Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Beli Barang Bekas? Tren!

Barang Bekas

Mahasiswa.co.id - Bener Banget! Belakangan ini kegiatan Thrifting merupakan tren terutama di kalangan remaja yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang sandang. Istilah Thrifting sendiri pasti udah nggak asing lagi dong di telinga kalian! Dalam tren ini tidak jarang orang menemukan pakaian bekas dengan merek ternama dan masih sangat layak pakai, namun dengan harga yang cukup miring. Semula yang digunakan untuk sekedar menghemat biaya kini berubah menjadi sebuah gaya hidup baru. Nah, seiring berjalannya waktu mayoritas masyarakat kini memandang banyak sisi positif dari kegiatan Thrifting, salah satunya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas gaya hidup.

Thrifting sendiri secara pengertian adalah sebuah kegiatan membeli barang bekas terutama pakaian dengan tujuan membantu mengurangi pencemaran lingkungan yang dihasilkan oleh kegiatan fast fashion serta dapat membantu untuk berhemat membeli pakaian baru. Menurut kamus Merriam Webster, thrift shop atau thrift store adalah toko yang menjual barang bekas terutama pakaian dan biasanya bertujuan untuk amal. Jenis toko ini bergantung pada sumbangan dari orang-orang sekitar. Thrifting atau belanja barang bekas, oleh Fleura Bardhi didefinisikan dalam artikel Thrill of the Hunt: Thrift Shopping for Pleasure adalah suatu kegiatan belanja yang dilakukan di tempat bekas, seperti thrift shop. Thrift berarti penghematan dalam Bahasa Indonesia.

Kegiatan thrifting populer dalam penjualan barang bekas berkualitas, ada banyak jenis macam thrifting seperti dalam elektronik, literasi dan lain-lain, namun yang paling utama adalah produk fashion. Uniknya barang bekas ini menarik para konsumen karena fisiknya yang tidak pasaran. Mungkin bagi kalangan masyarakat tertentu, thrifting dapat dianggap sebagai jalan alternatif untuk menemukan barang bermerek dalam harga miring dan bagi kalangan sebagiannya thrifting dianggap sebagai cara untuk berbelanja barang-barang yang tidak umum.

Industri tekstil dan garmen, khususnya fast fashion merupakan salah satu penyumbang terjadinya pencemaran lingkungan, antara lain pencemaran air, penggunaan bahan kimia berbahaya, serta meningkatnya jumlah limbah tekstil. Sehingga Thrifting dapat dikatakan sebagai budaya populer yang masuk ke dalam kalangan remaja yang disukai oleh banyak orang dari hasil kebiasaan dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat dengan bentuk pembelian barang bekas demi membantu mengurangi pencemaran lingkungan serta kehematan ekonomis.

Nah, sekarang kita masuk mode serius dulu nih, gimana ya thrifting bisa disebut sebagai suatu tren? Berikut kajian teori dan eksplanasi nya. Yuk kita simak bareng-bareng! Budaya Populer, Perubahan Sosial, Struktur kelas sosial, dan Globalisasi akan menjadi hal yang familiar di telinga kalian dalam artikel ini.

SEJARAH THRIFTING
Kalau “Perubahan-perubahan di dalam masyarakat mengenai perubahan norma sosial, nilai sosial, pola perilaku sosial, dan segala aspek di dalam kehidupan sosial”. Kutipan teori modernisasi tersebut menjelaskan bahwa Thrifting telah mengubah pola perilaku sosial masyarakat terutama di kalangan remaja. Budaya Populer Thrifting pertama kali dikembangkan di amerika pada tahun 1760 – 1840 saat terjadinya “Industrial Revolution Mass production leads to greater consumption” kala itu masyarakat mengubah pandangan mereka mengenai dunia fashion. Pada masa itu harga pakaian sangat murah, sehingga masyarakat berpikir bahwa pakaian adalah barang disposable yang hanya sekali pakai dibuang. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi sangat konsumtif dan barang-barang yang dibuang tersebut menjadi limbah sandang yang menumpuk. Biasanya barang-barang bekas yang telah digunakan oleh para imigran. Pada saat tersebutlah budaya populer Thrifting pertama kali dikembangkan.

PERUBAHAN POLA PIKIR
Pola perilaku yang telah berubah akibat dari budaya populer Thrifting adalah cara pandang masyarakat terhadap fashion, pola konsumtif, dan cara mereka merasionalkan harga barang dalam berbelanja. Dengan penghematan yang terjadi, banyak dari masyarakat yang lebih memilih untuk berbelanja barang Thrifting daripada berbelanja barang di toko-toko branded atau mall. Perbandingan kualitas dan tahun produksi barang juga kini menjadi kriteria dalam berbelanja Thrifting. Kini masyarakat melihat tahun produksi barang untuk mengukur kelangkaan barang dan harga barang tersebut. Semakin lama tahun produksi, maka akan semakin mahal juga harga jual barang tersebut, dikarenakan barang tersebut dianggap vintage atau rare. Pola perilaku yang berubah dapat berbentuk positif maupun negatif. Thrifting dapat menyebabkan perilaku yang konsumtif, jika hal tersebut masuk ke dalam hobi yang menyimpang. Namun pola perilaku yang berubah dapat juga berbentuk positif jika dilihat dari segi penghematan dan peringanan limbah sandang. Kata “Thrifting” mengubah citra pakaian bekas sebagai barang konsumsi menjadi suatu sarana pengekspresian diri.

