat-sifat Allah yang dapat menyentuh makhluk. Pengertian Rububiyah (kependidikan atau pemeliharaan) mencakup pembenan rezeki, pengampunan dan kasih sayang, juga amarah, ancaman, siksaan dan sebagainya. Makna ini akan terasa dekat ke benak kita saat mengancaam, bahkan memukul anak kita, dalam rangka mendidik mereka. Walaupun sang anak yang dipukul merasa diperlakukan tidak wajar, kelak setelah dewasa ia akan sadar bahwa pukulan tersebut merupakan sesuatu yang baik baginya. Jadi, apa pun bentuk perlakuan Tuhan kepada makhluk-Nya, harus diyakini bahwa yang demikian itu, sama sekali tidak terlepas dari sifat kepemeliharaan dan kependidikan-Nya, walau perlakuan itu dinilai oleh keteratasaan nalar manusia sebagai sesuatu yang negatif.
Ini berarti bahwa ketetapan-Nya yang terlihat oleh kacamata manusia sebagai negatif, pada dasarnya tidak terlepas dari pemeliharaan dan pendidikan-Nya.
[6]
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan dan perbedaan makna al-Rabb antara tafsir klasik dan kontemporer terutama terletak pada penekanan dan konteks penafsirannya, namun keduanya menegaskan makna dasar yang sama: al-Rabb adalah Tuhan yang memiliki, mengatur, memelihara, dan memperbaiki.
Dalam tafsir klasik seperti Ath-Thabari dan Qurthubi, al-Rabb dijelaskan dengan sangat detail sebagai makna yang mencakup pemilik (al-maalik), pemimpin/tuan (as-sayyid), pengatur (al-mudabbir), dan pendidik (at-tarbiyah). Kata رَبّ dalam bahasa Arab bisa merujuk pada tuan, pemilik, atau orang yang memperbaiki dan mengatur sesuatu. Dengan adanya lam al-ta'rif (al-Rabb), makna ini khusus untuk Allah sebagai Tuhan semesta yang tidak ada yang menyerupai-Nya, sedang tanpa lam bisa merujuk pada makhluk juga. Penafsiran klasik menekankan bahwa makna al-Rabb adalah sifat Allah yang mengatur, memelihara, dan menjadi pemilik keseluruhan alam dan makhluknya serta pembeda antara pencipta dan makhluknya.
Tafsir kontemporer, seperti yang dijelaskan dalam tafsir Al-Munir oleh Wahbah Zuhaili, Al-Azhar oleh Buya Hamka, dan Al-Misbah, menegaskan makna al-Rabb selain sebagai pemilik dan pengatur juga sebagai pembina, pendidik, yang memperbaiki dan mengasuh makhluk secara berkelanjutan. Penafsiran kontemporer cenderung memberi penekanan lebih pada aspek pendidikan dan pemeliharaan Allah secara dinamis dan menyeluruh, serta bagaimana ketetapan Allah yang kadang tampak sebagai siksaan atau hukuman tetap merupakan bagian dari pemeliharaan dan pendidikan. Hal ini menegaskan makna rububiyah dalam konteks funkisonal dan relasional yang lebih dekat dengan pengalaman manusia tentang pemeliharaan dan pendidikan.
Kesamaan utama keduanya adalah penetapan al-Rabb sebagai Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak atas alam, yang mengatur dan menjaga ciptaan-Nya. Kedua pendekatan menegaskan bahwa secara mutlak, al-Rabb adalah Allah yang berkuasa penuh, pemilik, pengatur, dan pendidik. Perbedaannya lebih pada penekanan konteks dan aspek makna, di mana tafsir klasik mengutamakan makna literal dan nomenklatur bahasa Arab, sementara tafsir kontemporer lebih memfokuskan pada makna aplikatif, pengalaman ketuhanan, dan fungsi rububiyah dalam kehidupan makhluk secara berkelanjutan.
Bentuk Pengaplikasian Keyakinan Kepada Allah Sebagai al-Rabb
Keyakinan kepada Allah sebagai al-Rabb—Pemelihara, Penguasa, dan Pencipta semesta diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan kontemporer melalui pengakuan total ketergantungan pada-Nya, yang membentuk sikap tawakal, syukur, dan ketaatan sehari-hari.
