Jakarta, Mahasiswa.co.id – Fenomena tanah bergerak mengguncang Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada 2 Februari 2026. Peristiwa ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi selama tiga hari berturut-turut. Curah hujan yang ekstrem menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh air dan labil sehingga memicu terjadinya pergerakan tanah di sejumlah titik permukiman warga.
Berdasarkan data sementara, sekitar 800 rumah warga terdampak akibat kejadian tersebut. Tidak hanya mengalami retakan pada dinding dan lantai rumah, beberapa bangunan bahkan mengalami pergeseran struktur yang cukup membahayakan. Akibat kondisi tersebut, lebih dari 2.000 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman guna menghindari risiko pergerakan tanah susulan.
Selain merusak rumah warga, fenomena ini juga berdampak pada fasilitas umum. Sejumlah ruas jalan mengalami retakan dan penurunan permukaan tanah, sehingga mengganggu akses transportasi masyarakat. Lingkungan sekitar permukiman terlihat mengalami perubahan kontur tanah yang cukup signifikan. Retakan-retakan besar yang membelah permukaan tanah menjadi tanda bahwa kondisi geologi di wilayah tersebut berada dalam keadaan tidak stabil.
Secara ilmiah, peristiwa tanah bergerak dapat terjadi ketika tanah menyerap air dalam jumlah besar akibat curah hujan tinggi. Air yang meresap ke dalam lapisan tanah membuat tanah menjadi jenuh, sehingga daya ikat antar partikel tanah melemah. Dalam kondisi lereng atau tanah dengan struktur labil, tekanan air yang meningkat dapat mendorong lapisan tanah untuk bergeser secara perlahan maupun tiba-tiba. Proses inilah yang diduga kuat menjadi penyebab utama pergerakan tanah di Desa Padasari.

Komentar 0