Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

HMI dan Keberanian Berpikir

HMI
Ilustrasi Diskusi Senja di Halaman Kampus Foto: Nadia/Ilustrasi by GPT Pro

Oleh: Alsany Maulana Firmansyah, HMI Cabang Kabupaten Bandung

Mahasiswa.co.id - Ada hal yang sering kita banggakan ketika berbicara tentang Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI, yaitu sejarahnya. Kita menyebut nama-nama besar yang pernah tumbuh di dalamnya dan mengingat bagaimana HMI menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pemikiran Islam dan kebangsaan di Indonesia. Semua itu memang layak dikenang. Namun, sejarah seharusnya tidak hanya membuat kita bangga, tetapi juga mendorong kita bertanya tentang apa yang sedang kita lakukan hari ini. Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kita mengingat Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Ia bukan hanya dikenal sebagai salah satu kader HMI, tetapi juga sebagai intelektual Muslim yang berani membawa persoalan keislaman, kemanusiaan, kebangsaan, dan perubahan zaman ke dalam ruang pemikiran. Cak Nur menunjukkan bahwa menjadi Muslim tidak berarti harus menutup diri dari perubahan dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, keislaman dapat menjadi dasar bagi manusia untuk terus belajar, berpikir, dan membaca realitas secara kritis.

Dari sini muncul pertanyaan yang perlu direnungkan. Apakah HMI hari ini masih memiliki keberanian berpikir seperti itu? Bukan keberanian untuk berbicara paling keras dalam forum atau sekadar berbeda pendapat agar terlihat kritis, melainkan keberanian untuk memeriksa kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Berpikir berarti bersedia mempertanyakan pendapat sendiri, menguji tradisi, dan menerima kemungkinan bahwa apa yang kita yakini masih dapat diperbaiki.

Dalam pemikiran Cak Nur, tauhid memiliki hubungan erat dengan keberanian intelektual. Kalimat lā ilāha illā Allāh tidak hanya menunjukkan pengakuan terhadap keesaan Allah, tetapi juga pembebasan manusia dari segala sesuatu yang diperlakukan sebagai sesuatu yang mutlak selain Allah. Karena yang mutlak hanya Tuhan, maka pemikiran manusia, tradisi, kelompok, dan kepentingan tetap berada dalam wilayah yang relatif. Semuanya dapat dikaji, dipertanyakan, dan dikoreksi ketika tidak lagi sesuai dengan kebenaran. Cara pandang tersebut penting bagi kehidupan HMI. Tradisi organisasi memang perlu dijaga, tetapi tradisi tidak boleh membuat kader berhenti berpikir. Kaderisasi seharusnya tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana cara berpikir. Perbedaan pendapat bukan ancaman, pertanyaan bukan pembangkangan, dan kritik bukan bentuk ketidaksetiaan. Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menyediakan ruang bagi kader untuk berpikir secara bebas dan bertanggung jawab.

Persoalannya, kehidupan organisasi terkadang membuat kita lebih sibuk dengan kegiatan daripada gagasan. Diskusi, rapat, kaderisasi, dan berbagai program kerja dapat terus berjalan, tetapi setelah kegiatan selesai sering kali tidak banyak gagasan yang tersisa. Padahal, kehidupan intelektual tidak hanya dapat diukur dari banyaknya forum yang dilaksanakan, tetapi dari pertanyaan yang lahir, tulisan yang dihasilkan, dan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat. HMI tidak kekurangan kegiatan, tetapi perlu terus memastikan bahwa setiap kegiatan memiliki kehidupan intelektual yang nyata.

Persoalan ini berkaitan langsung dengan identitas HMI. Dalam teori identitas sosial yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner, identitas seseorang juga terbentuk melalui keanggotaannya dalam kelompok. Identitas kelompok menjadi kuat ketika anggotanya memiliki kesadaran terhadap nilai, tujuan, dan karakter yang membedakan kelompok tersebut dari kelompok lain. Karena itu, identitas organisasi tidak cukup dipertahankan melalui nama, simbol, atau sejarah, tetapi harus hidup dalam kesadaran dan perilaku para anggotanya.

