Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kesehatan Mental Tetap Sehat Saat Aktivitas Tak Pernah Berhenti

Kesehatan Mental

Mahasiswa.co.id - Kesehatan mental adalah hal yang harus kita jaga untuk terus melanjutkan hidup, menjaga pikiran tetap sehat sering terasa sulit. Banyak orang sibuk mengejar target hingga lupa memperhatikan keseimbangan diri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ratusan juta orang di dunia mengalami gangguan kecemasan dan depresi, dan angka ini meningkat setelah pandemi. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar menunjukkan lebih dari 6 persen penduduk mengalami gangguan mental emosional. Angka ini menggambarkan bahwa kesehatan mental bukan isu kecil, terutama bagi mahasiswa dan pekerja yang hidup dalam tekanan target dan tenggat waktu.

Banyak mahasiswa melaporkan stres karena tugas dan tuntutan akademik. Survei di beberapa perguruan tinggi di Indonesia menemukan bahwa lebih dari 40 persen mahasiswa merasa kelelahan mental karena tugas, organisasi, dan tuntutan keluarga di waktu yang sama. Di sisi lain, karyawan yang bekerja lebih dari 48 jam per minggu tercatat lebih berisiko mengalami stres dan burnout menurut berbagai studi ketenagakerjaan. Kondisi seperti kurang waktu untuk keluarga, jam kerja panjang, dan beban kerja tinggi dapat mempengaruhi kualitas tidur, emosi, dan produktivitas. Kesehatan mental berpengaruh langsung pada fokus, kemampuan mengambil keputusan, dan kepuasan hidup seseorang. Oleh karena itu, beberapa langkah sederhana berikut bisa membantu kamu menjaga kesehatan mental di tengah aktivitas yang seolah tidak pernah berhenti.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu terapkan agar pikiran tetap jernih di tengah kesibukan.

1. Mulai hari dengan rutinitas yang menenangkan
Penelitian menunjukkan kebiasaan kecil di pagi hari dapat memengaruhi suasana hati sepanjang hari. Beberapa studi tentang mindfulness menyebutkan bahwa latihan napas dalam selama 5 sampai 10 menit dapat menurunkan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan rasa tenang. Hindari langsung membuka ponsel saat bangun tidur. Luangkan waktu beberapa menit untuk menarik napas dalam, berdoa, atau sekadar menikmati udara pagi. Rutinitas ini membantu otak beradaptasi sebelum menghadapi aktivitas harian dan mencegah kamu langsung tenggelam dalam tekanan notifikasi dan tugas.

2. Tetapkan batas antara pekerjaan dan waktu pribadi
Menurut data International Labour Organization, jam kerja yang terlalu panjang berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan kelelahan. Banyak orang merasa terus bekerja karena sulit memisahkan urusan kantor dan kehidupan pribadi, terutama yang bekerja atau belajar secara online. Coba tetapkan jam berhenti yang jelas, misalnya pukul 20.00 semua urusan kerja dan tugas selesai. Setelah itu, gunakan waktu untuk hal yang kamu sukai, seperti membaca, menonton film, atau mengobrol dengan keluarga. Kebiasaan ini membantu otak memahami bahwa ada waktu khusus untuk fokus dan ada waktu khusus untuk beristirahat.

3. Kenali tanda stres sejak dini
Laporan kesehatan mental di Indonesia menunjukkan banyak orang baru mencari bantuan saat kondisi sudah berat. Padahal, tanda awal stres sudah muncul sebelumnya. Mudah marah, sulit tidur, sulit fokus, sakit kepala berulang, atau kehilangan semangat bisa jadi tanda tubuh dan pikiran butuh istirahat. Jangan abaikan sinyal ini. Ambil waktu untuk menenangkan diri, bahkan hanya 10 menit di sela kesibukan, misalnya dengan berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau berhenti dari layar gawai. Studi tentang manajemen stres menunjukkan bahwa jeda singkat di tengah kerja dapat meningkatkan fokus dan menurunkan rasa lelah mental.

4. Bangun koneksi sosial yang positif
Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa dukungan sosial adalah salah satu pelindung terkuat terhadap stres dan depresi. Orang yang punya teman dekat atau keluarga yang bisa diajak bicara cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup. Berbicara dengan teman atau keluarga bisa menurunkan beban mental. Kamu bisa menceritakan apa yang kamu rasakan, bukan hanya apa yang kamu kerjakan. Dukungan emosional membuat kamu merasa tidak sendiri dalam menghadapi tekanan. Walau sibuk, usahakan tetap menyisihkan waktu untuk sekadar bertanya kabar, melakukan panggilan video, atau bertemu langsung sesekali.

5. Rawat tubuh, rawat pikiran
Kesehatan fisik dan mental saling terkait. WHO menyebutkan bahwa kurang tidur dan kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian lain menunjukkan olahraga ringan selama 30 menit, tiga sampai lima kali seminggu, dapat membantu menurunkan gejala stres dan memperbaiki suasana hati. Olahraga teratur, makan bergizi, dan cukup tidur membantu menjaga keseimbangan hormon stres. Tubuh yang sehat memberi energi yang lebih stabil, sehingga kamu lebih mudah mengendalikan emosi dan berpikir jernih saat menghadapi masalah.

Menjaga pikiran tetap sehat bukan tentang berhenti punya kesibukan. Kamu justru belajar menata prioritas dan memberi ruang bagi diri sendiri di tengah aktivitas. Kesibukan memang sulit dihindari, apalagi bagi mahasiswa yang aktif atau pekerja dengan jadwal padat. Namun, dengan kebiasaan kecil yang konsisten seperti mengatur pagi hari, membatasi jam kerja, mengenali tanda stres, merawat hubungan, dan menjaga tubuh, kamu bisa tetap tenang, fokus, dan lebih siap menghadapi hari-hari yang penuh tuntutan.

Penulis: Aqil Ramadhan Lesmana
Instansi: Universitas Airlangga

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.