Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Fenomena Minimnya Kehadiran Remaja di Masjid dan Tingginya Antusiasme pada Waktu Magrib

Remaja di Masjid

Mahasiswa.co.id - Saya sering kali memperhatikan minimnya remaja yang datang ke masjid. Justru yang lebih sering terlihat hadir adalah anak-anak kecil. Selain itu, saya juga mengamati bahwa jumlah jamaah dari kalangan remaja dan anak-anak biasanya meningkat pada waktu salat Magrib, sedangkan pada waktu salat lainnya jumlah mereka jauh lebih sedikit.

Setelah saya mencoba menelusuri fenomena tersebut, saya menemukan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Faktor pertama adalah perkembangan teknologi dan media sosial. Teknologi membuat banyak remaja menghabiskan waktu luangnya di dunia digital. Waktu yang dahulu sering digunakan untuk berkumpul di lingkungan sekitar, bermain bersama teman, atau mengikuti kegiatan keagamaan kini banyak tersita oleh permainan daring, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital lainnya. Akibatnya, bagi sebagian remaja, aktivitas di dunia digital terasa lebih menarik daripada pergi ke masjid.

Faktor kedua adalah kurangnya kedekatan emosional antara remaja dan masjid. Sebagian remaja merasa bahwa masjid belum mampu menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan mereka. Sebaliknya, dunia digital memberikan kesenangan, hiburan, dan rasa keterikatan yang lebih mudah mereka rasakan. Padahal, apabila masjid menyediakan kajian yang sesuai dengan kebutuhan remaja, kegiatan sosial, program kreatif, maupun aktivitas yang tetap bernilai Islami, minat mereka untuk datang ke masjid kemungkinan akan meningkat.

Faktor ketiga adalah lingkungan keluarga. Keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan seorang anak. Remaja yang sejak kecil dibiasakan salat berjamaah di masjid, mengikuti kegiatan keagamaan, dan berinteraksi dengan lingkungan masjid biasanya akan memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan masjid. Sebaliknya, jika pembiasaan tersebut kurang diberikan, maka keterikatan mereka terhadap masjid juga cenderung lebih rendah. Dari fenomena minimnya remaja yang berjamaah dan semangat yang lebih terlihat hanya pada waktu Magrib, faktor keluarga bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mungkin sejak kecil mereka lebih sering diingatkan untuk salat berjamaah pada waktu Magrib dibandingkan waktu lainnya. Selain itu, sebagian anak juga dibiasakan mengaji setelah Magrib sehingga waktu tersebut memiliki ikatan khusus dalam kehidupan mereka.

Menurut saya, waktu Magrib juga merupakan waktu yang paling mudah dijangkau oleh remaja. Pada waktu tersebut sebagian besar aktivitas harian telah selesai, seperti sekolah, kuliah, les, pekerjaan, maupun kegiatan lainnya. Berbeda dengan waktu Zuhur dan Asar yang sering kali bertepatan dengan aktivitas belajar atau pekerjaan sehingga kesempatan untuk datang ke masjid menjadi lebih terbatas.

Selain itu, faktor suasana juga memengaruhi. Pada waktu Magrib, suasana cenderung lebih nyaman karena matahari telah terbenam, udara lebih sejuk, dan lingkungan terasa lebih tenang. Kondisi ini berbeda dengan waktu Zuhur dan Asar yang terkadang masih panas serta dipenuhi berbagai aktivitas sehingga membuat sebagian orang kurang bersemangat untuk datang ke masjid.

Selain faktor-faktor tersebut, pengaruh teman sebaya juga tidak dapat diabaikan. Banyak remaja lebih termotivasi datang ke masjid ketika teman-teman mereka juga hadir. Sebaliknya, jika lingkungan pertemanannya tidak terbiasa ke masjid, maka minat mereka untuk datang juga dapat berkurang.

Berdasarkan pengamatan tersebut, saya berpendapat bahwa minimnya kehadiran remaja di masjid bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi dari pengaruh teknologi, lingkungan keluarga, pergaulan, kesibukan aktivitas, serta kurangnya kedekatan mereka dengan masjid. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari keluarga, pengurus masjid, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan masjid yang lebih ramah, menarik, dan dekat dengan kehidupan remaja. Dengan demikian, masjid tidak hanya ramai pada waktu Magrib saja, tetapi juga pada waktu-waktu salat lainnya.

Oleh : Maulidia Qurrota A’yun
Dosen Pengampu : Ahmad Khoiruddin, S.Ag, M.Psi
Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Prodi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.