Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Brain Rot: Ketika Otak Kita Kelelahan karena Scroll Tanpa Henti

Brain Rot

Era Konten Cepat dan Otak yang Lemah Fokus
Pernah nggak sih kamu merasa gampang lupa, sulit konsentrasi, atau bahkan malas mikir padahal tugas menumpuk? Mungkin kamu sedang mengalami sesuatu yang disebut “brain rot”. Istilah ini lagi naik daun di media sosial, terutama di kalangan Gen Z dan Gen Alpha yang tumbuh besar bersama TikTok, YouTube Shorts, dan Reels Instagram.

Fenomena brain rot bukan cuma soal malas belajar, tapi lebih dalam: ini soal bagaimana otak kita secara perlahan kehilangan ketajaman karena terlalu sering “disuapi” konten pendek, cepat, dan dangkal. Konten yang bikin ketawa sesaat, tapi tanpa sadar bikin susah berpikir jangka panjang.

Apa Itu Brain Rot?
Secara harfiah, “brain rot” berarti pembusukan otak. Namun dalam konteks psikologi kontemporer, istilah ini tidak digunakan secara medis, melainkan sebagai metafora populer untuk menjelaskan kemunduran fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang dangkal secara berlebihan.

Menurut Oxford University Press (2023), istilah “brain rot” resmi menjadi Word of the Year karena banyaknya perbincangan tentang dampak buruk media sosial terhadap kemampuan berpikir, belajar, dan berkonsentrasi. Fenomena ini muncul seiring dengan ledakan penggunaan media berbasis algoritma yang menyuguhkan konten cepat dalam jumlah besar.

Bagaimana Otak Kita Terpengaruh?
Saat kamu menonton video lucu berdurasi 10 detik, lalu lanjut ke video masak, lanjut lagi ke prank, dan terus begitu sampai satu jam lewat tanpa sadar, sebenarnya otak kamu sedang kehilangan kemampuan untuk fokus dalam waktu lama.

Sebuah studi oleh Yan, Zhao, Liu, dan Zhang (2022) menjelaskan bahwa konsumsi video berdurasi pendek secara terus-menerus dapat menurunkan atensi selektif, yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian pada satu hal penting di tengah banyak gangguan. Artinya, otak menjadi lebih mudah terdistraksi dan kurang tahan terhadap tugas-tugas yang menuntut konsentrasi tinggi, seperti membaca buku atau menyelesaikan tugas kuliah.

Studi lain dari Zhang dan Yang (2021) menunjukkan bahwa konten instan bisa mengacaukan sistem dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Saat otak terbiasa mendapat rangsangan cepat dan menyenangkan secara instan, ia akan menuntut sensasi serupa terus-menerus. Maka tidak heran jika kita jadi gelisah saat harus duduk diam dan belajar.

Tanda-Tanda Kamu Mengalami Brain Rot
Beberapa tanda yang sering muncul pada orang yang mengalami gejala brain rot antara lain:

• Sulit mempertahankan fokus lebih dari lima menit pada satu aktivitas
• Merasa cepat bosan saat melakukan hal yang tidak melibatkan layar
• Sering membuka ponsel tanpa tujuan jelas
• Menunda-nunda pekerjaan karena tidak terasa menarik
• Merasa tidak termotivasi walau tahu ada target atau deadline
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Ardila (2023), menjelaskan bahwa kondisi ini sangat erat kaitannya dengan fenomena digital fatigue, yaitu kelelahan mental akibat interaksi digital yang berlebihan.

Dampak Jangka Panjang
Jika dibiarkan, brain rot dapat membawa dampak serius pada kehidupan sehari-hari. Dari sisi akademik, mahasiswa bisa mengalami penurunan prestasi karena tidak bisa memproses informasi secara mendalam. Dari sisi emosional, mereka jadi lebih mudah cemas, overthinking, bahkan mengalami FOMO (fear of missing out) karena merasa harus terus mengikuti tren digital.

Dari sisi sosial, kebiasaan konsumsi konten dangkal ini bisa menurunkan kualitas interaksi antarpribadi. Orang jadi lebih sibuk dengan ponsel daripada membangun komunikasi yang bermakna secara langsung.

Membangun Gaya Hidup Digital yang Sehat
Berita baiknya, brain rot bisa dicegah dan diatasi. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kognitif di era digital:

1. Batasi Waktu Layar
Gunakan fitur “screen time” di ponsel untuk mengontrol durasi penggunaan aplikasi hiburan. Misalnya, batasi TikTok atau Instagram hanya 30 menit per hari. Sisanya, alihkan ke aktivitas fisik atau sosial yang nyata.

2. Konsumsi Konten Berkualitas
Isi otakmu dengan hal-hal yang menantang. Nonton dokumenter, baca buku, dengar podcast edukatif, atau tonton video yang mengajarkan skill baru. Hal-hal seperti ini merangsang otak untuk berpikir aktif dan memperluas wawasan.

3. Lakukan Aktivitas Tanpa Layar
Coba jalan kaki, olahraga ringan, menggambar, menulis jurnal, atau bercocok tanam. Aktivitas ini bukan hanya menyegarkan pikiran, tapi juga membantu otak memproses informasi tanpa gangguan digital.

4. Terapkan Teknik Mindfulness
Latih otak untuk tetap fokus dengan meditasi ringan atau teknik pernapasan. Mindfulness terbukti mampu memperkuat koneksi saraf di bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan perhatian (Kabat-Zinn, 2003).

5. Interaksi Sosial Secara Langsung
Coba luangkan waktu untuk ngobrol langsung dengan teman atau keluarga tanpa distraksi layar. Interaksi yang tulus dan penuh makna bisa menjadi “penyeimbang” dari kehidupan digital yang serba cepat.

Kembali ke Kehidupan yang Penuh Kesadaran
Brain rot bukanlah kondisi medis, tapi ini menjadi cerminan betapa cepatnya gaya hidup digital memengaruhi kualitas berpikir dan kesehatan mental kita. Bukan berarti kita harus sepenuhnya meninggalkan teknologi, tapi penting untuk belajar menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata.

Dengan mengatur pola konsumsi digital, memilih konten yang lebih sehat, dan menyisihkan waktu untuk aktivitas non-digital, kita bisa menjaga otak tetap tajam dan mental tetap stabil.

Jadi, mulai hari ini, yuk kurangi scroll tak berujung dan kasih kesempatan buat otak kita bernapas sejenak.

Referensi
Oxford University Press. (2023). Word of the Year: Brain Rot. Oxford Languages.
Yan, T., Zhao, X., Liu, Z., & Zhang, Y. (2022). Short-form video watching and its effects on attention span. Journal of Behavioral Sciences, 18(3), 245–260.
Zhang, L., & Yang, W. (2021). Digital Dopamine: How short videos affect brain reward systems. Chinese Psychological Journal, 29(4), 112–119.
Ardila, R. (2023). Dampak Konsumsi Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja. Jurnal Psikologi Terapan Indonesia, 7(1), 34–42.
Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-Based Interventions in Context: Past, Present, and Future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Nama Penulis Bedzayda Venezya Roring (102411019)
Prodi Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial, Universitas Binawan

Dosen pengampu : Apriani Riyanti, M.Pd., Anwar Razak, S.ip, MPP.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.