Jika teori tersebut digunakan untuk membaca HMI, maka identitas HMI tidak cukup dipahami hanya sebagai statusnya sebagai organisasi mahasiswa Islam. Identitas itu seharusnya terlihat dalam cara kader berpikir, bersikap, dan mengambil posisi terhadap persoalan masyarakat. Ketika keislaman hanya menjadi simbol, intelektualitas hanya menjadi jargon, dan independensi hanya menjadi istilah yang dihafalkan, maka yang terancam bukan hanya kualitas kaderisasi, tetapi karakter yang membedakan HMI dari organisasi lainnya.

Ancaman terhadap identitas HMI juga tidak selalu datang dari luar. Ia dapat muncul dari dalam ketika kader mulai kehilangan pemahaman tentang mengapa HMI harus ada dan nilai apa yang menjadi dasar keberadaannya. Sebuah organisasi dapat tetap memiliki struktur, kepengurusan, program kerja, dan regenerasi, tetapi perlahan kehilangan karakter apabila nilai dasarnya tidak lagi menjadi kesadaran kader. HMI mungkin tetap berdiri sebagai organisasi, tetapi identitas yang membuatnya memiliki makna dapat semakin melemah. Karena itu, independensi HMI perlu dipahami lebih dari sekadar tidak berpihak kepada kepentingan tertentu. Independensi juga merupakan sikap intelektual untuk tidak membiarkan pikiran dikuasai kepentingan sesaat. Kader yang independen harus mampu menilai sesuatu berdasarkan pengetahuan, argumentasi, dan nilai yang diyakininya benar, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang berbicara atau kelompok mana yang sedang memiliki pengaruh. Ketika sikap tersebut melemah, kader akan lebih mudah menjadi pengikut daripada pemikir.

Cak Nur juga menunjukkan bahwa iman dan ilmu tidak perlu dipertentangkan. Iman memberikan orientasi nilai, sementara ilmu membantu manusia memahami alam dan kehidupan. Karena itu, kader HMI tidak cukup hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga perlu membaca sejarah, filsafat, ilmu sosial, ekonomi, politik, sains, dan perkembangan teknologi. Persoalan masyarakat terlalu kompleks untuk dipahami dari satu sudut pandang. Membaca dan menulis harus menjadi kebiasaan karena keduanya merupakan bagian dari proses membentuk manusia yang mampu berpikir secara mandiri.

Pada akhirnya, HMI tidak membutuhkan Cak Nur baru. Setiap zaman memiliki persoalannya sendiri dan membutuhkan jawaban yang lahir dari generasinya sendiri. Yang perlu diwarisi dari Cak Nur bukan sekadar kutipan atau kesimpulan pemikirannya, tetapi keberanian untuk membaca keadaan, mempertanyakan kemapanan, dan menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. HMI tidak akan kehilangan identitas hanya karena zaman berubah. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika perubahan membuat nilai yang menjadi dasar keberadaan HMI semakin tidak dipahami dan tidak lagi tercermin dalam perilaku kader. Menjaga identitas bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa perubahan tidak membuat organisasi kehilangan arah keislaman, keilmuan, kemanusiaan, dan independensinya.

Mungkin karena itu, pertanyaan paling penting bagi HMI hari ini bukan lagi siapa tokoh besar yang pernah dilahirkannya. Pertanyaannya adalah apakah HMI masih mampu melahirkan kader yang memiliki sesuatu untuk dipikirkan, ditulis, dan diperjuangkan. Jika keberanian untuk berpikir itu masih hidup, maka tradisi intelektual HMI belum hilang. Ia hanya membutuhkan generasi yang berani menghidupkannya kembali.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.