TEORI ILMIAH
Proses masuknya budaya populer Thrifting ke dalam masyarakat kalangan remaja dapat dikaitkan dengan teori “culture of the people” (budaya orang orang atau masyarakat) yang dikemukakan oleh Hebdige. Teori ini berkaitan dengan budaya populer atau pop culture. Budaya populer adalah budaya yang diproduksi secara masal dan dikonsumsi secara masal juga atau sering kali didekatkan dengan istilah 'mass culture' atau budaya massa. Budaya ini tentunya menyebar melalui kelompok masyarakat satu ke kelompok lainnya. Hal ini dapat terjadi melalui penyampaian budaya secara langsung maupun tidak langsung. Penyampaian budaya secara langsung dapat berbentuk seperti komunikasi secara langsung melalui perbincangan maupun pemaparan budaya antar kelompok dalam bentuk sosialisasi. Sedangkan penyampaian budaya secara tidak langsung dapat terjadi melalui dunia maya, seperti melalui postingan sosial media, pemberitahuan melalui web, ataupun melalui aplikasi chatting antar kelompok maupun Individu masyarakat. Dalam fenomena ini, budaya populer Thrifting secara garis besar diketahui oleh remaja melalui sosial media yang

merupakan salah satu bentuk globalisasi dan modernisasi melalui komunikasi online. Hal ini dibuktikan dengan persebaran informasi yang terjadi melalui sosial media dengan sangat cepat, sehingga banyak remaja yang mengetahui budaya populer Thrifting dan terinspirasi untuk berpartisipasi melakukan kegiatan Thrifting. Harga murah, kualitas baik, dan bermerek, juga menjadi daya tarik remaja dalam melakukan kegiatan Thrifting.

Di Indonesia sendiri, mengacu pada hasil survei Good Stats mengenai preferensi gaya fesyen anak muda Indonesia yang dilaksanakan pada 5-16 Agustus 2022 dengan melibatkan 261 responden, mayoritas responden atau sekitar 49,4% mengaku pernah membeli fashion bekas dari hasil Thrifting. Hal ini membuktikan bahwa budaya ini merupakan bentukan masyarakat atau orang banyak yang biasa ditemukan sehari-hari seperti kegiatan konsumsi, berkarya ataupun yang lainnya berkat masyarakat yang banyak menggunakan atau mengonsumsinya. Menurut Hebdige, contoh memandang budaya populer sebagai sekumpulan artefak yang ada, seperti film, kaset, acara televisi, alat transportasi, pakaian, dan sebagainya. Budaya Pop selalu berubah dan muncul secara unik di berbagai waktu dan tempat, termasuk trend pakaian-pakaian Thrifting

Nah, seiring berjalannya waktu pola pikir masyarakat juga ikut berubah nih, ada yang beranggapan pada kegiatan thrifting terjadi perbedaan kelas sosial pada tindakan ini. Sebagai contoh mereka yang berada pada ekonomi menengah kebawah atau dalam sosiologi kita sebut sebagai proletar ingin meningkatkan status sosialnya untuk dapat naik ke kelas borjuis atau kelas atas. Namun, ada juga yang beranggapan bahwa hal ini merupakan suatu tren yang dapat dilakukan oleh orang - orang untuk mendapatkan barang - barang dengan harga yang lebih terjangkau yang dimana hal itu merupakan hal yang positif. Praktik thrifting sendiri tidak lepas dari kesenjangan ekonomi, dimana orang yang memiliki keterbatasan secara finansial mencari solusi yang lebih ekonomis untuk memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, bagi orang dengan keuangan yang lebih stabil, thrifting mungkin menjadi pilihan gaya hidup yang berfokus pada keberlanjutan atau keunikan. Oleh karena itu, thrifting dapat mencerminkan dan memperkuat kesenjangan ekonomi yang dalam konteks sosiologi adalah pertentangan kelas antara borjuis dan proletar akibat kesenjangan ekonomi dengan menciptakan alternatif belanja yang berbeda untuk kelompok ekonomi yang berbeda.

Oleh: Heavendo Mahaputra Senopathy, Sandrica Marito Danielle, Yeremia Haganta Kaban - SMA Kolese Gonzaga

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.