Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Gapapa: Bahasa Emosi Perempuan yang Tak Terucapkan

WhatsApp Image 2024-06-21 at 18.14.12

Mahasiswa.co.id - “Jadi Perempuan memang sulit” kata Najwa Shihab pada salah satu video YouTube-nya. Tubuh perempuan sering mengalami fase perubahan hormon, yang menyebabkan emosional yang mudah berubah. Perempuan lebih ekspresif, secara emosional dan verbal, Perempuan lebih dominan dibandingkan dengan laki-laki. Otak Perempuan akan memikirkan lebih banyak hal dibandingkan laki-laki.

Setiap Perempuan memiliki cara mengungkapkan dan bahasa emosi yang berbeda-beda. “Gapapa” , “Aku gapapa”. Kata yang sering terucap dari seorang perempuan ketika ditanya “Kenapa?” Seringkali kita sebagai seorang perempuan gengsi untuk mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Terkadang, kita ingin selalu terlihat baik-baik saja atas apa yang kita rasakan sebenarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan seringkali menutupi emosi mereka dengan senyuman atau kata-kata yang terdengar kuat. Namun, di balik itu semua, terdapat bahasa emosi yang tak terucapkan dan masih melekat tak bisa diungkapkan.

Luka yang Tersamar
Perempuan sering kali menahan emosi mereka demi menjaga harmoni dalam hubungan atau mungkin karena rasa takut akan penolakan, bahkan takut dipandang lemah. Namun, bahasa emosi yang tak terungkapkan ini sering kali menyebabkan luka yang terpendam. Menimbulkan tanda tanya yang menggantung, menuntut pengakuan yang belum tersampaikan, dan menyimpan rahasia yang belum terungkapkan.

Menggali Kekuatan dalam Kelemahan
Meskipun seringkali bahasa emosi perempuan terabaikan, sebenarnya di dalamnya terdapat kekuatan yang luar biasa. Pada saat perempuan berkata "gapapa", seringkali itu bukanlah ungkapan ketidakbermaknaan. Dibalik kata-kata itu terdapat lapisan kesabaran, sebuah kekuatan yang memeluk kesulitan. Seorang Perempuan memilih untuk untuk tidak mengekspresikan kekecewaan atau kesedihan secara eksplisit, namun itu tidak berarti mereka tidak merasakannya.

Lebih Peka
Penting bagi kita untuk mulai menghargai dan memahami bahasa emosi perempuan dengan lebih baik. Mendengarkan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga yang tidak terucapkan. Hal ini memerlukan kepekaan dan empati yang lebih dalam, serta kesadaran bahwa setiap "gapapa" mungkin mengandung cerita yang belum diceritakan, perjuangan yang belum terlihat, dan kekuatan yang belum diakui. Pengakuan terhadap bahasa emosi perempuan bukan hanya tentang memahami kata-kata yang diucapkan, tetapi juga tentang menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk mengekspresikan diri mereka sepenuhnya.

Oleh: Eka Nur Prihatin

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.