Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Keunikan Jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Foto saya bersama Bayu di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber: Dokumentasi Pribadi Foto: Muhammad Faiz Madani

Memilih jurusan sastra di universitas, tidak lebih Sastra Inggris, dapat memberikan stereotip-stereotip tertentu mengenai mahasiswa yang berada dalam jurusan tersebut. Salah satu stereotip yang sering dikaitkan dengan mahasiswa Sastra Inggris dapat dilihat pada asumsi bahwa jurusan tersebut hanya untuk belajar bahasa Inggris layaknya kursus bahasa. Padahal, jurusan Sastra Inggris mengajarkan mahasiswa hal-hal yang lebih menarik daripada sekadar bahasa Inggris dasar, dan setiap universitas di seluruh dunia pasti memiliki keunikan tersendiri dalam mengajarkan sastra pada mahasiswa.

Pada tulisan ini, saya ingin memaparkan mengenai keunikan memilih jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya mendapat ide untuk menulis ini karena seringnya mendengar berita dari banyak mahasiswa UIN di Indonesia yang merasa diremehkan sebagai pelajar yang memilih untuk kuliah di universitas Islam. Hal tersebut lagi-lagi datang berdasarkan stereotip-stereotip yang juga dikaitkan dengan mahasiswa UIN, seperti anggapan bahwa setiap mahasiswa UIN adalah lulusan pondok pesantren maupun asosiasi politis mengenai adanya “kampus liberal” di UIN, terutama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk mewawancara dua teman saya yang merupakan mahasiswa Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai sesama mahasiswa Sastra Inggris, pembahasan yang kita lakukan berkaitan dengan jurusan kita dan kesan-kesan yang didapatkan ketika memilih jurusan Sastra Inggris dari awal sampai sekarang.

Teman pertama saya yang diwawancara bernama Bayu. Dia merupakan mahasiswa semester 5 di jurusan Sastra Inggris. Dalam wawancara yang saya lakukan bersamanya, Bayu memberitahu bahwa kesan yang dia dapatkan dari memilih jurusan Sastra Inggris berhubungan dengan lingkungan kampus yang bersifat inklusif. Menurutnya, hal ini memberi kemudahan dalam mempelajari Sastra Inggris bagi semua kalangan etnis maupun disabilitas.

Bayu berpendapat bahwa jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki keunikan dalam fokusnya pada karya Muslim internasional. Hal ini memang dapat ditemukan dalam jurusan Sastra Inggris di universitas melalui kurikulumnya yang berfokus mempelajari karya-karya tokoh-tokoh Muslim di seluruh dunia, termasuk kaum Muslim minoritas di negara-negara Barat, tanpa adanya diskriminasi terhadap latar belakang mereka.

Bayu pun memberi saran bagi mahasiswa Sastra Inggris di UIN Jakarta untuk teguh pada prinsip-prinsip masing-masing dan berpikir kritis terhadap gagasan yang diberikan oleh siapapun. Hal ini berlaku untuk informasi yang diterima baik dari politikus, akademisi, ataupun pemuka agama di kalangan maysarakat. Meskipun demikian, Bayu juga menyarankan adanya dialog antara berbagai pihak seperti halnya seorang sastrawan. Bagi Bayu, sastrawan harus selalu mengutamakan perjuangan melalui karya ataupun gagasan alih-alih melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Teman kedua yang saya wawancara adalah Ian, yang juga merupakan mahasiswa semester 5 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai seorang mahasiswa yang juga bekerja menjadi guru privat bahasa Inggris, Ian menemukan relevansi-relevansi yang dapat dikaitkan dari jurusan Sastra Inggris dengan kegiatan mengajarnya sebagai guru, dimana hal tersebut membantunya mengembangkan minat membaca dan memahami cerita untuk murid-murid. Di antaranya, Ian ingin murid-muridnya belajar dan tidak hanya sekadar membaca dan memahami arti kata dalam sebuah teks. Tidak hanya itu, dia juga ingin mendorong mereka untuk bertanya, melihat cerita dari berbagai sudut pandang, dan berpikir kritis dalam belajar.

Mengenai keunikan jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ian menyebutkan adanya mata kuliah seperti Global Muslim Literature dan Women’s Literature of the Ummah dalam kurikulum universitas. Ian berpendapat bahwa adanya mata kuliah tersebut membuatnya lebih mengenal karya sastra yang berfokus pada tema-tema seperti pengalaman, identitas, dan kehidupan masyarakat Muslim secara keseluruhan. Bagi Ian, hal tersebut memberikan sudut pandang tersendiri untuk mempelajari sastra, terutama bila dibandingkan dengan jurusan-jurusan serupa di universitas negeri yang tidak berbasis Islam. Walaupun begitu, Ian mengingatkan bahwa adanya mata kuliah serupa belum dapat diketahui keberadaannya di universitas-universitas lain, sehingga belum bisa dikatakan bahwa hal ini eksklusif bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saja.

Ian memberi saran bagi mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maupun universitas-universitas lain. Salah satunya yaitu untuk terus berusaha mendalami ilmu dari jurusan yang sudah dipilih, kalaupun ada saat dimana mahasiswa-mahasiswa tertentu merasa kurang cocok dengan jurusan mereka dan ilmu-ilmu yang didapatkan dengan masa depan yang mereka inginkan. Akan tetapi, selalu ada hal yang bisa diambil dari setiap pembelajaran melalui eksplorasi non-akademik, baik itu kegiatan organisasi, kepanitiaan, ataupun menjadi sukarelawan. Dengan demikian, pengalaman tersebut bisa membantu mengenali minat dan mengembangkan keterampilan diri. Pada akhirnya, Ian melihat kuliah sebagai hal yang patut disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin, karena masa kuliah merupakan kesempatan untuk belajar, mencoba berbagai hal, dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja setelah lulus nanti.

Berdasarkan wawancara tersebut, bisa dilihat bahwa Bayu dan Ian memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal itu tapi tidak menghentikan saya dari menarik kesimpulan berdasarkan pandangan-pandangan mereka, yaitu bahwa keunikan jurusan Sastra Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dilihat pada kurikulum universitas yang memberi mahasiwa-mahasiswanya kesempatan untuk mempelajari karya sastra Muslim dari seluruh dunia. Hal ini berlaku baik itu dari Timur Tengah, Asia Tenggara, maupun dunia Barat yang meliputi Eropa dan Amerika Utara sekalipun. Tentunya, hal itu berlaku selama karya-karya yang dibahas ditulis dalam bahasa Inggris. Dengan menulis ini, saya juga berharap mahasiswa-mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan dapat melihat jurusan Sastra Inggris dengan penuh nuansa alih-alih asumsi belaka. Kecintaan pada sastra sebagai sebuah karya seni merupakan sesuatu yang memperkaya hidup kita sebagai masyarakat, dan karena itu, sudah waktunya kita menganggap jurusan Sastra Inggris dengan lebih serius seperti setiap jurusan di universitas.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.