Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Beradab dalam Berkompetisi: Persaudaraan Hancur karena Ambisi

Beradab dalam Berkompetisi: Persaudaraan Hancur karena Ambisi

Mahasiswa.co.id - Perguruan tinggi merupakan wadah bagi para cendekiawan muda untuk merajut benang cita-cita dan membangun jejaring baru dalam bersosial. Wadah yang mulia ini dijadikan sebagai tempat beradu nasib dan gagasan dari para pejuang muda yang memiliki berbagai ambisi. Berambisi tentu sudah menjadi ciri khas dari para pejuang intelektual, namun seringkali hal ini menjadi petaka dalam berkompetisi. Ambisi dalam berkompetisi, jika tidak diimbangi dengan adab, tentu menciptakan sebuah persaingan yang tidak sehat.

Para pejuang muda di era transformasi ini seringkali menciptakan kubu-kubu dalam berkompetisi. Mereka yang dianggap bodoh dikucilkan, dan mereka hanya mau bergaul dengan yang dianggap setara dan yang dianggap lebih dari mereka. Sebenarnya, pemikiran semacam ini tidak pantas jika dimiliki oleh seorang akademisi.

Faktor-faktor yang berkontribusi meningkatnya perilaku ini, antara lain: (1) karena tidak ingin tersaingi, (2) menerapkan target tinggi berkaitan dengan akademik, dan (3) mengalami kekalahan di bidang akademik dari kawan sejawat. Akibat dari fenomena ini adalah munculnya persaingan yang tidak sehat. Segala macam cara dikerahkan hanya untuk menjatuhkan lawan kompetisi.

Ruang kelas yang sebenarnya merupakan ranah dan payung berhimpunnya para cendekiawan muda layaknya keluarga, kini menjadi arena tinju tanpa wasit. Suasana semacam ini berdampak pada kondisi dan situasi ruangan kelas menjadi tidak kondusif, seperti lunturnya rasa persaudaraan antar teman seperjuangan, hilangnya rasa simpati satu sama lain, bahkan munculnya perilaku ekstrem yang membahayakan.

Dalam situasi yang menegangkan seperti ini, kendali atas diri sendiri begitu rapuh. Berbagai tindakan tidak beradab sebagai manifestasi dari emosi dan perasaan tak sadar mulai diperlihatkan, seperti marah-marah saat berbicara, memotong pembicaraan orang lain, menyelipkan kata-kata kasar dalam berargumentasi, serta menunjukkan perilaku yang tidak terpuji.

Perlu diingat, dalam kutipan buku Adab di Atas Ilmu karya Imam Nawawi, "...adab lebih dahulu sebelum ilmu, karena dengan adab, ilmu akan menjadi rahmat; tanpa adab, ilmu hanya menjadi malapetaka...". Tentu, kutipan buku di atas memiliki makna yang sangat mendalam bagi para pencari pengetahuan. Pernyataan di atas juga membuktikan bahwa eksistensi adab dalam ilmu sangat krusial. Jadi, tak ada yang dapat diandalkan jika kita menuntut ilmu tanpa memperhatikan adab dan moral kita.

Untuk menangkal pemikiran seperti ini, tentu langkah pertama yang diambil adalah merefleksikan diri sendiri. Pergumulan rasional mulai muncul dengan berbagai pertanyaan: apa yang lebih penting, IPK atau etika? Apakah yang kita tunjukkan nanti kepada masyarakat ketika masa perkuliahan usai? IPK atau adab moralitas. Jika dihadapkan dengan situasi dan pertanyaan semacam ini, tentu sangat tidak mungkin jika yang akan kita tunjukkan adalah IPK, melainkan adab dan tingkah laku beretika kita.

Jadi, apa yang perlu kita banggakan dengan IPK 4,0 setiap semester jika kita mengalami cacat adab? Seperti halnya kutipan buku Adab di Atas Ilmu, "...Orang yang berilmu adalah pelita umat, namun tanpa adab, ia hanya menjadi bayangan tanpa cahaya...". Penting untuk kita ingat, berkompetisi dalam memperoleh prestasi adalah suatu hal yang wajar, namun etika dan cara yang akan digunakan itu yang harus diperhatikan.

Penulis: Zello Bertholomeus
Mahasiswa prodi Teologi, Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.