Oleh: Zidane Asasani
Mahasiswa semester 3, Prodi Ilmu Komunikasi – Universitas Pamulang
Mahasiswa.co.id - Angka kematian akibat banjir Sumatra hingga Selasa (30/12), korban tewas menjadi 1.141 orang. Sementara korban hilang mencapai 163 orang. Di sisi ekonomi, CNBC Indonesia mencatat kerugian telah menembus angka Rp68 triliun. Namun, di tengah duka ini, ruang publik kita justru dibanjiri oleh 'bencana' kedua, yaitu eksploitasi visual para korban demi klik dan viralitas. Ketika media berlomba menjadi yang tercepat, etika jurnalisme tampaknya menjadi korban pertama yang hanyut terbawa arus.
Tragedi ini sebenarnya memiliki akar masalah yang jelas. Temuan peneliti UGM menegaskan bahwa banjir besar tersebut berkaitan erat dengan kerusakan hutan di hulu yang membuat air tak lagi tertahan secara alami. Seharusnya, fokus narasi publik kita ada pada mitigasi dan fakta ilmiah ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Jagat maya lebih sibuk menyebarkan video dan foto jenazah tanpa sensor. Laporan beberapa media nasional bahkan menyoroti betapa banyaknya informasi simpang siur akibat unggahan warga yang minim verifikasi. Kita seolah lupa substansi demi sensasi.
Realitasnya memang ironis. Tekanan algoritma digital dan persaingan ketat kerap menyeret media profesional ke dalam jebakan clickbait. Kompetisi antar-media kini bukan lagi soal siapa yang paling kredibel, melainkan siapa yang paling dulu tayang. Akibatnya, alih-alih melakukan verifikasi ketat—sebagaimana diingatkan oleh A.S. Haris Sumadiria (2011) bahwa tugas jurnalisme adalah melayani kepentingan publik lewat akurasi—media justru beralih fungsi menjadi pengeras suara bagi kepanikan warga. Di titik inilah etika runtuh, prinsip 'benar' kalah telak oleh prinsip 'cepat'.

Komentar 0