Pengaplikasian dalam Ibadah Pribadi
- Menunaikan shalat lima waktu dengan khusyuk sebagai bentuk penyerahan diri kepada al-Rabb yang mengatur rezeki dan urusan hidup, menghindari kelalaian di tengah rutinitas modern.
- Mengamalkan dzikir dan doa terus-menerus, seperti mengucap "Subhanallah" saat melihat ciptaan alam, untuk memperkuat kesadaran pemeliharaan ilahi di era digital.
- Berpuasa sunnah secara rutin guna melatih pengendalian diri sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya pada Sang Pemelihara.
Pengaplikasian dalam Kehidupan Sosial dan Pekerjaan
- Bekerja ikhlas tanpa riya', memandang profesi sebagai amanah dari al-Rabb, seperti mengelola usaha halal dengan etika jujur untuk menghadapi kompetisi global.
- Berbuat kebaikan sosial (infak, sedekah) sebagai wujud keyakinan bahwa Allah mengatur rezeki semua makhluk, diterapkan dalam program pengabdian masyarakat atau zakat online.
- Mendidik anak dan komunitas dengan nilai rabbani, seperti menanamkan kesabaran dan tawazun melalui cerita Qur'an, untuk membentuk generasi melawan degradasi moral kontemporer.
Kesimpulan
Makna al-Rabb dalam tafsir klasik dan kontemporer menunjukkan kesamaan mendasar bahwa al-Rabb adalah Tuhan yang memiliki, mengatur, memelihara, dan memperbaiki makhluk-Nya. Tafsir klasik seperti Ath-Thabari dan Qurthubi menekankan makna kata رَبّ sebagai pemilik, pemimpin, dan pengatur, serta menjelaskan penggunaan kata tersebut secara bahasa Arab yang bisa berlaku untuk Allah maupun makhluk ketika tanpa alif-lam. Dalam konteks ini, al-Rabb adalah nama Allah yang sangat agung yang menunjukkan kekuasaan dan kepemilikan mutlak terhadap seluruh alam.
Sementara itu, tafsir kontemporer seperti Al-Munir, Al-Azhar, dan Al-Misbah menambahkan penekanan pada aspek pendidikan, pemeliharaan, dan pembinaan Allah secara terus-menerus terhadap makhluk-Nya. Penafsiran ini lebih melihat sifat rububiyah Allah sebagai fungsi dinamis yang menyentuh kehidupan makhluk secara praktis dan menyeluruh, termasuk dalam hal pemeliharaan yang meliputi kasih sayang, pendidikan, serta bahkan ketetapan yang tampak negatif. Dengan demikian, tafsir kontemporer menempatkan makna al-Rabb tidak hanya secara bahasa, tetapi juga sebagai pengalaman ketuhanan yang terus berlangsung secara aktif dalam hidup makhluk.
Daftar Pustaka
Al-Qurthubi. (2014). Tafsir Al-Qurthubi (M. Ibrahim Al-Hifnawi, Terjemah). Jakarta: Pustaka Azzam
Ath-Thabari. (2007). Tafsir Ath-Thabari (A. Abdurraziq Al-Bakri, dkk. Terjemah). Jakarta: Pustaka Azzam
Az-Zuhaili, W. (2013). Tafsir Al-Munir (A. Hayyie Al-Katani, Terjemah). Jakarta: Gema Insani
Buya Hamka. (1990). Tafsir Al-Azhar. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura
Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaẓ al-Qur’an al-Karim (Be irut: Dar al-Fikr
Shihab, Q. (1999). Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati
[1] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaẓ al-Qur’an al-Karīm (Be irut: Dar al-Fikr), hlm. 316
[2] Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, terj. Ahmad Abdurraziq Al-Bakri, dkk. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), Jilid 1, hal. 223-224
[3] Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, terj. Muhammad Ibrahim Al-Hifnawi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014), Jilid 1, hal. 347-349
[4] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, terj. Abdul Hayyie Al-Katani, dkk. (Jakarta: Gema Insani:2013), Jilid 1, hal. 33
[5] Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura, 1990), Jilid 1, hal. 71-72
[6] M. Quraish Shihab
, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 1999), Jilid 1, hal. 30-31
Komentar 0