Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Ekspresi Luka dalam Bahasa : Menyelami novel “Ikhlas Penuh Luka

Penuh Luka

Oleh: Berli Istiqomah

Mahasiswa.co.id - Pernahkah kamu membaca sebuah buku dimana luka yang di sampaikan terasa begitu nyata? Seolah di tiap babnya menarik tangis baru bagi pembaca. Inilah yang ada pada novel “Ikhlas Penuh Luka” karya salah satu penulis Indonesia asal Minang, Boy Candra. Boy Candra cukup terkenal dengan gaya penulisannya yang ringan, mudah dipahami namun puitis dan menyentuh. Lewat karya-karyanya Boy Candra sering menggunakan majas dan juga diksi yang menarik sehingga menciptakan karakter yang kuat dengan alur cerita yang tidak terlalu rumit namun terasa dekat dengan pembaca. Pembaca menjadi terbawa oleh cerita, seolah mengalaminya sendiri.

Karya terbaru Boy Candra, novel “Ikhlas Penuh Luka” terbit pada tahun 2025, bertemakan keluarga dan sosial. Mengisahkan tentang tokoh Basri yang baru saja kehilangan ibunya. Saat ini Basri hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Meski sudah mencoba untuk meikhlaskan, namun perasaan kehilangan masih saja menyelimuti Basri. Novel ini menceritakan tentang bagaimana perjalanan Basri mencapai kebahagiaan, bagiamana Basri belajar menerima luka dan pelan-pelan meikhlaskannya.

Lewat novel ini, Boy Candra berhasil menyihir pembaca dengan mengubah cerita yang penuh akan luka menjadi sebuah seni. Bagaimana sebuah kesedihan akan rasa kehilangan di ekspresikan lewat bahasa nan indah namun memberikan pesan yang menyayat. Novel “Ikhlas Penuh Luka” karya Boy Candra ini mencoba diekspresikan lewat bahasa, dan ingin menyampaikan kepada pembaca bagaimana sakitnya kehilangan dan masalah yang di hadapi bertubi-tubi oleh tokoh.

Ekspresi luka pada novel “Ikhlas Penuh Luka” ini dapat kita lihat dalam beberapa kutipan berikut :

“di hadapan kami, terbentang lautan luas serupa keikhlasan sepasang anak piatu yang mencoba mencari ketenangan. Di hadapan kami, mengalun debur ombak mewakili kebisingan dalam kepala kami di larut malam.” (Boy Candra : 42-43)

Menggunakan majas metafora dan majas personafikasi. Kutipan di atas menjelaskan tentang perasaan sepasang anak piatunyang sedang mencari ketenangan di tengah kesedihan, dan segala kekacauan yang ada di pikiran mereka. Lautan luas dan debur ombak seolah memberikan gambaran tentang pencarian akan kedamaian di tengah kerumitan hidup.

“kepergian anggota keluarga memang jadi satu pukulan telak di dada – tidak begitu terdengar, namun menyisakan lebam.” (Boy Candra : 13)

kutipan ini seolah menjelaskan kepada pembaca tentang bagaimana sakitnya rasa kehilangan sosok yang dicintai. Layaknya lebam yang tersisa karna pukulan, beratnya rasa kehilangan akan membekas lama dan sulit untuk dihapus, hal ini dapat mempengaruhi seseorang secara emosional.

“Ada peluru tajam yang tiba-tiba menembus diriku, meembuatku tersiksa dalam keadaan hidup olehnya.” (boy candra : 53)

Kata peluru yang terdapat dalam kutipan di atas dimaknai dengan sebuah luka yang di alami benar-benar menusuk dengan sangat dalam. Hingga luka yanng sangat dalam ini membuat sang tokoh tersiksa dalam hidupnya.

“orang-orang tidak lagi bicara tentang kesedihan, namun aku masih saja terjebak dalam kehampaan.” (Boy Candra : 255)

“terjebak dalam kehampaan” menggambarkan perasaan kosong dari kehilangan yang di alami tokoh. Meski hidup terus berjalan, namun tokoh masih terejebak dalam kehampaan akibat rasa kehilangan.

Dari kutipan-kutipan di atas, bisa kita lihat bagaimana bahasa bisa menjadi media untuk meekspresikan luka. Tidak dengan bahasa carut marut, tapi bagaimana penulis mampu merangkai satu demi satu kata menjadi sebuah kalimat nan indah, namun tersirat sebuah makna mendalam di dalamnya.

Biodata Penulis
Berli Istiqomah merupakan mahasiswa program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Instagram : @berlian112_
Email : istiqomahberli6@gmail.com

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.